NENNY MARDAENY 105104062

TRANSKRIP PERCAKAPAN ANTARA PENYIAR RADIO DAN PENELPON TENTANG “PENGUNDURAN DIRI MENTERI KESEHATAN ENDANG BAHRI”

 

Penyiar            : Ada yang mau ditanggapi?

Penelpon         : terkait tadi, apa, yang mengundurkan diri itu ya mbak, ya?

Penyiar            : Ya, Menteri Kesehatan itu ya Pak, ya, Endang Bahri.

Penelpon         : Saya pikir itu suatu hal yang manusiawi dan wajar itu!

Penyiar            : Hm… um….

Penelpon         : Cuman yang tidak wajar itu kalau terlalu banyak komentar-komentar yang kurang bagus, begitu ya?

Penyiar            : Hm… um….

Penelpon         : Tadi saya juga baca di salah satu, apa ya? Di Fajar itu.

Penyiar            : Iya Fajar hari ini.

Penelpon         : Kalau ada pengamat politik dari kota kita itu. Justru, hahaha… melihat bahwa bukan alasan kesehatan tapi alasan politik.

Penyiar            : Ya… ya… ada beberapa aspek yang menjadi polemik. Ada empat aspek gitu ya? Hahaha….

Penelpon         : Ini orang ini nggak bagaimana cara berpikirnya gitu ya?

Penyiar            : Hm… um….

Penyiar            : Orang sudah masih sakit. Masih di, masih apa ya? Dibikin jadi apa ya?

Penyiar            : Jadi menurut Pak Eko sendiri bahwa ini memang murni karena alasan kesehatan ya?

Penelpon         : Sesuatu yang baik itu ya? Kalau ada memang yang nggak, mungkin bukan nggak mampu, cuman kesehatannya nggak memenuhi apa ya?

Penyiar            : Alasannya memang ingin berkonsentrasi untuk pengobatannya.

Penelpon         : Saya pikir itu lebih baguslah. Cuman dari kita-kita ini jangan apa ya? Polemik macam-macam. Itu datangnya bukan karena alasan kesehatan, tapi karena politik nggak mampu apa itu? Saya pikir iniorang politik atau orang apa itu? Orang sudah terang-terangan dirawat di rumah sakit dengan penyakit begitu kok masih dibilangin bukan alasan kesehatan tapi alasan politik? Gimana kalau misalnya nggak diminta-minta beliau yang sakit Mbak tuh? Mengundurkan diri dari jabatan. Orang lain berkomentar. Loh dia mengundurkan diri bukan karena sakit, karena ini kan? Kan nggak menjadi apa ya? Komentar pada tempatnya! Liat realitanya! Kalau orang sakit, ya, terimalah kalau orang sakit gitu. Jangan bilang macem-macem. Alasan politiklah!

 

  • Analisis percakapan dengan teori-teori linguistik (Teori Ferdinand de Saussure, Leonard Bloomfield, John Rupert Firth, dan Noam Chomsky)

 

  • Menurut teori Ferdinand de Saussure, perilaku bertutur terdiri dari dua bagian kegiatan yaitu bagian-luar dan bagian-dalam. Bagian-luar dibatasi oleh mulut dan telinga sedangkan bagian dalam dibatasi oleh jiwa atau akal. De Saussure membedakan antara Parole, Langue,dan Langage. Ketiga istilah tersebut bisa dipadankan dengan kata “bahasa” dalam bahasa Indonesia, tetapi dengan pengertian yang sangat berbeda. Percakapan antara penyiar dan penelpon merupakan contoh dari istilah-istilah yang digunakan De Saussure. Ketika penyiar menciptakan bunyi-bunyi bahasa yang dapat didengar oleh penelpon tanpa memperdulikan makna bunyi-bunyi tersebut atau sekedar mendengar bunyi-bunyi tersebut maka hal itu merupakan parole.

Di dalam otak penyiar terdapat konsep-konsep atau fakta-fakta mental yang dihubungkan dengan bunyi-bunyilinguistik sebagai perwujudannya yang digunakan untuk melahirkan atau mengeluarkan konsep-konsep tersebut. Konsep itulah yang disebut sebagai langue. Sedangkan ketika konsep-konsep yang bersifat abstrak itu diwujudkan dalam bunyi-bunyi bahasa yang dapat didengar dan dimengerti oleh pendengar (penelpon), maka hal itu disebut sebagai langage.

  • Leonard Bloomfield yang menganut aliran behaviorisme (tingkah laku) ketika digunakan dalam menganalisis percakapan antara penyiar dan penelpon dapat dikaji dengan menggunakan S-R. Ketika penyiar diberikan stimulus bahwa ketika ia membawakan berita dengan baik, maka honornya akan ditambah. Ia akan merespon dengan membawakan berita tersebut dengan berusaha sebaik-baiknya.
  • Menurut teori John Rupert Firth, struktur bahasa terdiri dari lima tingkatan yaitu tingkatan fonetik, leksikon, morfologi, sintaksi, dan semantik. Setiap kata dalam percakapan antara penyiar dan penelpon memiliki hubungan fonem satu sama lain, terdapat pula hubungan antara setiap kata dengan kata lainnya dalam kalimat pada percakapan penyiar dan penelpon tersebut, begitu pun untuk proses pembentukan katanya yakni terdapatnya proses reduplikasi seperti pada kutipan: “Cuman yang tidak wajar itu kalau terlalu banyak komentar-komentar yang kurang bagus, begitu ya?”, tapi tidak terdapat hubungan morfem pada satu kata dengan morfem yang sama pada kata lain.
  • Menurut teori tata bahasa transformasi Noam Chomsky, pasangan penutur-pendengar akan ideal jika keduanya (penutur dan pendengar) mengetahui dan menguasai bahasanya dengan baik. Dalam hal ini, penutur dan pendengar tersebut memiliki kompetensi dan performansi yang sama. Kompetensi adalah pengetahuan yang dimiliki seorang penutur tentang bahasanya, sedangkan performansi adalah keterampilan seseorang dalam menggunakan bahasa.

Nah, dari percakapan tersebut, terlihat bahwa keduanya meruapakan pasangan penutur-pendengar yang ideal karena walaupun penelpon menggunakan bahasa yang tidak baku dan tidak terstruktur, tapi penyiar tersebut dapat mengerti dan melakukan performasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s