NUR KHAIRINNISA (Penerapan Teori Pembelajaran Psikologi Dalam Pembelajaran Bahasa)

NUR KHAIRINNISA

105104082

C PBSI 2010

 

 

PENERAPAN TEORI PEMBELAJARAN PSIKOLOGI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

 

 

 

TEORI-TEORI STIMULUS-RESPON

 

  1. A.    Teori Pembiasaan Klasik dari Pavlov

Teori ini terdiri atas empat elemen terpisah, yaitu (1) stimulus yang tidak dibiasakan (STD); (2) respon tidak dibiasakan (RTD); (3) stimulus yang dibiasakan (SD); dan respon yang dibiasakan (RD). Kaitan teori ini dengan pembelajaran bahasa bisa diterapkan oleh orang tua kepada anaknya untuk berbahasa sopan kepada orang yang lebih tua. Orang tua bisa memberikan stimulus berupa coklat atau makanan kesukaannya bila si anak mampu berbahasa sopan kepada orang yang lebih tua. Stimulus itu perlu diulang secara intensif sehingga anak menjadi terbiasa untuk berbahasa sopan. Saat anak telah terbiasa untuk berbahasa sopan, walau tak diberi lagi coklat atau makanan kesukaan sebagai stimulus, inilah yang disebut respon yang dibiasakan.

 

  1. B.     Teori Penghubungan dari Thorndike

Teori ini mengemukakan bahwa terjadinya penghubungan (asosiasi) antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum yakni (1) hukum kesiapan yang menyatakan bahwa belajar akan berhasil apabila peserta didik benar-benar telah siap untuk belajar; (2) hukum latihan yang menyatakan bahwa apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi, maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat; dan (3) hukum akibat yang menyatakan bahwa apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat.

Kaitan teori ini dengan pembelajaran bahasa bisa diterapkan oleh anak kecil yang baru diajari bahasa Indonesia. Si anak perlu mencapai umur yang seharusnya proses bahasa itu bisa terjadi karena ada kesiapan motivasi dan organ-organ bahasa yang cukup matang. Orang tua dapat mengajarkan beberapa kata sederhana (stimulus) dan diikuti oleh si anak (respon). Seperti kata ‘ibu’, ‘ayah’, ‘makan’, ‘pipis’, dan beberapa kata sederhana lainnya. Hubungan stimulus-respon ini perlu diulangi dalam bentuk latihan secara teratur agar si anak semakin lancar mempraktekkan kata-kata tersebut. Bila anak telah menguasai beberapa kata yang telah diajarkan, orang tua bisa memberikan reward sebagai bentuk kepuasan kepada anak, misalnya diberi mainan, coklat, atau liburan ke luar rumah.

 

  1. C.    Teori Behaviorisme dari Watson

Teori ini mengemukakan dua prinsip penting dalam pembelajaran yang didasarkan pada hubungan stimulus-respon ini yaitu (1) recency principle yang menyatakan bahwa jika suatu stimulus baru saja menimbulkan respon, maka kemungkinan stimulus itu untuk menimbulkan respon yang sama apabila diberi umpan lagi akan lebih besar daripada kalau stimulus itu diberikan umpan setelah lama berselang; dan (2) frequency principle yang menyatakan bahwa jika suatu stimulus dibuat lebih sering menimbulkan satu respon maka kemungkinan stimulus itu akan menimbulkan respon yang sama pada waktu yang lain akan lebih besar.

Kaitan teori ini dalam pembelajaran bahasa dapat diterapkan oleh orang tua kepada anaknya untuk berbahasa sopan saat menerima suatu pemberian atau jika sedang dipuji. Anak diajar untuk selalu mengucapkan kata ‘terima kasih’ kepada siapa saja yang memuji atau memberikannya hadiah. Untuk itu, stimulus diberikan kepadanya berupa pujian (atau dengan cara lain) saat bisa melakukannya dengan baik. Anak juga perlu melakukannya secara intensif agar semakin terbiasa.

 

  1. D.    Teori Kesegeraan dari Guthrie

Teori ini mengemukakan bahwa kesegeraan hubungan antara satu gabungan stimulus respon akan memperbesar kemungkinan berulangnya pola pasangan stimulus respon ini. hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena itu dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus respon bersifat lebih kuat dan menetap.

Kaitan teori ini dalam pembelajaran bahasa dapat diterapkan oleh seseorang yang memiliki kecenderungan berperilaku berbahasa jelek kepada semua orang. Misalnya menyebutkan sapaan ‘brengsek’ terhadap teman sebaya maupun orang lain. Ia ingin mengubah perilaku berbahasanya itu. Maka, menurut teori Guthrie, ketika stimulus berupa ucapan tersebut itu datang, orang itu sebaiknya melakukan kata sapaan lain yang lebih baik sebagai peralihan dari sapaan sebelumnya. Hal tersebut perlu pengulangan dan latihan secara terus menerus agar menjadi suatu kebiasaan baru. Tentunya menggunakan sapaan yang lebih baik dapat diterima baik pula oleh orang yang mendengarnya, daripada menggunakan ‘brengsek’ walau niat hanya untuk bercanda.

 

  1. E.     Teori Pembiasaan Operan dari Skinner

Teori ini mengemukakan bahwa unsur terpentin dalam belajar adalah penguatan. Bentuk penguatan ini terbagi atas dua, yaitu penguatan positif yang berupa hadiah (permen, kado, makanan, dan lain-lain), perilaku (senyum, mengangguk-anggukan kepala, mengacungkan jempol, bertepuk tangan), atau penghargaan (nilai A, juara I, dan sebagainya), dan penguatan negatif berupa menunda penghargaan, memberi tugas tambahan, atau menunjukkan perilaku tidak senang.

