ESTI SARMITA (105104064)

Esti Sarmita

105104064

Tugas Psikolinguistik

Mencari Penerapan Teori Pembelajaran dalam Psikologi ke dalam Pembelajaran Bahasa

 1.     Teori-Teori Stimulus Respon

a. Ivan Petrovich Pavlov

Pada percobaannya, Pavlov menggunakan anjing untuk diteliti proses pencernaannya. Dalam percobaannya itu, urutan kejadiannya adalah sebagai berikut: 1) US (unconditioned stimulus)=stimulus asli atau netral, 2) UR (unconditioned respons)=perilaku responden atau respon tidak bersyarat, 3) CS (conditioning stimulus)=stimulus bersyarat, 4) CR (conditioning respons)=respons bersyarat.

Apabila dicontohkan dalam pembelajaran bahasa, misalnya seorang ibu ingin mengajarkan anaknya yang berusia 2 tahun untuk bertepuk tangan, secara otomatis si anak akan ikut bertepuk tangan, itu adalah unconditioned stimulus atau stimulus aslinya. Yang menjadi unconditioned respons atau perilaku respon/ respon tak bersyaratnya adalah ketika si ibu bertepuk tangan, secara otomatis si anak akan mengikuti ibunya bertepuk tangan. Kemudian conditioning stimulus atau stimulus bersyaratnya adalah ketika si ibu bertepuk tangan tetapi tidak ada respon dari si anak, kemudian agar menimbulkan respon, unconditioned stimulus dipasangkan dengan conditioning stimulus yaitu nyanyian. Jadi untuk mendapatkan respon dari si anak, si ibu bertepuk tangan dengan diiringi nyanyian. Kemudian conditioning respons atau respon bersyarat yaitu anak akan bertepuk tangan ketika mendengar nyanyian.

 b.      Edward L. Thorndike

Thorndike mengemukakan suatu teori belajar yang dikenal dengan teori “pengaitan”. Teori tersebut menyatakan bahwa belajar pada hewan dan manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip yang sama yaitu belajar merupakan peristiwa terbentuknya ikatan antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus dengan respon yang diberikan atas stimulus tersebut. Dalam hal ini, akan menjadi lebih kuat atau lebih lemah dalam terbentuknya atau hilangnya suatu kebiasaan.

Misalnya dalam pembelajaran bahasa, seorang anak yang diajarkan doa-doa untuk shalat oleh orang tuanya. Apabila anak tersebut belum siap untuk menerima apa yang diajarkan, maka ajaran tersebut tidak akan dapat terpahami. Tetapi semakin sering orang tuanya mengajarkan doa-doa tersebut, lambat laun anak itu mulai mengeluarkan respon, akibatnya doa-doa yang diajarkan kepadanya semakin kuat tersimpan dalam ingatannya. Selanjutnya, apabila telah terbentuk stimulus dan respon dari pengajaran doa-doa tersebut dan diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Misalnya, dari pengajaran doa-doa shalat dari orang tua kepada anaknya, kemudian anak itu diminta untuk mempraktikkannya, dan ternyata dia mampu mempraktikkan, maka akan timbul kepuasaan dalam diri anak tersebut.

c. John Broades Watson

Watson mengemukakan bahwa segala perilaku manusia sebagian besar akibat pengaruh lingkungan sekitarnya. Apabila dicontohkan dalam pembelajaran bahasa, misalnya seorang anak yang pergi berkuliah di kota. Sebelumnya, sewaktu dia menjadi siswa sangat berbeda dengan pada saat dia telah menjadi mahasiswa. Pada saat menjadi mahasiswa, dia dituntut untuk lebih aktif di dalam kelas, sehingga dia akan terbiasa untuk berbicara di depan umum, itu semua karena pengaruh lingkungan kampus.

 d.      Edwin Guthrie

Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti, yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Mungkin dalam pembelajaran bahasa dapat dicontohkan dengan kebiasaan para guru untuk menanamkan nilai kedisiplinan kepada siswanya. Misalnya, setiap apel pagi, guru mengatakan kepada para siswa untuk tidak terlambat datang ke sekolah. Stimulus tersebut harus diberikan secara rutin kepada siswa sehingga responnya pun akan lebih kuat. Tindak lanjut apabila stimulus tidak terlalu berdampak pada siswa adalah memberikan hukuman yang sesuai dengan karakter dan idiologi yang dimiliki siswa terhadap gurunya, misalnya, siswa yang terlambat diminta untuk membersihkan halaman sekolah atau ruangan kantor guru.

 e.       Burrhus Frederic Skinner

Dalam teori Skinner ini, gaya mengajar guru dilakukan secara searah dan dikontrol melalui pengulangan dan latihan. Manajemen kelas menurut Skinner berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses  penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi ingatan apapun pada perilaku yang tidak tepat.

