Lebih Dahulu Berbahasa atau Berpikir

Tugas Pertama

PSIKOLINGUISTIK

 

Nama            : Ruslan

NIM               : 105104076

Kelas                        : C

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

 

 

Soal-Soal:

  1. Manakah yang lebih dahulu berpikir atau berbahasa?
  2. Betulkah pendapat Goris Keraf tentang pengertian berbahasa?
  3. Bagaimana dengan bahasa bayi, hewan, orang bisu, bunyi klakson, bunyi bedug? Apakah itu termasuk bahasa?

Jawab:

  1. Manakah yang lebih dahulu berpikir atau berbahasa?

Memang agak sukar menjawab pertanyaan ini. Tetapi secara umum, berdasarkan kutub-kutub pendapat tentang keterkaitan bahasa dan pikiran yang telah dibuat oleh Mahmudah (2012: 39—40) berikut ini patut untuk dipertimbangkan. Pertama, Bahasa memengaruhi pikiran, artinya berbahasa lebih dahulu, setelah itu berpikir. Pandangan ini didukung oleh Edward Saphir dan muridnya, Benyamin Whorf. Dalam hal ini, contoh yang diangkat adalah kondisi orang Jepang yang mempunyai pikiran yang sangat tinggi karena keluasan kosa kata dalam menjelaskan realitas yang banyak pula. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa pikiran memengaruhi bahasa. Jean Piaget, tokoh psikologi kognitif adalah pendukung pendapat ini. Beliau bertumpu pada simpulan observasinya yang menunjukkan bahwa perkembangan bahasa yang digunakan seorang anak dipengaruhi oleh perkembangan aspek kognitifnya. Ketiga, teori yang mengatakan bahwa bahasa dan pikiran saling memengaruhi. Teori ini dicetuskan oleh Benyamin Vigotsky, yang merupakan pembaharu teori Piaget. Tenyata, teori ini justru lebih banyak diterima oleh kalangan psikologi kognitif sendiri.

Teori-teori di atas memang cukup rumit, tetapi dalam hal ini, penulis lebih menitikberatkan pandangan pada pendapat yang terakhir, yaitu bahasa dan pikiran saling memengaruhi, tanpa menyepelekan pendapat para ahli yang lain. Penulis setuju dengan pendapat Edward Saphir dan muridnya begitu pula dengan pendapat Jean Piaget. Menurut hemat penulis, pada fase awal, usia anak-anak, boleh jadi pikiranlah yang memengaruhi bahasa. Seperti yang dikemukakan oleh Piaget (dalam Mahmudah, 2012: 32) bahwa bahasa tidak ada tanpa pikiran. Pikiranlah penentu aspek-aspek sintkasis dan leksikon bahasa. Hal ini dikuatkan oleh salah satu ciri bahasa—seperti yang dikemukakan oleh Abdul Chaer—bahasa itu bermakna. Nah, untuk memahami bahasa atau untuk menyampaikan suatu konsep, ide, atau pikiran dalam bentuk ujaran bahasa tentu seseorang harus berpikir lebih dahulu. Di sisi lain, pendapat yang mengatakan bahasa memengaruhi pikiran, juga tidak salah. Von Humboldt (dalam Mahmudah, 2012: 30) juga menegaskan bahwa struktur suatu bahasa menyatakan kehidupan dalam otak  penutur bahasa itu. Lebih lanjut dikatakan bahwa  untuk megubah pandangan hidup maka pelajarilah bahasa lain terlebih dahulu. Menurut penulis, hal ini terjadi pada fase perkembangan selanjutnya, setelah fase anak-anak. Intinya, penulis lebih sepaham dengan pendapat ketiga, yaitu bahasa dan pikiran saling memengaruhi.

  1. Betulkah pendapat Goris Keraf tentang pengertian bahasa?

Goris Keraf adalah  tokoh linguistik modern yang mengarang buku Tata Bahasa Indonesia sehingga fobia linguistik modern sedikit agak berkurang pada masa beliau. Dalam ilmu bahasa, beliau juga memberikan definisi tentang bahasa, yaitualat komunikasi antara masyarakat, berupa lambang bunyi suara, yang dihasikan oleh alat ucap manusia (Wardihan, 2010: 4). Definisi ini menarik untuk dikaji. Benarkah bahasa ituadalah semua lambang bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia? Masalah yang satu ini ternyata telah dikaji jauh-jauh hari oleh mereka yang berkecimpung dalam bidang linguistik. Setidaknya penulis memiliki dua rujukan, yaitu buku Pengantar Linguistik oleh A. Wardihan P. dan buku Linguistik Umum oleh Abdul Chaer.

