SUMIATI PUTRI NATALIA

Tugas 2 Psikolinguistik

Nama : Sumiati Putri Natalia

Kelas   : C

NIM    :105104072

 

Linguistik

  1. A.    Pengertian Linguistik

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) Linguistik adalah ilmu tentang bahasa. Kata linguistik berasal dari kata lingua (bahasa Latin) berarti bahasa. Kata lingua itu masih dapat dijumpa dalam bahasa-bahasa tertentu yang menyerap bahasa Latin, seperti: dalam bahasa Prancis digunakan kata langue dan langage; dalam bahasa Spayol digunakan kata langua; dan dalam bahasa Itali digunakan kata lingua. Selain itu, dalam bahasa Inggris yang dipinjam dalam bahasa Prancis, yang sekarang digunakan kata language.

  1. B.     Teori Linguistik

Berikut ini akan dijelaskan teori linguistik dan sebuah wacana yang akan dikai berdasarkan keempat teori tersebut.

Wacana:

Kemarin, Hajrah pergi menjual kue sebagai penggalangan  dana di organisasinya. Hajrah masuk ke sebuah kantor dan ruang seorang pegawai. Pegawai itu melihat dan ingin membeli kue yang Hajrah jual. Hajrah  langsung memberikan kue tersebut kepada pegawai itu. Kemudian menerima uang dari pegawai itu dan melanjutkan menjual kue.

1)      Teori Ferdinand De Saussure

Ferdinand De Saussure (1858-1913) adalah seorang linguis Swiss yang sering disebut-sebut sebagai Bapak atau Pelopor Linguistik Modern. Bukunya yang terkenal Course de Linguistique Generale (1916) diterbitkan oleh murid-muridnya, Bally dan Schehaye, berdasarkan catatan kuliah, setelah meninggal. De Saussure disebut sebagai “Bapak Linguistik Modern” karena pandangan-pandangannya yang baru mengenai studi bahasa yang dimuat dalam bukunya itu.

De Saussure menjelaskan bahwa perilaku bertutur atau tindak tutur sebagai suatu rangkaian hubungan antara dua orang atau lebih seperti dalam wacana berikut.

Perilaku bertutur ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian-luar dan bagian-dalam. Bagian-luar dibatasi oleh mulut dan telinga sedangkan bagian-dalam oleh iwa atau akal yang terdapat dalam otak pendengar atau pembicara. Seperti dalam wacana diatas jika Pegawai berbicara maka Hajrah menjadi pendengar, begitupun sebaliknya.

Jika kita mengkaji  wacana di atas berdasarkan teori ini berarti, Di dalam otak Hajrah terdapat konsep-konsep atau fakta-fakta mental yang dihubungkan dengan bunyi-bunyi linguistic senbagai perwujudannya yang digunakan untuk melahirkan atau mengeluarkan konsep-konsep tersebut. Baik konsep maupun imaji bunyi itu terletak dalam suatu tempat yaitu dipusat penghubung yang berada diotak. Ika Hajrah ingin mengemukakan sebuah konsep bahwa dia sementara menjual kue kepada pegawai itu, maka konsep itu “membukakan” pintu kepada perwujudannya yang berupa imaji bunyi yang masih berada dalam otak dan merupakan fenomena psikologis. Kemmudian dengan terbukanya pintu imaji  bunyi ini, otak pun mengirim suatu impuls yang sama dengan imai bunyi itu kepada alat alat ucap yang mengeluarkan bunyi; dan ini merupakan proses fisiologis. Kemudian gelombang bunyi itu bergerak ari mulut Hajrah melewati udara ke telinga Pegawai; dan ini merupakan proses fisik. Dari telinga pegawai gelombang bunyi bergerak terus masuk ke otak pegawai dalam bentuk impuls. Lalu terjadilah pula proses psikologis yang menghubungkan imaji bunyi ini dengan konsep yang sama, seperti yang ada dalam otak Hajrah. Apabila Pegawai lagi  yang berbicara dan Hajrah yang mendengar terjadi lagi proses yang sama.