Dalam pembelajaran bahasa misalnya, seorang guru meminta siswanya untuk menghafalkan Undang-Undang Dasar 1945, apabila ada salah seorang siswanya yang mampu menghafalkan Undang-Undang tersebut, maka siswa itu akan diberi hadiah. Sedangkan siswa yang belum mampu menghafalkannya, hanya akan diberi pengulangan dan latihan untuk menghafal, tidak diberikan hukuman.

 2.      Teori-Teori Kognitif

a.      Teori Behaviorisme Purposif dari Tolman

Teori yang diperkenalkan oleh Tolman ini mengajarkan bahwa apabila suatu rangsangan tertentu menimbulkan respons tertentu, maka akan kita lihat rangsangan itu pada perspektif yang baru. Misalnya dalam pembelajaran bahasa, di Sekolah Menengah Atas, dalam pembelajaran bahasa, ada materi tentang pembacaan pidato, awalnya siswa tidak paham akan tujuan pembacaan pidato tersebut, tetapi karena adanya proses akal atau mental yang didapatkan oleh siswa, sehingga siswa pun mengetahui tujuan dari pembaaan pidato tersebut yaitu untuk melatih keterampilan berbicara di depan orang banyak.

 b.      Teori Medan Gestalt dari Wertheirmer

Teori Medan Gestalt ini mengakui adanya pembelajaran trial and error; tetapi pembelajaran trial and error yanag dilakukan dengan kesadaran. Teori Gestalt berpendapat bahwa di samping pengalaman, perlu juga adanya kemampuan melihat hubungan-hubungan keseluruhan di antara elemen-elemen situasi, dan membentuk satu organisasi dari hubungan-hubungan ini. Dalam pembelajaran bahasa dapat dicontohkan dengan seseorang yang mengetahui pembelajaran teater, tidak cukup hanya mengetahui teorinya saja, praktik pun harus dilaksanakan agar teori yang didapat mampu diaplikasikan.

 c.       Teori Medan dari Lewin

Bagi Lewin, teori Medan bukan suatu sistem psikologi baru yang terbatas pada suatu isi yang khas. Teori medan merupakan sekumpulan konsep dengan dimana seseorang dapat menggambarkan kenyataan psikologis. Ciri utama dari teori Medan Lewin ialah 1) tingkah laku adalah suatu fungsi dari medan yang ada pada waktu tingkah laku itu terjadi, 2) analisis mulai dengan situasi sebagai keseluruhan dari mana bagian-bagian komponennya dipisahkan, dan 3) orang yang konkrit dalam situasi yang konkrit dapat digambarkan secara matematis.

 d.      Teori Pengembangan Kognitif dari Piaget

Piaget menekankan bahwa anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri; informasi tidak sekadar dituangkan ke dalam pikiran mereka dari lingkungan. Piaget yakin bahwa anak-anak menyesuaikan pemikiran mreka untuk mencakup gagasan-gagasan baru, karena informasi tambahan memajukan pemahaman.

Dalam pembelajaran bahasa, misalnya, seorang anak yang telah mengetahui bahwa berbicara atau pun lewat di depan guru atau orang yang lebih tua harus lebih sopan. Dengan pengetahuan awal tersebut, ketika anak tersebut berada dalam lingkungan yang berbeda dan mendapati bahwa pada lingkungan baru tersebut, apabila kita berbicara atau lewat di depan orang yang lebih tua, kita harus mengucapkan kata “tabe”. Dengan adanya pengetahuna baru tersebut, si anak menggabungkannya  dengan pengetahuan awalnya.

 e.       Teori Genetik dari Chomsky

Teori genetik kognitif ini didasarkan pada satu hipotesis yang disebut hipotesis nurani. Hipotesis ini menyatakan bahwa otak manusia dipersiapkan secara genetik untuk berbahasa. Untuk itu otak manusia telah dilengkapi dengan struktur bahasa universal yang disebut dengan Language Acquistion Device atau LAD.

Dalam pembelajaran bahasa, seorang anak yang dikatakan rendah IQ kecerdasannya di sekolah atau seorang anak yang tidak pandai dalam mata pelajaran matematika, tidak menutup kemungkinan bahwa dia akan pandai dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Apabila dua orang anak yang memilik tingkat kecerdasan yang berbeda dalam hal menerima ilmu di sekolah, mereka mungkin akan berbeda tingkat pemahamannya, tetapi akan sama jadinya apabila mereka menerima pengetahuan/ pengajaran dari orang tua mereka masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s