Nur Af Idah Halik_105104074_PBSI C 2010

Nur Af Idah Halik (105104074)

PERCAKAPAN ANTARA PENYIAR RADIO DAN PENELPON

 

Penyiar:      Oke. Jadi, saingan kuat kita selain mungkin tuan e…, Cina, juga ada Korea ya? Lalu, juga mendominasi ya? Iran, India juga saat ini sudah begitu kuat juga untuk…,

Penelpon:   E…, Iran masih di atas kita, tetapi bisalah kita kalau dengan Iran.

Penyiar:      Hmmm. India?

Penelpon:   India e…, sampai saat ini mereka di atas kita.

Penyiar:      Masih di atas kita juga ya?

Penelpon:   Iya.

Penyiar:      Iya dengan e…, latihan mungkin fisik dan latihan yang tetap rutin sama ini, komitmen. Hehehh. Mudah-mudahan jadi bisa meraih prestasi maksimal dan saat ini latihan dimana dilakukan Bu’?

Penelpon:   Di Bojonegoro.

Penyiar:      Oh, Bojonegoro ya? Tidak di APC Senayan ya?

Penelpon:   Nggak Pak.

Penyiar:      Dulu kan e…, pernah turut juga…, hahahha.

Penelpon:   Mau di, mau di aktifitas di sana tapi kita lihat lingkungan sudah tidak memenuhi untuk e…, untuk e…, mereka berlatih dengan baik lagi.

Penyiar:      Di sana sudah memenuhi, memenuhi sekali ya Bu’ ya?

Penelpon:   Kita anggap lebih baik dibandingkan dengan e…, di Senayan.

Penyiar:      Oke. Baik. Terima kasih Ibu Eliana sebagai menejer tim. Mudah-mudahan e…, tim pada Indonesia di olimpiade nanti bisa meraih maksimal untuk meraih, memperserahkan medali yang terbaik bagi kontingen Indonesia.

Penelpon:   Ya.

Penyiar:      Selamat sore. Salam olahraga Bu’ Eliana.

Penelpon:   Selamat sore.

 

Analisis Percakapan Berdasarkan Teori-teori Linguistik

  1. 1.    Teori Ferdinand de Saussure

Teori Ferdinand de Saussure menitikberatkan pada empat pandangan mengenai studi bahasa, yaitu (1) telaah sinkronik dan diakronik dalam studi bahasa; (2) perbedaan langue dan parole; (3) perbedaan signifianx dan signifie’, sebagai pembentuk signie’ linguistique; dan (4) hubungan sintagmatik dan hubungan asosiatif atau paradigmatik. De Saussure juga menjelaskan bahwa perilaku bertutur atau tindak tutur (speech act) sebagai satu rangkaian hubungan antara dua orang atau lebih, seperti percakapan antara penyiar radio dan penelpon yang tersusun di bagian awal. Perilaku bertutur ini terdiri dari dua bagian kegiatan yaitu bagian-luar dan bagian-dalam. Bagian-luar dibatasi oleh mulut dan telinga, sedangkan bagian-dalam dibatasi oleh jiwa atau akal yang terdapat dalam otak pembicara dan pendengar. Jika penyiar radio berbicara maka penelpon akan menjadi pendengar, dan sebaliknya, jika penelpon berbicara maka penyiar radio akan menjadi pendengar.

Di dalam otak penyiar radio terdapat konsep-konsep atau fakta-fakta mental yang dihubungkan dengan bunyi-bunyi linguistik sebagai perwujudannya yang digunakan untuk melahirkan atau mengeluarkan konsep-konsep tersebut. Jika penyiar radio ingin mengemukakan sebuah konsep kepada penelpon, maka konsep itu membukakan pintu kepada pewujudnya yang berupa imaji bunyi yang masih berada dalam otak dan merupakan fenomena psikologis. Kemudian dengan terbukanya pintu imaji bunyi ini, otak pun mengirim satu impuls yang sama dengan imaji bunyi itu kepada alat-alat ucap yang mengeluarkan bunyi dan itu merupakan proses fisiologis. Kemudian gelombang bunyi itu bergerak dari penyiar radio melewati udara ke telinga penelpon yang merupakan proses fisik. Begitupun sebaliknya yang akan terjadi pada penelpon.

