NUGRA RESKI SYANDIAMI

Nugra Reski Syandiami
105 104 078
C’PBSI’
TEORI-TEORI STIMULUS RESPON DAN TEORI-TEORI KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA
Teori belajar behavioristik menjelaskan bahwa belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui ransangan (stimulus) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon)berrdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulus tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, atau reaksi fisik terhadap stimulans.belajar berarti penguatan ingatan, asosiasi, sifat dan kecendrungan perilaku S-R (Stimulus-Respon).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan teori behaviorisme adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu :
1. mementingkan pengaruh lingkungan
2. mementingkan bagian-bagian
3. mementingkan peranan reaksi
4. mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
5. mementingkan peranan kemampuan yang telah terbentuk sebelumnya
6. mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
7. hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.

A. Teori stimulus respon
1. Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)
Pavlop melakukkan percobaan terhadap anjing, dimana peransang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan. Hal ini disebut dengan extinction atau penghapusan. Pavlov mengemukakan empat peristiwa eksperimental dalam proses akuisisi dan penghapusan sebagai berikut:

1. Stimulus tidak terkondisi (UCS), suatu peristiwa lingkungan yang melalui kemampuan bawaan dapat menimbulkan refleks organismik.
Contoh:makanan
2. Stimulus terkondisi (CS), Suatu peristiwa lingkungan yang bersifat netral dipasangkan dengan stimulus tak terkondisi (UCS).
Contoh: Bunyi bel adalah stimulus netral yang di pasangkan dengan stimulus tidak terkondisi berupa makanan.

3. Respons tidak terkondisi (UCR), refleks alami yang ditimbulkan secara otonom atau dengan sendirinya.
Contoh: mengeluarkan air liur

4. Respos terkondisi (CR), refleks yang dipelajari dan muncul akibat dari penggabungan CS dan US. Contoh: keluarnya air liur akibat penggabungan bunyi bel dengan makanan.
Dalam hal ini pavlov menganggap bahwa binatang (anjing) memiliki kesaamaan terhadap manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.
Apakah teori Pavlov dapat diterapkan pada manusia dalam hal pembelajaran bahasa? Ya, Ternyata dalam kehidupan sehari-hari ada situasi yang sama seperti pada anjing. Sebagai contoh, suara lagu dari penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah. Awalnya mungkin suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering lewat, maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas. Dan teori ini dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Inggris, misalnya seorang guru bahasa inggris yang selalu menyapa para siswa dengan menggunakan bahas inggris (how are you?) dengan suara dan ekspresi yang menyenangkan setiap kali masuk ke kelas, hal ini dilakukan secara berulang-ulang sehingga para sisiwa ketiaka mendengar suara atau pertanyaan seperti itu akan langsung menjawab dengan bahasa ingris juga (fine thanks).