Definisi yang dikemukakan oleh Keraf ini masih terlalu luas. Keluasan definisi itu dapat dianalisis sebagai berikut.

  1. Keluasan fungsi

Dikatakan bahwa “bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat.” Batasan ini jelas sangat luas. Jika dibalik, menggunakan konsep definisi formal yang dikemukakan oleh Abdul Chaer dalam Pengantar Semantik Bahasa Indonesia halaman 53—54, akan tampak kalimat “alat komunikasi antara anggota masyarakat adalah bahasa.” Nah, kacau bukan? Mengapa demikian? Karena dari definisi ini dapat dikatakan bahwa bedug yang digunakan untuk memberitahu khalayak bahwa waktu salat telah masuk dan kentongan yang digunakan untuk memberitahu kondisi suatu desa/wilayah, divonis sebagai bahasa. Di  sini letak kekacauannya.

  1. Keluasan tanda

Penulis kembali mengutip definisi yang dikemukakan oleh Keraf “berupa lambang bunyi suara”. Batasan ini juga terlalu luas karena tanda yang dimaksud dalam bahasa bukan hanya tanda bahasa (linguistic sign), tetapi juga tanda-tanda lain, termasuk gestur (Wardihan, 2010: 5).

  1. Keluasan hasil alat ucap

Kutipan terakhir dari pendapat Keraf adalah “yang dihasikan oleh alat ucap manusia”. Memang disadari bahwa bahasa itu manusiawi, bahwa jika disinggung soal bahasa, pasti yang dimaksud adalah bahasa manusia, bukan sesuatu yang dihasilkan oleh alat ucapbinatang. Namun, dari bagian definisi Keraf ini terdapat bagian yang juga masih terlalu luas karena bisa dikatakan semua suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia adalah bahasa, termasuklah di dalamnya bunyi siul, batuk, ngorok, dan sebagainya divonis sebagai bahasa. Ini kekacauan yang terakhir.

  1. Bagaimana dengan bahasa bayi, hewan, orang bisu, bunyi klakson, bunyi bedug? Apakah itu termasuk bahasa?

Untuk menjawab pertanyaan ini penulis kembali merujuk pada hakikat bahasa itu sendiri. Berikut ini akan dikemukakan dua saja ciri bahasa yang akan memperjelas pemahaman tentang definisi bahasa itu sebenarnya.

  1. Bahasa itu manusiawi

Jika ciri ini diterima, otomatis bahasa hewan, bunyi klakson, dan bunyi bedug—seperti yang ada pada soal—bukanlah bahasa. Adapun binatang, walaupun ia dapat berkomunikasi dengan sesamanya bahkan dengan manusia sendiri, seperti pada burung beo, anjing, kucing, lumba-lumba, dan monyet, tetap berbeda dengan alat komunikasi manusia, yaitu bahasa. Alat komunikasi manusia hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia, berkembang, dan dapat digunakan untuk menyatakan konsep-konsep baru yang melibatkan pikiran sedangkan alat komuniksi pada binatang sangat terbatas pada pemenuhan makanan, pertahanan diri, dan kebutuhan biologis lainnya. Alat komunikasi binatang hanya itu-itu saja dan statis, tidak dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baru (Chaer, 2007: 57).

  1. Bahasa itu bunyi

Kridalakasana (dalam Chaer, 2007: 42) menyatakan bahwa bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Tetapi definisi ini adalah pemaknaan umum, berlaku pula pada binatang. Lalu, yang dimaksud dengan bunyi dalam kajian bahasa adalah bunyi pada bahasa atau lambang bahasa adalah  bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Tetapi juga tidak semua bunyi yang lahir dari alat ucap manusia adalah bunyi bahasa, seperti bahasa bayi, orang bisu, bersin, dan batuk karena hal ini tidak termasuk dalam sistem bunyi bahasa. Apakah bunyi bahasa itu? Abdul Chaer memberikan definisi bahwa bunyi bahasa adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang di dalam fonetik diamati sebagai “fon” dan di dalam “fonemik” diamati sebagai fonem. Walaupun demikian, tulisan atau bahasa tulis juga merupakan bahasa karena tulisan adalah hasil “rekaman” (meminjam istilah Chaer) dari bahasa lisan itu sendiri, tetapi bahasa tulis ini hanya bersifat sekunder.Terakhir, penulis mengutip pendapat Abdul Chaer tentang definisi bahasa secara lengkap.Beliau mengatakan bahwa bahasa itu adalah sistem lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, bersifat arbitrer, bermakna, dan produktif.

Daftar Pustaka

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

————. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Mahmudah. 2012. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Makassar: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar.

Patombongi, Andi Wardihan. 2010. Pengantar Linguistik. Makassar: Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s