Kaitan teori ini dalam pembelajaran bahasa dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar dalam kelas. Guru Bahasa Indonesia dapat memberi praktik kepada siswa tentang cara berpuisi dengan baik. Saat siswa menunjukkan mimik dengan tepat, guru menginstruksikan siswa lainnya untuk memberi penghargaan kepadanya, bisa berupa tepuk tangan atau memberinya nilai. Hal tersebut juga dilakukan dengan siswa lainnya.

 

TEORI-TEORI KOGNITIF

 

  1. A.    Teori Behaviorisme Purposif dari Tolman

Teori ini mengemukakan bahwa apabila suatu rangsangan tertentu menimbulkan respon tertentu, maka akan dilihat respon itu dalam perspektif yang baru. Kaitan teori ini dalam pembelajaran bahasa dapat dilihat saat duduk di SD atau SMP. Saat itu, kita selalu diajar untuk bersikap sopan dan hormat kepada guru. Sebagai akibatnya, bila kita berhadapan dengan dosen atau guru besar di perguruan tinggi (berupa rangsangan) maka kita secara otomatis akan berlaku sopan, hormat, dan diam mendengarkan mendengarkan kuliahnya (berupa respon). Namun, dosen atau guru besar itu mungkin akan marah jika kita bersikap demikian karena masih dianggapnya sebagai kanak-kanak, bukan mahasiswa. Kita dituntut untuk lebih terbuka, banyak bicara, dan tidak terlalu bersikap formal. Di sini kita akan melihat keadaan dalam perspektif yang baru dan sebagai akibatnya kognisi kita akan membuat respon yang baru pula.

 

  1. B.     Teori Medan Gestalt dari Wertheimer

Teori ini memperkenalkan lima hukum organisasi di antaranya Hukum Pragnanz, Hukum Kesamaan, Hukum Proksimiti, Hukum Kedekatan, dan Hukum Kelanjutan Baik.

Kaitan teori ini dalam pembelajaran bahasa dapat diterapkan oleh kanak-kanak yang bercakap-cakap dengan kalimat-kalimat tidak sempurna, tidak lengkap, terputus-putus, namun kita selalu cenderung untuk menjadikan gestalt yang sempurna dari kalimat-kalimat tersebut serta membuang unsur-unsur yang merusak gestalt tersebut. Begitu juga dalam pemerolehan bahasa pertama, kalimat kanak-kanak banyak yang tidak gramatikal dan tidak lengkap, tetapi persepsinya membentuk gestalt sempurna.

 

  1. C.    Teori Medan dari Lewin

Teori ini mengemukakan sekumpulan konsep dengan seseorang yang dapat menggambarkan kenyataan psikologis. Lewin menggambarkan magnet sebagai individu seseorang, sedangkan besi-besi yang berada di sekitarnya sebagai lingkungan. Kaitan teori ini dalam pembelajaran bahasa diterapkan oleh kanak-kanak yang memeroleh bahasa ibunya. Ketika ia berada dalam lingkungan Bugis, maka ia diberi kompetensi dan performansi berupa bahasa Bugis. Dan ketika beranjak remaja, ia berbaur dengan orang-orang Jakarta sehingga ia menerima bahasa baru yaitu bahasa Indonesia dialek Jakarta.

 

  1. D.    Teori Perkembangan Kognitif dari Piaget

Teori ini mengemukakan bahwa anak-anak menyesuaikan pemikiran mereka untuk mencakup gagasan-gagasan baru. Piaget menekankan bahwa anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri maka ia membagi tahap-tahap perkembangan kecerdasan anak menjadi empat tahap, yaitu (1) tahap deria-motor berkisar antara 0-2 tahun; (2) praoperasi sekitar 2-7 tahun; (3) tahap operasi konkret sekitar 7-11 tahun; dan (4) operasi formal dari 11 tahun sampai dewasa.

Kaitan teori ini dalam pembelajaran bahasa diterapkan oleh bayi yang pada tahap awalnya ia membangun suatu pemahaman tentang dunia dengan mengoordinasikan pengalam-pengalaman sensor (seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan motorik fisiknya. Lalu pada tahap selanjutnya, si anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Lalu pada usia tujuh sampai sebelas tahun ini si anak dapat melaksanakan operasi dan penalaran logis menggantikan pemikiran intuitif sejauh pemikiran yang dapat diterapkan ke dalam contoh-contoh yang spesifik atau konkret. Sampai usianya menginjak sebelas tahun ke atas yang merupakan tahap akhir Piaget. Pada tahap ini individu mulai melampaui dunia nyata, pengalaman-pengalaman konkret dan berpikir secara abstrak dan lebih logis.

 E.     Teori Genetik Kognitif dari Chomsky

Teori ini mengemukakan bahwa otak manusia telah dipersiapkan secara genetik untuk berbahasa. Untuk itu, otak manusia dilengkapi dengan alat struktur bahasa universal yang disebut dengan Language Acquisition Device (LAD). Kaitan teori ini dalam pembelajaran bahasa mengajarkan bahwa anak yang tidak cerdas memperoleh bahasa pada waktu dan cara yang sama dengan anak  yang cerdas. Bisa dilihat pada tata bahasa setiap anak hampir sama. Itu disebabkan karena adanya sebuah alat dan skema nurani yang sama di setiap otak manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s