2. Teori Asosiasi Edward L. Thorndike
Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut:
Hukum Kesiapan (law of readiness), hukum ini pada intinya menyatakan bahwa belajar akan berhasil apabila peserta didik benar-benar telah siap untuk belajar. Contoh: dalam suasana menyenangkan, Seorang ibu yang mengajari anaknya berbicara atau mengucapkan sesuatu, misalnya kata-kata yang mudah untuk disebutkan si anak/ balita separti mama, papa, mimi atau cucu/susu. Karena teori ini berpendapat jika anak/balita tersebut belum siap untuk mempelajari kata-kata sulit maka tidak akan ada hasilnya.
Hukum latihan (law of exercises), yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi, maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat.
Contoh: seorang anak yang baru belajar bahasa pada awalnya akan sulit untuk mengucapkan kata atau mengerti maknanya, akan tetapi dengan adanya latihan mengulang-ulang kosakata tersebut maka lama kelamaan si anak akan dapat menyebutkan kata tersebut dan mengetahui maknanya.
3. Hukum akibat (law of effect), yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat.
Contoh: seorang siswa yang sedang diharuskan membuat teks pidato oleh gurunya. Kemudian, siswa tersebut diminta membacakannya di depan kelas dan ternyata dia mendapat nilai bagus dan pujian dari gurunya. Maka tindakan tersebut akan diulangi pada waktu yang lain yaitu ia akan lebih bersemangat dan pecaya diri untuk tampil di depan umum dan berpidato dengan baik. Akan tetapi, jika dia mendapat nilai buruk dan penilaian yang buruk oleh gurunya maka hal tersebut kemungkinan tidak akan terulang di lain waktu karena dia sudah tidak percaya diri atas dirinya sendiri dan semangat menulisnya akan berkurang. Hal tersebut membuktikan pengaruh pujian ataupun penilaian yang buruk akan berpengaruh pada motivasii siswa.
3. Teori Behaviorisme dari John Broades Watson
Teori behaviorisme ini memandang manusia sebagai produk lingkungan. Segala perilaku manusia sebagian besar akibat pengaruh lingkungan sekitarnya. Lingkunganlah yang membentuk kepribadian manusia. Maka jika teori ini diterapkan dalam pembelajaran bahasa maka seorang ibu ataupun guru dapat membuat murid ataupun anaknya berbahasa sesuai keinginannya.
Contoh: Seorang guru yang ingin membiasakan muridnya untuk menggunakan bahasa yang baku dalam situasi formal seperti diskusi. Maka guru dapat mewajibkan muridnya untuk menggunakan bahasa yang baku setiap kali murid ingin menyampaikan pendapat atau bersuara dalam proses diskusi. Maka hal tersebut dapat menjadi kebiasaan yang akan selalu dilakukan muridnya ketika proses diskusi berlangsung.
3. Teori Kesegaran dari Edwin Guthrie
Gutrie mengemukakan bahwa agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan bersifat tetap, maka diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut. Stimulus dan respon ini sifatnya sementara tetapi karena sering dilakukan maka akan menjadi kebisaan. Guthrie juga percaya bahwa hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Hal ini juga dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa.
Contoh seorang mahasiswa baru jurusan bahasa Indonesia yang memiliki bahasa daerah yang sangat kental dalam berbicara walaupun pada saat situasi formal. Hal yang dapat dilakukan dosen adalah menegur mahasiswa tersebut dan menghukumnya dengan mengharuskan berbahasa Indonesia yang baik dan benar dalam seminggu karena seringnya di ulang-ulang maka hal tersebut dapat menjadi kebiasaan dan akhirnya ia dapat menghilangkan kebiasaan lamanya.
4. Burrhus Frederic Skinner (1904-1990)
Skinner menyatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement) maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan menjadi dua, yaitu penguatan positif & penguatan negatif. Bentuk-bentuk penguatan positif seperti: (hadiah, permen, kado, makanan), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk meyetujui, bertepuk tangan, mengacukkan jempol), atau penghargaan (nilai A, juara 1, dsb.). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/ tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa, dll).
Jika dikaitkan dengan pembelajaran bahasa, maka hal yang dapat dilakukan seseorang adalah memberi hadiah untuk motivasi atau mendapatkan ganjaran atas sikapnya yang kurang baik.
Contoh : ketika seorang ibu yang ingin mengajarkan anaknya berbahasa. Suatu saat si anak ini berbicara kotor atau kurang sopan kepada yang lebih tua si Ibu dapat memberikan penguatan negatif berupa menunjukkan perilaku muka tidak senang atau muka marah atau langsung menegurnya. Karena sikap ibu yang seperti itu maka anaknya akan mengetahui bahwa hal itu tidak baik karena ibu bisa marah dan akhirnya si anak tidak mengulanginya lagi. Begitupun sebaliknya memberikan penguatan positif ketika si anak berkata sopan seperti senyuman atau mengacungkan jempol.

B. Teori-teori Kognitif
Tidak seperti model-model behaviorisme yang mempelajari proses belajar hanya sebagai hubungan S – R yang bersifat superfisial, kogni¬tivisme merupakan suatu bentuk teori yang sering disebut model kognitif atau perseptual. Di dalam model ini tingkah laku seseorang di¬tentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan-tujuannya.
Belajar itu sendiri menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pe¬mahaman, yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku. Teori ini juga menekankan pada gagasan bahwa bagian-bagian suatu situasi saling berhubungan dengan konteks seluruh situasi tersebut. Mem¬bagi keseluruhan situasi menjadi komponen-komponen kecil dan mempelajarinya secara ter¬pisah adalah sama dengan kehilangan se¬suatu yang penting.
Belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan infor¬masi, emosi dan faktor-faktor lain. Belajar, men¬cakup pengaturan stimulus yang diterima dan dinyesuaikan dengan struktur kognitif yang terbentuk di dalam pikiran sesorang berdasar¬kan pengalaman-pengalaman sebelum¬nya.
Jadi hubungan S – R pada teori kognitivisme adalah sebagai berikut:
S ——-> Perubahan internal tiap individu
R ——-> Respons

