NUR KHAIRINNISA (MENGKAJI SUATU PERCAKAPAN MENURUT TEORI-TEORI LINGUISTIK

NUR KHAIRINNISA

105104082

C PBSI

 

MENGKAJI SUATU PERCAKAPAN MENURUT TEORI-TEORI LINGUISTIK

 

TRANSKRIP PERCAKAPAN

 

Fikar (F): “Kemudian, dari ini, keduanya melahirkan bahasa intelektual. Nah, sekarang yang perlu diperdebatkan itu sebenarnya kata kuncinya itu adalah apa itu bahasa intelektual? Ini mi sebenarnya intinya ini. Bahasa intelektual. Yang kupikirkan tadi, apakah bahasa intelektual itu adalah bahasa—misalkan toh, eeh, apa, itu, misalkan banyak manusia yang terjebak dalam false think, banyak manusia yang terjebak dalam false thing—”

Alex (A): “Kata siapa dulu?”

F: “Tadi malam ada narasumber di TV One yang bilang begitu.”

Nisa (N): “Apa itu?”

F: “False think, kesalahan berpikir.”

N: “Oh.”

F: “Hingga, kebijakan-kebijakan, terutama dalam pemerintah, hingga kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut, eeh, apa, sebenarnya merupakan sebuah overlap. Itukah bahasa intelektual?”

A: “Yang kayak begitu ya, yang dibilang bahasa intelektual?”

F: “Nah, itu dia, itu yang kita akan bahas. Yang kayak bagaimanakah itu bahasa intelektual?”

A: “Kalau berpikiran baik seng?”

N: “Ededeh, itu mi sedeng. Inikah—”

A: “Tidak, kan bahasa yang baik toh di bahasanya, bahasa yang baik di sini bisa dikatakan bahasa intelektual toh?”

F: “Mm.”

A: “Jeleknya ji yang dikasih ki di sini bahasa intelektual.”

F: “Mm.”

A: “Toh? Pertanyaannya apakah itu berpikiran baik?”

F: “Dia berpikir secara baik.”

A: “Apanya? Berpikiran yang bagaimananya di sini?”

F: “Berpikir secara baik belum tentu berpikiran baik. Berpikiran tidak—pikiran tidak baik bisa dipikirkan secara baik. Sebenarnya toh, cara ini, cara yang kita bicarakan sebenarnya. Kudapat mi kata kuncinya. Cara ji. Cara berpikir. Bukan bagaimana hasil pikiran.”

A: “Bagaimana cara berpikiran yang baik itu?”

F: “Nah, itu dia bergantung pada diri masing-masing.”

A: “Ya, kalau kau iya yang kayak bagaimana—”

F: “Bergantung pada tingkat kognisi kembali—”

A: “Iya, kalau kau iya, bagaimana tingkatan kognisimu?”

F: “Ah?”

A: “Bagaimana cara berpikirmu?”

F: “Caraku berpikir?”

A: “Berpikir ine, jangko cara berpikiran lain. Ine.

F: “Iyo.”

A: “Yo, yang kayak bagaimana?”

F: “Karena caraku yang berpikir, misalkan toh, dalam kelas ada sebuah masalah yang didiskusikan, karena cara berpikirku yang baik, maka bahasa yang kugunakan juga adalah bahasa yang baik.”

 

ANALISIS PERCAKAPAN MENURUT TEORI-TEORI LINGUISTIK

 

  1. A.    Teori Ferdinand De Saussure

Dalam teori ini, dikemukakan bahwa jika A berbicara maka B akan menjadi pendengar, dan jika B berbicara maka A menjadi pendengar. Sebab, menurut De Saussure, perilaku bertutur ini terdiri dari dua bagian kegiatan, yaitu bagian-luar yang dibatasi oleh mulut dan telinga dan bagian-dalam yang merupakan jiwa atau akal yang terdapat dalam otak pembicara dan pendengar.