 

 

 

 

 

 

Untuk lebih jelasnya seperti dalam table di bawah ini !

 

 
   

 

 

 

     K                                B

 

 

    K                                     B

 

 

 

audisi                                                                                                                    fonotasi

                               K= Konsep

                               B= Citra Bunyi            

 

 

fonotasi                                                                                                                    audisi

 

2)   Teori Leonard Bloomfield

Leonard Bloomfield (1887-1949) seorang tokoh linguistik Amerika, sebelum mengikuti aliran behaviorisme dari Watson dan Weiss, adalah seorang penganut paham mentalisme yang sejalan dengan teori psikologi Wundt. Kemudian beliau menentang mentalisme dan mengikuti aliran perilaku atau behaviorisme. Hal ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan linguistik Amerika, terutama di sekolah linguistik Yale yang didirikan menurut aarannya. Bloomfield menerangkan makna (semantik) dengan rumus-rumus behaviorisme.

Unsur-unsur linguistik diterangkan berdasarkan distribusi unsur-unsur di dalam lingkungan (environment) di mana unsur-unsur itu berada. Distribusi dapat diamati secara langsung sedangkan makna tidak dapat. 

Jadi wacana di atas dapat di kaji berdasarkan teori Bloomfield sebagai berikut:

 

Secara sistematis peristiwa ini dapat digambarkan sebagai berikut:

        S                                                    r………………..s                                                R

(1)                             (2)                 (3)                        (4)        (5)                    (6)        (7)

Penjelasan

(1)   Pegawai melihat kue yang dibawah oleh Hajrah (S=Stimulus)

(2)   Otak pegawai mulai bekerja ingin membeli dan berkata kepada Hajrah

(3)   Perilaku atau kegiatan Pegawai sewaktu berbicara kepada Hajrah

(4)   Bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan Pegawai waktu berbicara kepada Hajrah (…)

(5)   Perilaku atau kegiatan Hajrah sewaktu mendengarkan bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan Pegawai (s= stimulus)

(6)   Otak Hajrah bekerja mulai dari mendengarkan bunyi-bunyi atau suara Pegawai sampai bertindak.

(7)   Hajrah bertindak  mengambil kue dan memberikannya kepada pegawai tersebut kemudian menerima bayarannya. (R= respons)

 

Dari penjelasan di atas maka yang menjadi data linguistik bagi teori Bloomfield adalah perilaku berbahasa atau lambnga bahasa (r…………..s) dan hubungannya dengan makna (S…………….R).

3)      Teori John Rupert Firth

John Rupert Firth (1890-1960) adalah seorang linguis Inggris yang pada tahun 1944 mendirikan sekolah linguistik deskriptip di London. Menurut Firth dalam kajian linguistik yang paling penting adalah konteks. Dalam teori Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi.

Ada dua jenis perkembangan dalam ilmu linguistik yang selalu dikaitkan dengan Firth, yaitu (a) teori konteks situasi untuk menentukan arti, (b) analisis prosodi dalam fonologi. Teori konteks situasi ini menajadi dasar teori linguistik Firth; beliau menolak setiap usaha untuk memisahkan bahasa dari konteksnya dalam kehidupan manusia dan budaya. Firth menekankan bahwa makna merupakan jantung dari pengkaian bahasa. Semua analisis linguistik dan pernyataan-pernyataan tentang linguistik haruslah merupakan analisis dan pernyataan mengenai makna. Dalam hal ini beliau memperkenalkan dua kolokasi untuk menerangkan arti, yaitu arti gramatikal dan arti fonologis.

Sesuai dengan pernyataan atau teori ini maka wacana di atas dapat dikai sebagai berikut:

Berdasarkan arti gramatikal wacana di atas sudah tersusun sesuai dengan kaidah gramatika yaitu subsistem dalam organisasi di mana satuan-satuan bermakna bergabung membentuk satuan bermakna yang lebih besar. Di mana wacana di atas tersusun dari satuan-satuan kata yang membentuk kalimat  kemudian kalimat-kalimat itu membentuk sebuah paragrap.