1. Teori Behaviorisme purposive dati Tolman
Teori behaviorisme purposif yang dikenalkan oleh Tolmanmengajarkan bahwa apabila suatu ransangan tertentu menimbulkan responstertentu, maka akan kita lihat ransangan itu dalam perspektif yang baru. Umpamanya, pada waktu di SD atau SLTP kita diajar untuk selalu berlakusopan dan menghormati guru. Sebagai akibatnya bila kita berhadapandengan dosen atau guru besar di perguruan tinggi (berupa ransangan) makakita juga akan berlaku sopan, hormat, dan diam mendengarkan kuliahnya(berupa respons). Namun, dosen itu mungkin akan marah jika kita bersikapdemikian, karena masih dianggapnya sebagai anak-anak, bukan mahasiswa.Kita dituntut untuk lebih terbuka, lebih banyak berbicara, dan tidak terlalubersifat formal. Sebagai akibatnya kognisi kita akan membuat respon yangbaru.Menurut Tolman kognisi kita (yang merupakan variable-variabelpenengah atau mediasi) selalu bekerja antara respons dan ransangan. Makaitu, manusia selalu membuat satu peta kognitif pembelajaran, berupaganjaran-ganjaran yang ditentukan tempatnya; lalu cara lain dicari untukmendapatkan ganjaran yang sama. Tolman juga menekankan ap a b i la k i ta i n g in m em a h a mi pe ri l a k u s e se o r a ng dengan baik maka terlebih dahulu kitaharus memahami tujuan yang ingin dicapai oleh orang tersebut. Jadi,unsure-unsur utama dan perlu dalam teori behaviorisme purposif adalahransangan, kognisi, peta kognisi, tujuan, dan barulah respon (gerak balas).

2. Teori Medan Gestalt Dari Wertheirmer
Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebih dari pada bagian- bagiannya.
Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok , yaitu hukum Pragnaz, dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu,yaitu hukum –hukum keterdekatan , ketertutupan, kesamaan , dan kontinuitas.
Ia adalah peletak dasar psikologi Gestalt, yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Suatu konsep terpenting dalam Psikologi Gestalt adalah tentang “insight” yaitu pengamatan/pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian di dalam sutu situasi permasalahan.
Contoh insight seperti pernyataan spontan “aha” atau “ooh” atau I see now.

Wertherimer menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian, bukan hafalan akademis. Menurut pendapat Gestaltis, semua kegiatan belajar menggunakan insight atau pemahaman terhadap hubungan-hubungan, terutama hubungan-hubungan antara bagian keseluruhan. Tingkat kejelasan atau keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan belajar seseorang daripada dengan hukuman dan ganjaran.

3. Teori Medan dari Lewin
Teori belajarnya disebut “Cognitive Field”. Lewin berpendapat, bahwa tingkah laku merupakan hasil interaksi antara kekuatan-kekuatan, baik yang dari dalam individu seperti tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan; maupun dari luar diri individu seperti tantangan dan permasalahan.

