Penerapan Teori-teori Bahaviorisme dan Teori Kognitif dalam Pembelajaran Bahasa

Nurul Ilma

105104080

Tugas Ketiga Psikolinguistik

Penerapan Teori-teori Bahaviorisme dan Teori Kognitif dalam Pembelajaran Bahasa

  1. Teori-teori stimulus respon
    1. Teori Pembiasaan Klasik dari Pavlov

Berdasarkan hasil eksperimennya, Pavlov beranggapan bahwa pembelajaran merupakan rangkaian panjang dari respon-respon yang dibiasakan (RD). Menurut teori Pembiasaan Klasik ini kemampuan seseorang untuk membentuk respon-respon yang dibiasakan berhubungan erat dengan jenis sistem yang digunakan. Teori ini percaya adanya perbedaan-perbedaan yang dibawa sejak lahir dalam kemampuan belajar. RD dapat diperkuat dengan ulangan-ulangan teratur dan intensif. Pavlov tidak tertarik dengan “pengertian” atau “pemahaman” atau yang disebut insight (kecepatan melihat hubungan-hubungan di dalam pikiran). Akhirnya bisa dikatakan bagi Pavlov respon yang dibiasakan adalah unit dasar pembelajaran yang paling baik.

 

  1. Teori Penghubungan dari Thorndike

Dari hasil eksperimennya, Thorndike berpendapat bahwa pembelajaran merupakan suatu proses menghubung-hubungkan di dalam sistem saraf dan tidak ada hubungannya dengan insight atau pengertian. Karena itu, teori pembelajarannya disebut connectionism atau S-R bond theory (teori gabungan stimulus-respon). Thorndike merumuskan dua kaidah hukum yang utama, yaitu the law of exercise (hukum latihan), dan the law of effect (hukum akibat). Yang dimaksud dengan hukum latihan adalah hukum pembentukan kebiasaan atau tabiat. Sedangkan yang dimaksud dengan hukum akibat adalah tidak lain dari yang sekarang kita kenal dengan istilah reinforcement atau penguatan.

 

  1. Teori Behaviorisme dari Watson

Dalam pembelajaran yang didasarkan pada hubungan stimulus-respon, Watson mengemukakan dua prinsip penting yaitu prinsip kebaruan dan prinsip frekuensi. Menurut prinsip kebaruan jika suatu stimulus baru saja menimbulkan respon, maka kemungkinan stimulus itu untuk menimbulkan respon yang sama apabila diberikan umpan lagi akan lebih besar daripada kalau stimulus itu diberikan umpan setelah lama berselang. Menurut prinsip frekuensi apabila suatu stimulus dibuat lebih sering menimbulkan satu respon, maka kemungkinan stimulus itu akan menimbulkan respon yang sama pada waktu yang lain akan lebih besar.

 

  1. Teori Kesegaran dari Guthrie

Guthrie berpendapat bahwa pembelajaran tidak berlangsung secara perlahan-lahan atau berangsur-angsur, tetapi secara coba-tunggal. Oleh karena itu, latihan dan ulangan diperlukan untuk membiasakan stimulus baru untuk menimbulkan respon yang dikehendaki. Dalam pembelajaran bahasa asing, misalnya, setiap bagian dari kalimat yang betul harus diusahakan agar berhubungan stimulusnya, sehingga sebuah kalimat yang betul akan berkembang melalui latihan.

Pembelajaran coba-tunggal yang dianjurkan oleh Guthrie ini memerlukan pengaturan keadaan sedemikian rupa sehingga stimulus-stimulus yang diberikan haruslah menimbulkan respon-respon yang betul. Oleh karena itu, kesalahan-kesalahan haruslah dihilangkan dengan cara mengkaji stimulus itu dengan saksama agar menimbulkan respon yang betul bersama-sama dengan stimulusnya.

 

  1. Teori Mediasi dari Osgood

Osgood telah menjelaskan proses pemerolehan semantic (makna) berdasarkan teori mediasi atau penengah ini. Menurutnya, makan merupakan hasil proses pembelajaran dan pengalaman seseorang dan merupakan satu proses mediasi untuk melambangkan sesuatu.mkana sebagai proses mediasi pelambang dan merupakan satu bagian yang distingtif dari keseluruhanrespon terhadap satu objek yang telah dibiasakan pada kata untuk objek itu. Makna ini sebagai satu proses mediasi untuk merangsang seseorang memberikan respon dengan cara tertentu pada objek asli, terutama memberikan respon linguitik (bahasa).