Berdasarkan arti fonologi wacana di atas dapat menghasilkan bunyi-bunyi bahasa yang bermakna misalnya ketika terjadi percakapan antara Hajrah dan Pegawai itu saat menjual dan membeli kue.

Sebagai linguis Firth dikenal juga sebagai tokoh analisis prosodi atau fonologi prosodi. Menurut Firsh analisis prosodi dapat digunakan untuk menganalisis bahasa dan membuat pernyataan-pernyataan yang sistematis dari analisis ini yang didasarkan pada penelitian yang mendalam terhadap data bahasa serta menggunakan istilah-istilah dan kategorisasi yang sesuai.

Menurut teori Firth, prosodi adalah struktur kata beserta cirri-ciri khas lagu kata itu sebagai sifat-sifat abstraksi tersendiri dalam keseluruhan fonologi bahasa itu. Jadi yang termasuk kedalam fitur-fitur prosodi pada wacana diatas adalah sebagai berikut:

(1)      Jumlah suku kata

(2)      Hakikat suku katanya: terbuka  atau tertutup

(3)      Kualitas suku-suku kata

(4)      Urutan suku-suku kata

(5)      Urutan bunyi-bunyi vocal

(6)      Tempat, hakikat, dan kuantitas bunyi-bunyi penting,

(7)      Kualitas”gelap” atau “terang” dari suku-suku kata,

(8)      Cirri-ciri hakiki lagu suku kata dan juga potongan kalimat tempat kata itu terdapat,

(9)      Semua sifat yang menyangkut struktur suku kata, urutan suku kata, dan keharmonisan suku kata dalam kata, potongan kalimat, dan keseluruhan kalimat.

 

 

 

4)      Teori Noam Chomsky

 

Noam Chomsky adalah linguis Amerika yang dengan teori tata bahasa generatif transformasinya dianggap telah membuat satu sejarah baru dalam psikolinguistik. Menurut Chomsky untuk dapat menyusun tata bahasa dari suatu bahasa yang masih hidup haruslah ada suatu teori umum mengenai apa yang membentuk tata bahasa itu. Teori umum itu adalah suatu teori ilmiah yang disusun berdasarkan satu korpus ujaran yang dihasilkan oleh para bahasawan asli bahasa itu.

Teori linguistik Chomsky menyangkut adanya pasangan penutur-pendengar yang ideal dalam sebuah masyarakat tutur yang betul-betul merata dan sama. Keduanya, penutur dan pendengar itu, harus mengetahui dan menguasai bahasanya dengan baik. Terjadinya suatu tindak tutur memerlukan adanya interaksi dari berbagai faktor. Dalam hal ini kompetensi atau kecakapan linguistik dari penutur-penutur yang menyokong terjadinya tuturan tadi, hanyalah merupakan satu faktor saja.

Chomsky membedakan adanya kompetensi dan performansi. Kompetensi adalah pengetahuan penutur-pendengar mengenai bahasanya sedangkan Performansi adalah pelaksanaan berbahasa dalam bentuk menerbitkan kalimat-kalimat dalam keadaan yang nyata.

Berdasarkan teori Chomsky wacana di atas dapat dikaji sebagai berikut:

Dalam  wacana di atas terdapat penutur dan pendengar yaitu Hajrah sebagai penutur dan seorang Pegawai sebagai pendengar. Hajrah menyampaikan tujuannya dan menwarkan kue kepada pendengar dan pendengar langsung mengerti maksud dan tujuan Hajrah. Kemudian, terjadi percakapan tawar menawar antara Hajrah dan Pegawai itu karena masing-masing saling mengerti bahasa yang digunakan.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Mahmudah. 2012. Diktat Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Makassar.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s