RISKI AMALIYAH 105104084

ANALISIS PERCAKAPAN DENGAN TEORI LINGUISTIK

Di bawah ini adalah percakapan antara Selvi dan Anto. Di mana Selvi melihat Anto yang sedang sibuk mencari sesuatu.

Selvi       : Lagi ngapainq?

Anto      : Lagi mencari-cari kertas

Selvi       : Kertas apa yang qita’ cari?

Anto      : Kertas bekas

Selvi       : Mauq apaq?

Anto      : Ada temanku lagi butuh bantuan untuk mengumpulkan kertas sama daun sebanyak mungkin.

Selvi       : Ha….. sembarangnya, kalau koran bekas iya mauq, kalau mau? Banyak dirumah koran bekas.

Anto      : Blumpi saya tanya juga detailnya kertas yang bagaimana dia cari.

Selvi       : Ow, mauq dia apakan?

Anto      : Tidak dia tanyaka mau dia apakan itu kertas.

Berdasarkan percakapan di atas jika dilihat dari teori Linguistik yaitu teori Ferdinand De Saussure, teori Leonard Bloomfield, Teori John Rupert Firth, dan Teori Noam Chomsky.

Berikut akan dibahas lebih lanjut percakapan yang di atas dengan melihat dari sudut pandang teori linguistik.

1.       Teori Ferdinand De Saussure

De Saussure menjelaskan bahwa perilaku bertutur atau tindak tutur (speech act) sebagai satu rangkaian hubungan antara dua orang atau lebih, seperti antara A dengan B. Perilaku bertutur ini terdiri dari dua bagian kegiatan yaitu bagian-luar dan bagian-dalam. Bagian-luar dibatasi oleh mulut dan telinga sedangkan bagian-dalam oleh jiwa atau akal yang terdapat dalam otak pembicara dan pendengar. Jika A berbicara maka B menjadi pendengar, dan jika Berbicara maka A menjadi pendengar.

                De Saussure membedakan antara parole, langue, dan langage. Ketiganya bisa dipadankan dengan kata “bahasa” dalam bahasa Indonesia, tetapi dengan pengertian yang sangat berbeda.

Parole adalah bahasa yang konkret yang keluar dari mulut seorang pembicara. Jadi, karena sifatnya yang konkret itu maka parole itu bisa didengar.

Contoh :

Selvi  : lagi ngapainq?

Anto  : lagi mencari-cari kertas

  Jika di lihat pada percakapan di atas, pertanyaan yang diutarakan Selvi kepada Anto sifatnya konkret sehingga Anto dapat mengerti apa yang diucapkan oleh Selvi dan meresponya dengan menjawab pertanyaan Selvi.

Langue adalah bahasa tertentu sebagai satu sistem tertentu seperti bahasa Inggris atau bahasa Jawa menggunakan istilah bahasa. Jadi, sifatnya abstrak; hanya ada dalam otak penutur bahasa yang bersangkutan.

Contoh :

Selvi  : kertas apa yang qita’ cari?

Anto  : kertas bekas

Pada percakapan di atas Selvi menggunakan langue, yaitu dia menggunakan logat Makassar seperti pada kata ‘qita’. Kata ‘qita’ di sini mengandung makna ‘anda’ dan sapaan ini digunakan sebagai penghargaan terhadap orang lain atau di anggap lebih sopan pada bahasa Makassar. Dan karena si Anto juga orang Makassar maka dia juga mengerti dengan  bahasa Selvi. Akan tetapi jika si Selvi berbicara dengan selain orang Makassar maka belum tentu mitra tuturnya akan mengerti dengan ucapannya.

Langage adalah bahasa pada umumnya sebagai alat interaksi manusia seperti tampak dalam kalimat “Manusia punya bahasa, binatang tidak”. Jadi, langage ini juga bersifat abstrak. Jadi, Langue dapat juga diartikan sebagai penanda suatu bunyi , ketika pembicara menyebutkan suatu kata maka dalam benak pendengar akan merujuk pada sebuah benda.

Contoh :

Anto              :  Ada temanku lagi butuh bantuan untuk mengumpulkan kertas sama daun  sebanyak mungkin.

Selvi              : Hahaha….. sembarangnya, kalau Koran bekas iya mauq, kalau mau? Banyak dirumah Koran bekas.

Pada percakapan di atas Selvi tertawa karena ketika Anto menyebutkan “untuk mengumpulkan kertas sama daun sebanyak mungkin” secara otomatis di benak Selvi tergambar tumpukan daun dan kertas bekas yang dia anggap sampah. Selvi merasa heran dan lucu mengapa ada orang yang repot-repot mengumpulkan sampah.

2.       Teori Leonard Bloomfield

Unsur  linguistik diterangkannya berdasarkan  distribusi unsur-unsur  tersebut di dalam lingkungan (environment), di mana  unsur-unsur  itu berada. Distribusi dapat diamati secara langsung sedangkan makna tidak dapat.

                Teori linguistik Bloomfield ini akan bisa diterangkan dengan lebih jelas jika di anekdotkan dengan percakapan di atas. Secara skematis percakapan di atas dapat digambarkan sebagai berikut.