Dalam transkrip percakapan di atas, menurut teori De Saussure, dalam otak Fikar terdapat konsep-konsep atau fakta-fakta mental yang dihubungkan dengan bunyi-bunyi linguistik sebagai perwujudannya yang digunakan untuk melahirkan atau mengeluarkan konsep-konsep  mengenai bahasa intelektual dan cara berpikir manusia. Saat Fikar mengemukakan sebuah konsep mengenai bahasa intelektual kepada Alex (pendengar) maka konsep itu “membukakan” pintu kepada pewujudnya yang berupa imaji bunyi yang masih berada dalam otak. Kemudian lambang bunyi bergerak dari mulut Fikar melewati udara ke telinga Alex. Dari telinga Alex, gelombang bunyi bergerak terus masuk ke otak Alex dalam bentuk impuls. Lalu terjadilah proses psikologis yang menghubungkan imaji bunyi ini dengan konsep yang sama, seperti yang ada dalam otak Fikar. Saat Alex menanggapi pembicaraan Fikar sedangkan Fikar mendengarkan, proses yang sama akan terjadi.

 

  1. B.     Teori Leonard Bloomfield

Bloomfield merupakan seorang linguis beraliran behavioris atau perilaku. Bloomfield menerangkan makna (semantik) dengan rumus-rumus behaviorisme. Unsur-unsur linguistik diterangkannya berdasarkan distribusi unsur-unsur tersebut yang terlihat di dalam lingkungan unsur-unsur itu berada.

Peristiwa percakapan Fikar-Alex-Nisa dapat diuraikan sebagai berikut.

(1)   Perilaku atau kegiatan Fikar sewaktu berkata kepada Alex dan Nisa.

(2)   Bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan Fikar waktu berbicara kepada Alex dan Nisa.

(3)   Perilaku atau kegiatan Alex dan Nisa sewaktu mendengarkan bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan Fikar.

(4)   Otak Alex dan Nisa bekerja mulai dari mendengar bunyi suara Fikar sampai memberikan tanggapan balik.

 

  1. C.    Teori John Rupert Firth

Menurut teori Firth, bahasa itu terdiri dari lima tingkatan yaitu tingkatan fonetik, leksikon, morfologi, sintaksis, dan semantik. Unsur fonetik adalah fonem, unsur morfologi adalah morfem, unsur sintaksis adalah kategori-kategori sintaksis, dan unsur semantik adalah kategori-kategori semantik.

Transkrip percakapan di atas telah menunjukkan perbedaan fonem yang sangat mencolok. Misalnya fonem [mi] dan [ki] memiliki komponen fon yang sama yakni /i/, namun kedua kata tersebut memiliki makna berbeda. Begitu pula dengan perbedaan morfologi yang sangat mencolok. Kata berpikir dan pikir menunjukkan perbedaan yang signifikan sehingga membuat makna kedua kata tersebut berbeda.

Dalam tingkatan sintaksis, dari transkrip percakapan di atas, menunjukkan struktur yang tidak beraturan sebab berasal dari percakapan lisan tiga orang yang memiliki kompetensi bahasa yang sama yaitu sama-sama berkompetensi berbahasa Indonesia dialek Makassar. Sedangkan dalam tingkatan semantik, walau memiliki konsep yang sama mengenai sesuatu, transkrip percakapan di atas cenderung tidak terarah.

 

  1. D.    Teori Noam Chomsky

Teori Chomsky ini menyangkut adanya pasangan penutur-pendengar yang ideal dalam sebuah masyarakat tutur yang betul-betul merata dan sama. Keduanya, penutur dan pendengar itu, harus mengetahui dan menguasai bahasanya dengan baik. Chomsky pun membedakan adanya kompetensi (kecakapan linguistik) dan performansi (pelaksanaan atau perlakuan linguistik).

Kedua komponen tersebut telah dijalankan secara baik oleh Fikar, Alex, dan Nisa dalam percakapan di atas. Kompetensi linguistik yang dimiliki Fikar dapat diterima baik oleh kompetensi Alex dan Nisa yang seimbang sehingga performansi Fikar juga dapat ditanggapi oleh Alex dan Nisa yang memiliki performansi yang sama.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s