RISKI AMALIYAH

Nama : RISKI AMALIYAH

NIM     : 105104084

KELAS : C PBSI 2010

 

TEORI-TEORI STIMULUS RESPON DAN TEORI-TEORI KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

A.     Teori-teori Stimulus Respon

1.      Ivan Petrovich Pavlov

Jika dilihat dari teori yang dipaparkan oleh Pavlov yang mengambil seekor anjing sebagai objek percobaannya dapat juga digunakan dalam pembelajaran bahasa. Penerapan teori tersebut dapat dilakukan dalam pembelajaran  bahasa pada anak-anak hingga dewasa.

Contoh: Bel pada sekolah. Bel sekolah akan selalu bunyi ketika pelajaran sudah di mulai, pergantian jam pelajaran, istirahat, dan pulang. Maka, setiap bunyi bel pertama siswa sudah tahu bahwa itu menandakan jam pertama begitupun dengan pelajaran selanjutnya, istirahat, dan pulang. Karena kegiatan itu berlangsung setiap hari siswa akan  mengetahui dan mulai terbiasa walaupun suatu waktu bel itu rusak dan tidak berbunyi siswa tetap akan mengetahui pukul berapa pelajaran di mulai, istirahat, dst.

 2.      Teori Asosiasi Edward L. Thorndike

Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut:

  1. Hukum Kesiapan (law of readiness), hukum ini pada intinya menyatakan bahwa belajar akan berhasil apabila  peserta didik benar-benar telah siap untuk belajar. Contoh:  Seorang ibu yang mengajari anaknya berbicara tentu saja si Ibu hanya boleh memberikan kata yang mudah-mudah saja seperti kata ibu, bapak, kakek, nenek, makan, dan minum.  Karena teori ini berpendapat jika seorang anak yang belum siap untuk mempelajari materi tersebut maka tidak akan ada hasilnya.
  2. Hukum latihan (law of exercises), yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi, maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat.

Contoh: seorang anak yang baru belajar bahasa pada awalnya akan sulit untuk mengucapkan kata atau mengerti maknanya, akan tetapi dengan adanya latihan mengulang-ulang kosakata tersebut maka lama kelamaan si anak akan dapat menyebutkan kata tersebut dan mengetahui maknanya.

3. Hukum akibat (law of effect), yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh  suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat.

Contoh:  seorang siswa yang sedang diharuskan membuat puisi oleh gurunya. Kemudian, siswa tersebut diminta membacakannya di depan kelas dan ternyata dia mendapat nilai bagus dan pujian dari gurunya. Maka tindakan tersebut akan diulangi pada waktu yang lain yaitu ia akan lebih bersemangat membuat puisi yang bagus.  Akan tetapi, jika dia mendapat nilai buruk dan penilaian yang buruk oleh gurunya maka  hal tersebut  kemungkinan tidak akan terulang di lain waktu karena dia sudah tidak percaya diri atas dirinya sendiri dan semangat menulisnya akan berkurang. Hal tersebut membuktikan pengaruh pujian ataupun penilaian yang buruk akan berpengaruh pada motivasii siswa.

3.       Teori Behaviorisme dari John  Broades Watson

Pada intinya teori behaviorisme ini memandang manusia sebagai produk lingkungan. Segala perilaku manusia sebagian besar  akibat pengaruh lingkungan sekitarnya. Lingkunganlah yang membentuk kepribadian manusia. Maka jika teori ini diterapkan dalam pembelajaran bahasa maka seorang ibu ataupun  guru dapat membuat  murid ataupun anaknya berbahasa sesuai keinginannya.

Contoh: Seorang guru yang ingin membiasakan muridnya untuk menggunakan bahasa yang baku dalam situasi formal seperti diskusi. Maka guru dapat mewajibkan muridnya berbahasa baku setiap kali murid ingin menyampaikan pendapat atau bersuara dalam proses diskusi. Maka hal tersebut dapat menjadi kebiasaan yang akan selalu dilakukan muridnya ketika proses diskusi berlangsung.

4.      Teori Kesegaran dari Edwin Guthrie

Gutrie mengemukakan bahwa agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan bersifat tetap, maka diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut. Stimulus dan respon ini sifatnya sementara tetapi karena sering dilakukan maka akan menjadi kebisaan. Guthrie juga percaya bahwa hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Hal ini juga dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa.

Contoh seorang mahasiswa baru jurusan bahasa Indonesia yang memiliki bahasa daerah yang sangat kental dalam berbicara walaupun pada saat situasi formal. Hal yang dapat dilakukan dosen adalah menegur mahasiswa tersebut dan menghukumnya dengan mengharuskan berbahasa Indonesia yang baik dan benar  dalam seminggu karena seringnya di ulang-ulang maka hal tersebut dapat  menjadi kebiasaan dan akhirnya ia dapat menghilangkan kebiasaan lamanya.

5.      Burrhus Frederic Skinner (1904-1990)

Skinner menyatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement) maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan menjadi dua, yaitu penguatan positif & penguatan negatif. Bentuk-bentuk penguatan positif seperti: (hadiah, permen, kado, makanan), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk meyetujui, bertepuk tangan, mengacukkan jempol), atau penghargaan (nilai A, juara 1, dsb.). Bentuk-bentuk penguatan negatif  antara lain: menunda/ tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa, dll).

Jika dikaitkan dengan pembelajaran bahasa, maka hal yang dapat dilakukan seseorang adalah memberi hadiah untuk motivasi atau mendapatkan ganjaran atas sikapnya yang kurang baik.