Menurut Lewin, belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan struktur kognitif itu adalah hasil dari dua macam kekuatan, satu dari struktur medan kognisi itu sendiri, yang lainnya dari kebutuhan dan motivasi internal individu. Peranan motivasi lebih penting daripada reward. Ciri-ciri utama dari medan Lewin dapat diringkaskan sebagai berikut: (1) tingkah laku adalah suatu fungsi dari medan yang ada pada waktu tingkah laku itu terjadi; (2) analisis mulai dengan situasi sebagai keseluruhan dari mana bagian-bagian komponen dipisahkan; dan (3) orang yang konkret dalam situasi yang konkret dapat digambarkan secara matematis. Yang pada intinya teori ini dapat diibaratkan dengan Magnet, di mana magnet ini akan menarik besi-besi yang ada disekitarnya. Maksudnya adalah magnet diibaratkan sebagai pribadi seseorang dan besi dibaratkan sebagai lingkungannya.
Salah satu yang dapat dilakukan dalam pembelajaran bahasa adalah ketika seorang ibu ingin mengajarkan kepada anaknya memanggil ibu, bapak, kakek, nenek, kakak, adik, dsb. Maka ketika si ibu berbicara kepada anaknya dia menyebut bapak, ibu, dsb. Contoh : “Ibu pergi dulu yah nak.”, “Bagi makanannya sama kakak”, “Ayo pergi sama nenek”. Dengan berkata seperti itu anaknya akan meniru sapaan ibunya yaitu memanggil ibu, kakak, atau nenek. Begitupun sebaliknya ketika ibu berbicara seperti biasanya maka anaknya pun akan seperti itu. Contoh : si ibu berbicara kepada anaknya yang lebih tua yang bernama Rofar. “Kamu pergi sama Rofar saja ya Nak!”, maka si anak pun akan memanggil kakaknya ‘Rofar’ bukan ‘kakak’.
4. Teori Perkembangan Kognitif dari Piaget
Jean Piaget menekankan bahwa anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri; informasi tidak sekadar dituangkan ke dalam pikiran mereka dari lingkungan. Piaget yakin bahwa anak-anak menyesuaikan pikiran mereka untuk mencakup gagasan-gagasan baru, karena informasi tambahan memajukan pemahaman. Piaget yakin bahwa manusia menyesuaikan diri dengan tiga cara yaitu asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi. Jika dilihat dari pembelajaran bahasa maka kita dapat mengambil proses pemerolehan bahasa oleh anak.
Contoh : pada tahap asimilasi (0-2 tahun) anak akan menggabungkan informasi baru berupa kata-kata baru ke dalam pengetahuannya dan mencoba belajar mengucapkan kata-kata tersebut. Kemudian pada tahap akomodasi (2-7 tahun) anak mulai menyesuaikan diri dengan informasi yaitu sudah mengetahui maknanya dan melakukannya. Kemudian pada tahap Equilibrasi (7-15) anak sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sehingga ia dapat berkata yang baik dan tidak berkata buruk begitupun dengan penerapannya.
5. Teori Genetik dari Chomsky
Teori genetik kognitif ini didasarkan pada satu hipotesis yang disebut hipotesis nurani. Hipotesis ini menyatakan bahwa otak manusia dipersiapkan secara genetik untuk berbahasa. Untuk itu otak manusia telah dilengkapi dengan struktur bahasa universal dan apa yang disebut (Language Acquistion Device) LAD. Oleh karena itu, dalam pembelajaran bahasa manusia memiliki proses perkembangan yang sama dalam mempelajari bahasa baik itu orang yang IQ tinggi ataupun IQ rendah memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda dalam berbahasa. Menurut hipotesis ini setiap manusia sudah memiliki konsep sejak lahir yang bersifat universal yaitu struktur dalam. Hanya struktur luarnya saja yang berbeda setiap Negara yaitu seperti penyusunan kalimat atau penyebutannya.
Teori generatif transformasi Chomsky adalah teori linguistik yangmenerangkan dengan jelas pembentukan kalimat-kalimat gramatikal danmenjelaskan struktur setiap kalimat itu, serta mengalihkan struktur dalam bahasa kepada struktur luar bahasa untuk menentukan suatu kalimat.
Teori genetik kognitif Chomsky adalah teori yang menekankan pada otak (akal,mental) sebagai landasan dalam proses pemerolehan dan pembelajaran bahasa yangdilengkapi dengan struktur bahasa universal dan instrumen pemerolehan bahasa “Language Acquisition Device”. Adapun aplikasi teori Chomsky dalam pembelajaran Bahasa Arab diantaranya ialah pembelajar tidak mesti diberikan latihan secara intensif, tetapihanya dibimbing saja oleh gurunya; pembelajar harus diberi kesempatan yangluas untuk mengkreasi ujaran-ujaran dalam situasi komunikatif yangsebenarnya, bukan sekedar menirukan dan menghafalkan; kaidah bahasa yangdiberikan oleh gurunya dikembangkan oleh pembelajar; pemilihan materipelajaran tidak ditekankan pada hasil analisis kontrastif, melainkan padakebutuhan komunikasi dan penguasaan fungsi-fungsi bahasa; dan sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s