S ……………………….             r………………………………………s               ……………………..          R

(1)                          (2)          (3)                                              (4)            (5)                       (6)       (7)

PENJELASAN

1)      Selvi melihat Anto (S=stimulus)

2)      Otak Selvi bekerja mulai dari melihat gerak-gerik Anto hingga bertanya kepada Anto.

3)      Perilaku atau kegiatan Selvi ketika bertanya kepada Anto. (r= respon)

4)      Bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan Selvi waktu berbicara kepada Anto (……)

5)      Perilaku atau jawaban Anto sewaktu mendengarkan bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan Selvi. (s=stimulus)

6)      Otak Anto mulai bekerja mulai dari mendengar bunyi suara Selvi sampai menjawab.

7)      Jack berusaha menjawab pertanyaan Selvi walaupun sambil mencari kertas bekas. (R= respons)

 3.       Teori John Rupert Firth

Menurut Firth struktur bahasa itu terdiri dari lima tingkatan, yaitu tingkatan fonetik, leksikon, morfologi, sintaksis, dan semantik. Namun Firth lebih memusatkan perhatian pada tingkatan fonetik dan tingkatan semantik, sedangkan tingkatan lain kurang diperhatikan.

Arti atau makna menurut Firth adalah hubungan antara satu unsur  pada satu tingkatan dengan konteks unsur itu pada tingkatan yang sama. Jadi, arti tiap kalimat terdiri dari lima dimensi, yaitu:

  1. Hubungan tiap fonem dengan konteks fonetiknya (hubungan fonem satu sama lain dalam kata).

Contoh:         Anto     : kertas bekas

Disini hubungan kata bekas dengan kertas yaitu menjelaskan bahwa kertas yang dicari bukan lagi kertas yang tidak pernah digunakan tetapi kertass yang telah digunakan.

2. Hubungan kata-kata satu sama lain dalam kalimat.

Contoh:        Selvi      : kertas apa yang qita’ cari?

                   Anto      : kertas bekas

Pada percakapan di atas hubungan kata satu sama lain saling mendukung dalam menyampaikan pertanyaan dan jawaban yang sesuai dengan maknanya.

3. Hubungan morfem pada satu kata dengan morfem yang sama pada kata lain, dan hubungannya dengan kata lain.

Contoh:        Hubungan antara kata mencari dengan kata mengumpulkan

Hubungan antara kata mencari dengan kata mengumpulkan ialah sama-sama mengunakan morfem me- yang bermakna melakukan sesuatu.

4. Jenis kalimat dan bagaimana kalimat itu digolongkan.

Contoh:      Selvi      : lagi ngapainq?

                  Anto      : lagi mencari-cari kertas.

Kalimat yang diungkapkan oleh Selvi merupakan ke dalam kalimat Tanya sedangkan kalimat yang diungkapkan oleh Anto merupakan kalimat pernyataan.

5. Hubungan kalimat dengan konteks situasi.

Contoh:        Anto      :  Ada temanku lagi butuh bantuan untuk mengumpulkan kertas sama daun sebanyak mungkin

Di sini hubungan kalimat dengan konteks situasi yaitu karena temannya ingin mengumpulkan kertas dan daun maka Anto membantunya mengumpulkan kertas bekas yang ada dirumahnya.

4.        Teori Noam Chomsky

Menurut Chomsky perkembangan teori linguistik dan psikologi yang sangat penting dan perlu diingat dalam pengajaran bahasa adalah sebagai berikut.

  1. Aspek kreatif penggunaan bahasa.

Contoh :       Selvi      : lagi ngapainq?

Di sini Selvi berusaha menciptakan suatu pertanyaan kepada Anto tanpa adanya ransangan sebelumnya dari Anto, artinya Selvi memiliki inisiatif sendiri.

  2.  Keabstrakan lambang-lambang linguistik.

Contoh:        Anto      : Ada temanku lagi butuh bantuan untuk mengumpulkan kertas sama daun sebanyak mungkin

Kalimat yang diungkapkan oleh Anto bersifat abstrak karena jika dilihat dari makna sebenarnya adalah temannya membutuhkan bantuan dalam mengumpulkan kertas bekas dan daun. Di sisi lain, sebenarnya yang ingin diungkapkan adalah karena temannya butuh bantuan maka dia membantunya untuk mengumpulkan kertas bekas.

  3. Keuniversalan struktur dasar linguistik.

Contoh:        Selvi      : lagi ngapainq?

Contoh di atas merupakan hal yang umum atau universal diucapkan oleh seseorang ketika ingin memulai suatu pembicaraan.

  4. Peranan organisasi intelek nurai  (struktur-dalam) di dalam proses kognitif/mental.

Contoh:        Selvi      : kertas apa yang qita’ cari?

                    Selvi      : lagi ngapainq?

Contoh di atas memiliki struktur dalam yaitu kalimat yang diungkapkan oleh seseorang karena adanya tata bahasa generatif  sedangkan struktur  luarnya yaitu tata bahasanya yang berbeda dengan daerah lain akibat pengaruh budaya Makassar yang ada pada lingkungan kehidupan sehari-hari Selvi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s