LATIFAH DAMAYANTI

Nama : Latifah Damayanti

NIM    : 105104061

Tugas Psikolinguistik

Menganalisis percakapan berdasarkan teori-teori linguistik.

Tempat           : Kampus

Tanggal           : 12 April 2012

Waktu             : Pukul 15.35 Wita

Pelaku             :Neya dan Miya (2 orang)

Traskrip Hasil Percakapan :

Neya   : Miya, dak mauki temanika pergi beli didepan kampus?

Miya    : iya, ayomi.

Neya   : Adaji itu dijual nah?

Miya    : Apakah mau mu beli?

Neya   : Pacar, yang warna merah.

Miya    : Wich.. saya juga mau, tapi dak ada kubawa uang.

Neya   : (menyodorkan uang).

Analisis :

Teori Ferdinand De Saussure

De Seassure menjelaskan bahwa prilaku bertutur atau tindak tutur sebagai salah satu rangkaian hubungan antara dua orang atau lebih, seperti percakapan antara Neya dan Miya. Jika Neya berbicara maka Miya menjadi pendengar begitupun sebaliknya.

Perilaku bertutur ini terdiri dari dua bagian kegiatan yaitu bagian luar dan bagian dalam. Bagian luar dibatasi oleh mulut dan telinga sedangkan bagian dalam oleh jiwa atau akal yang terdapat dalam otak pembicara dan pendengar.

Didalam otak penutur Neya terdapat konsep-konsep atau fakta-fakta mengenai mental yang dihubungkan dengan bunyi-bunyi linguistik sebagai perwujudannya yang digunakan untuk melahirkan atau mengeluarkan konsep-konsep tersebut. Baik konsep maupun imaji bunyi itu terletak dalam satu tempat yaitu dipusat penghubung yang berada di otak. Seperti pada percakapan berikut:

Neya   : Miya, dak mauki temanika pergi beli didepan kampus?

Miya    : iya, ayomi.

 

Jika penutur Neya mengatakan “Miya, dak mauki temanika pergi beli didepan kampus?”Miya, maka sebelumnya ia harus “membukakan” pintu kepada perwujudannya yang berupa imaji bunyi yang masih berada dalam otak dan merupakan fenomena psikologis. Kemudian dengan terbukanya pintu imaji bunyi ini, otak pun mengirim satu implus yang sama dengan imaji itu kepada alat-alat ucap yang mengeluarkan bunyi; ini merupakan proses fisiologis. Kemudian gelombang bunyi itu bergerak dari mulut Neya melewati udara ke telinga Miya; dan ini merupakan proses fisik. Dari telinga Miya gelombang bunyi terus bergerak masuk ke otak Miya dalam bentuk implus. Lalu terjadilah proses psikologis yang menghubungkan imaji bunyi ini dengan konsep yang sama, seperti yang ada dalam otak Neya. Apabila Miya berbicara dan Neya mendengarkan, maka proses yang sama akan terjadi pula.

v Teori Leonard Bloomfield

Menurut Bloomfield, unsur-unsur linguistik diterangkan berdasarkan distribusi unsur-unsur di dalam lingkungannya di mana unsur-unsur itu berada. Teori linguistik Bloomfield juga terdapat pada percakapan di atas, seperti halnya dengan anekdot Jack and Jill yang pernah ia kemukakan.

Miya    : Wich.. saya juga mau, tapi dak ada kubawa uang.

Neya   : (menyodorkan uang).

dapat disimpulkan bahwa, Miya juga ingin membeli apa yang dibeli oleh Neya. Neya paham maksud Miya lalu Neya menyodorkan uang kepada Miya.

Secara skematis peristiwa itu dapat digambarkan sebagai berikut:

 

S                                      r……………………………..s                                             R

(1)                        (2)       (3)                                       (4)            (5)            (6)          (7)

Penjelasan:

(1)   Miya Juga ingin membeli apa yang dibeli oleh Neya (S=stimulus).

(2)   Otak Miya mulai bekerja ketika menyetakan tentang keinginannya.

(3)   Perilaku atau kegiatan Miya sewaktu berkata kepada Neya (r=respons).

(4)   Bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan Miya waktu berbicara kepada Neya.

(5)   Perilaku atau kegiatan Neya sewaktu mendengarkan bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan Miya (S=stimulus).

(6)   Otak Neya bekerja mulai dari mendengar bunyi suara Miya sampai bertindak.

(7)   Neya bertindak menyodorkan uang, memberikannya kepada Miya (R=respons)

Nomor (3), (4), dan (5) yairu (r s) adalah lambing atau perilaku berbahasa yang dapat diobservasi secara fisiologis, sedangkan yang dapat diamati atau diperiksa secara fisik hanyalah nomor (4).

Teori John Rupert Firth

struktur bahasa itu terdiri atas lima tingkatan yaitu tingkatan fonetis, leksikon, morfologi, sintaksis, dan semantis. Firth lebih memerhatikan pada tingkatan fonetik dan tingkatan semantik sedangkan tingkatan lain kurang diperhatikan. contohnya pada penggalan percakapan di bawah ini:

Miya    : Apakah mau mu beli?

Neya  : Pacar, yang warna merah.

Berdasarkan arti sintagmatik, kata “pacar” mengandung beberapa makna tergantung konteks kalimatnya. Yaitu: pacar dalam artian sebenarnya, bisa juga pacar dalam artian pewarna kuku alami.

Berdasarkan arti paradigmatik, kata “pacar” yang sesuai dengan konteks percakapan di atas adalah makna yang kedua atau dalam artian artian pewarna kuku alami. Hal ini terlihat pada kata-kata  selanjutnya yaitu:  yang warna merah.

Salah satu dimensi arti dari lima dimensi seperti yang disebutkan di atas adalah dimensi hubungan kata-kata, hal ini tidak boleh dipisahkan dari konteks situasi dan budaya. Arti satu tergantung dari kolokasi yang mungkin dari kata itu.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s