Contoh : ketika seorang ibu yang ingin mengajarkan anaknya  berbahasa. Suatu saat si anak ini berbicara kotor atau kurang sopan kepada yang lebih tua si Ibu dapat memberikan penguatan negatif berupa  menunjukkan perilaku muka tidak senang atau muka marah atau langsung menegurnya. Karena sikap ibu yang seperti itu maka anaknya akan mengetahui bahwa hal itu tidak baik karena ibu bisa marah dan akhirnya si anak tidak mengulanginya lagi. Begitupun sebaliknya memberikan penguatan positif ketika si anak berkata sopan seperti senyuman atau mengacungkan jempol.

 

B.      Teori-teori Kognitif

1.      Teori Behaviorisme purposive dati Tolman

Teori Behaviorisme purposif yang diperkenalkan oleh Tolman mengajarkan bahwa apabila suatu rangsangan tertentu menimbulkan respons tertentu, maka akan kita lihat rangsangan itu dalam perspektif yang baru. Teori tersebut dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa. Seperti contoh anak yang diajarkan oleh ibunya berbicara yang sopan kepada setiap orang terlebih lagi kepada yang lebih tua. Sebagai akibatnya anak itu akan lambat laut menjadi terbiasa berbicara sopan kepada orang lain hingga ia dewasa.

2.      Teori Medan Gestalt Dari Wertheirmer

Teori Gestalt  berpendapat bahwa di samping pengalaman, perlu juga adanya kemampuan melihat hubungan-hubungan keseluruhan di antara elemen-elemen  situasi, dan membentuk satu organisasi dari hubungan-hubungan ini. Sebagai contoh dalam pembelajaran bahasa kita dapat mengambil salah satu hukum organisasi yaitu Hukum Pragnanz. Hukum Pragnanz menyatakan bahwa organisasi psikologi cenderung bergerak kearah gestalt yang sempurna.

Sebegai contoh: ketika seorang anak yang baru mulai berbicara terkadang anak tersebut kurang tepat mengucapkan beberapa kata. Nah, di sini si ibu mencoba menyempurnakan bahasa anaknya agar si anak dapat mengucapkan kata secara sempurna.

3.      Teori Medan dari Lewin

Ciri-ciri utama dari medan Lewin dapat diringkaskan sebagai berikut: (1) tingkah laku adalah suatu fungsi dari medan yang  ada pada waktu tingkah laku itu terjadi; (2) analisis mulai dengan situasi sebagai keseluruhan dari mana bagian-bagian komponen dipisahkan; dan (3) orang yang konkret dalam situasi yang konkret dapat digambarkan secara matematis. Yang pada intinya teori ini dapat diibaratkan dengan Magnet, di mana magnet ini akan menarik besi-besi yang ada disekitarnya. Maksudnya adalah magnet diibaratkan sebagai pribadi seseorang dan besi dibaratkan sebagai lingkungannya.

Salah satu yang dapat dilakukan dalam pembelajaran bahasa adalah ketika seorang ibu ingin mengajarkan kepada anaknya memanggil ibu, bapak, kakek, nenek, kakak, adik, dsb. Maka ketika si ibu berbicara kepada anaknya dia menyebut bapak, ibu, dsb. Contoh : “Ibu pergi dulu yah nak.”, “Bagi makanannya sama kakak”, “Ayo pergi sama nenek”. Dengan berkata seperti itu anaknya akan meniru sapaan ibunya yaitu memanggil ibu, kakak, atau nenek. Begitupun sebaliknya ketika ibu berbicara seperti biasanya maka anaknya pun akan seperti itu. Contoh : si ibu berbicara kepada anaknya yang lebih tua yang bernama Rofar. “Kamu pergi sama Rofar saja ya Nak!”,  maka si anak  pun akan  memanggil kakaknya ‘Rofar’ bukan ‘kakak’.

4.      Teori Perkembangan Kognitif dari Piaget

 Jean Piaget menekankan bahwa anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri; informasi tidak sekadar dituangkan ke dalam pikiran mereka dari lingkungan.  Piaget yakin  bahwa anak-anak menyesuaikan pikiran mereka untuk mencakup gagasan-gagasan baru, karena informasi tambahan memajukan pemahaman. Piaget yakin bahwa manusia menyesuaikan diri dengan tiga cara yaitu asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi. Jika dilihat dari pembelajaran bahasa maka kita dapat mengambil proses pemerolehan bahasa oleh anak.

Contoh :  pada tahap asimilasi (0-2 tahun) anak akan menggabungkan informasi baru berupa kata-kata baru ke dalam pengetahuannya dan mencoba belajar mengucapkan kata-kata tersebut. Kemudian pada tahap akomodasi (2-7 tahun) anak mulai menyesuaikan diri dengan informasi yaitu sudah mengetahui maknanya dan melakukannya. Kemudian pada tahap Equilibrasi (7-15) anak sudah dapat  membedakan mana yang baik dan mana yang  buruk sehingga ia dapat berkata yang baik dan tidak berkata buruk begitupun dengan penerapannya.

5.       Teori Genetik dari Chomsky

Teori genetik  kognitif ini didasarkan pada satu hipotesis yang disebut hipotesis nurani. Hipotesis ini menyatakan bahwa otak manusia dipersiapkan  secara genetik untuk berbahasa. Untuk itu otak manusia telah dilengkapi dengan struktur bahasa universal dan apa yang disebut  (Language Acquistion Device) LAD. Oleh karena itu, dalam pembelajaran bahasa manusia memiliki proses perkembangan yang  sama dalam mempelajari bahasa baik  itu orang yang IQ  tinggi ataupun IQ rendah memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda dalam berbahasa. Menurut hipotesis ini setiap manusia sudah memiliki konsep sejak lahir yang bersifat universal yaitu struktur dalam. Hanya struktur luarnya saja yang berbeda setiap Negara yaitu seperti penyusunan kalimat atau penyebutannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s