Nah, dalam hal ini De Saussure membedakan antara parole, langue, dan langage. Ketiganya itu akan terlihat pada percakapan yang tertera di bagian atas. Parole merupakan bahasa yang konkret yang keluar dari mulut seorang pembicara. Jadi, dari dialog percakapan di bagian atas merupakan parole secara keseluruhan karena bahasanya yang dapat didengar dari penyiar radio kepada penelpon ataupun sebaliknya. Kemudian, untuk langue, sebelum penyiar radio ataupun penelpon berbicara, ada konsep yang tersimpan di otak dan itulah yang dimaksud dengan langue. Dan untuk langage yang merupakan alat untuk interaksi manusia yang bersifat abstrak.

  1. 2.    Teori Leonard Bloomfield

Menurut Leonard Bloomfield, unsur-unsur linguistik diterangkan berdasarkan distribusi unsur-unsur tersebut di dalam lingkungan (environment) dimana unsur-unsur itu berbeda. Distribusi dapat diamati secara langsung, sedangkan makna tidak dapat diamati secara langsung. Dari percakapan di atas, ketika penyiar radio memberikan stimulus kepada penelpon berupa pertanyaan, maka secara otomatis penelpon akan memberikan respon kepada penyiar radio berupa jawaban. Itu sangat jelas terlihat pada percakapan, dimana secara keseluruhan dalam percakapan itu penyiar radio memberikan stimulus berupa pertanyaan kepada penelpon baik yang secara semantik atau pun pragmatik. Sehingga, penelpon memberikan respon yang memang harus diberikan berupa jawaban atas pertanyaan yang diajukan penyiar radio.

  1. 3.    Teori John Rupert Firth

Dalam teori Firth, kajian linguistik yang paling penting adalah konteks yang terdiri dari konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Kemudian, struktur bahasa itu terdiri dari lima tingkatan yaitu, tingkatan fonetik, leksikon, morfologi, sintaksis, dan semantik. Namun, dalam hal ini Firth lebih memusatkan perhatiannya pada tingkatan fonetik dan semantik. Kemudian, perlu diketahui bahwa bentuk yang meragukan pada satu tingkat, tidak selalu meragukan pada tingkatan yang lain.

Contohnya:

Penyiar: Iya dengan e…, latihan mungkin fisik dan latihan yang tetap rutin sama ini, komitmen. Hehehh. Mudah-mudahan jadi bisa meraih prestasi maksimal dan saat ini latihan dimana dilakukan Bu’?

Dari dialog di atas terdapat kata “latihan”, dimana pada tingkatan fonetik kata tersebut merupakan bentuk yang tidak meragukan lagi, namun dalam tingkatan semantik, bentuk tersebut adalah bentuk yang meragukan karena memiliki beberapa makna yaitu pendidikan untuk memperoleh kemahiran/kecakapan atau berlatih.

  1. 4.    Teori Noam Chomsky

Menurut teori Choamsky, teori linguistik menyangkut adanya pasangan penutur-pendengar yang ideal di dalam sebuah masyarakat tutur yang betul-betul merata dan sama. Maksudnya, antara penutur dan pendengar dalam penguasaan bahasanya harus memiliki kompetensi atau penguasaan bahasa yang sama. Seperti ditunjukkan dalam percakapan sebelumnya, antara penyiar radio dan penelpon memiliki penguasaan bahasa yang sama yaitu bahasa Indonesia walaupun bukan bahasa Indonesia yang baku. Apabila penyiar radio berbahasa Inggris kemudian penelpon berbahasa Indonesia yang betul-betul tidak mengerti bahasa Inggris, secara otomatis pasangan penutur dan pendengar itu merupakan pasangan penutur dan pendengar yang tidak ideal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s