Osgood juga memperkenalkan konsep sign (tanda atau isyarat) sehubungan dengan makna imi. Menurut teori perilaku Osgood ini, maka semua sign baik dlaam linguisitk ataupun bukan, bergantung pada proses-proses mediasi pelambang atau penengah pelambang. Proses-proses mediasi pelambang ini berkembang melalui hubungan yang terjadi antara sign dengan objek dan peristiwa yang terjadi ketika manusia berinteraksi.

  1. Teori-teori Kognitif
    1. Teori Behaviorisme Purposif dari Tolman

Teori behaviorisme purposif yang diperkenalkan oleh Tolman mengajarkan bahwa apabila suatu rangsangan tertentu menimbulkan respon tertentu, maka akan kita lihat rangsangan itu dalam perspektif yang baru. Umpamanya, pada waktu di SD atau SLTP kita diajar untuk selalu berlaku sopan dan menghormati guru. Sebagai akibatnya bila kita berhadapan dengan dosen atau guru besar di perguruan tinggi (berupa rangsangan), maka kita juga akan berlaku sopan, hormat dan diam mendengarkan kuliahnya (berupa respon). Namun, dosen atau guru besar itu mungkin akan marah jika kita bersikap demikian, karena masih dianggapnya sebagai kanak-kanak, bukan mahasiswa. Kita dituntut untuk lebih terbuka, lebih banyak berbicara, atau tidak terlalu bersiat formal. Di sini kita melihat keadaan dalam perspektif yang baru, dan sebagai akibatnya kognisi kita akan membuat respon yang baru pula.

 

  1. Teori Medan Gestalt dari Wertheimer

Menurut Wertheimer, teori pembelajaran hanya mungkin mempunyai makna jika kesadaran diikutsertakan sebagai satu unsur yang tidak dapat dipisahkan dari persepsi dan pembelajaran. Dalam hukum kesamaan mengenai pembalajaran bahasa, kata-kata atau suku kata yang mempunyai persamaan lebih mudah dipelajari daripada kata-kata atau suku kata yang tidak mempunyai persamaan. Adanya persamaan pada data linguitik ini memudahkan proses pembelajaran bahasa, baik dalam belajar bahasa pertama maupun bahasa kedua.

Dalam hukum proksimiti atau kedekatan mengenai pembalajaran bahasa adalah kata-kata atau frasa-frasa dan ungkapan-ungkapan yang bersamaan maknanya hendaklah muncul bersama-sama dalam masa-masa yang teratur menuruti hukum proksimiti agar lebih mudah dipelajari dan diingat.

 

  1. Teori Medan dari Lewin

Umpamanya, seseorang setelah mengamati ruang penghidupannya berdasarkan keperluan-keperluannya telah merasa tertarik pada sesuatu tujuan tertentu yang berkaitan dengan keperluannyaitu, tetapi dlam usahanya untuk mencapai tujuan itu muncul suatu halangan yang menghambat tercapainya tujuan itu. Maka halangan ini akan membangkitkan berbagai ketegangan yang bisa menimbulakn berbagai pengaruh atau akibat sesuai dengan keadaan ruang penghidupan individu itu. Akibat dari ketegangan ini mungkin seseorang itu akan mencari tujuan lain yang lebih menarik. Atau juga dia akan meninggalkan tujuannya itu untuk sementara waktu atau untuk selamanya.

 

  1. Teori Perkembangan Kognitif dari Piaget

Piaget berpendapat bahwa pemerolehan bahasa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan kognitif secara keseluruhan dan khususnya sebagai bagian dari kerangka fungsi simbolik. Dengan kata lain, baginya bahasa merupakan hasil dari perkembangan intelek secara keseluruhan dan sebagai lanjutan pola-pola perilaku yang sederhana. Perkembangan kosa kata yang sangat pesat dialami kanak-kanak ketika berumur antara satu setengah sampai dua tahun, dijelaskan oleh Piaget sebagai hasil dari peralihan intelek kepada representasi akal (mental).

 

  1. Teori Genetik Kognitif dari Chomsky

Dalam proses pemerolehan bahasa, tugas kanak-kanak dengan alat yang dimilikinya (LAD) adalah menentukan bahasa masyarakat manakah masukan kalimat-kalimat yang didengarnya itu akan dimasukkan. Struktur awal atau skema nurani yang dimilikinya semakin diperkaya setelah “bertemu” dengan masukan dari bahasa masyarakatnya (bahasa ibunya), dan anak-anak akan membentuk teori tata bahasanya berdasarkan itu. Tata bahasa itu terus-menerus disempurnakan berdasarkan masukan yang semakin banyak, dansesuai dengna proses pematangan otaknya. Sesudah mencapai umur tiga atau empat tahun, tata bahasa ini sudah hampir sama baiknya dengan tata bahasa yang dimiliki oleh orang dewasa.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s