NURUL FAIZAH 105104079

TEORI PEMBELAJARAN DALAM PSIKOLOGI DAN TEORI-TEORI KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

 

  1. 1.    Teori Stimulus Respon

 

  1. a.      Teori Ivan Petrovich Pavlov

Teori pembiasaan yang dilakukan oleh Pavlov bermula dari percobaannya yang ingin melihat proses rangsangan terhadap anjing, di mana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan. Teori ini terdiri dari 4 elemen yang terpisah, yaitu:

  1. US (unconditioned stimulus) = stimulus asli atau netral
  2. UR (unconditioned respons) = respon tak bersyarat
  3. CS (conditioning stimulus) = stimulus bersyarat
  4. CR (conditioning respons) = respons bersyarat

Teori ini dapat dikaitkan dengan pembelajaran bahasa, seperti: seorang anak SD yang tidak dapat membaca. Ketika anak diberikan hadiah yang dapat berupa coklat, permen, dsb. Maka, anak tersebut akan berlatih agar dapat membaca dengan baik karena ia menginginkan hadiah yang diberikan dari gurunya. Setelah hal ini dibiasakan dalam beberapa lama, maka hadiah yang berupa coklat atau permen itu diganti dengan pujian. Maka, dengan otomatis anak tadinya malas belajar untuk membaca akan menjadi anak yang rajin membaca, bahkan ia ingin membaca lebih banyak dibandingkan dengan temannya yang lain. Hal ini terjadi, karena adanya motivasi sebagai perangsang bersyarat dan coklat sebagai perangsang tak bersyarat.

 

  1. b.     Teori Asosiasi Edward L. Thorndike

 

Teori ini mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut:

  1. Hukum kesiapan (law of readiness), hukum ini pada intinya menyatakan bahwa  belajar akan berhasil apabila peseerta didik benar-benar telah siap untuk belajar. Contoh: jika kita menyuruh siswa untuk membuat karangan atau pengalaman pribadinya, sementara dalam keadaan suasana yang ribut, panas, dan gelap. Maka, siswa tersebut sulit mengarjakan tugas yang diberikan karena adanya suasana yang kurang nyaman yang dirasakan oleh siswa. Bahkan, siswa membuat alasan-alasan tertentu agar ia dapat keluar atgau menghindar dari pelajaran tersebut karena merasa bosan.
  2. Hukum latihan (low of exercise), yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi, maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat. Conntoh dalam pembelajaran bahasa: jika guru membiasakan kepada siswanya memberikaan tugas membaca puisi di depan kelas atau guru memberikan cara membaca puisi yang baik. Jika awal dari belajar mereka masih ada yang kurang percaya diri, namun jika dibiasakan dan lebih sering untuk tampil menunjukkan sesuai dengan keinginannya megekspreskan puisi tersebut, maka ia akan lebih menyukai pelajarannya dan akan tersimpan dalam memorinya. Sehingga, ia akan lebih mudah untuk tampil di depan umum.
  3. Hukum akibat (law of effect), yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Contohnya: jika seorang anak yang diminta untuk membacakan puisi di depan teman-temannya. Setelah ia membacakannya, semua siswa dengan bersorak memberikan selamat kepada siswa tersebut dan senang akan penampilannya, maka moment ini akan tersimpan dalam ingatannya. Begitupun sebaliknya, jika seorang anak telah berusaha untuk tampil lebih baik, namun saat ia tampil ia di cela karena ekspresi yang berlebihan maka ia dengan seketika aka erubah menjadi pendiam, bahkan ia akan membenci orang yang menegurnya dan membenci pelajaran tersebut.
  1. c.      Teori Behaviorisme dari John Broades Watson

Teori perubahan perilaku (belajar) dalam kelompok behaviorisme ini memandang manusia sebagai produk ligkungan. Segala perilaku manusia sebagian besar akibat pengaruh lingkungan sekitarnya. Lingkuganlah yang membentuk kepribadian manusia. Contohnya: seorang anak yang terbiasa mendengar kata “ tolo”, ia akan mengamati dan memparktikkannya kepada orang lain kata tersebut. Namun, jika orang tua yang mendengarkan kata tersebut dan langsung menegurnya dengan memberikan ancama kepadanya, maka ia akan menghilangkan kebiasaannya sedikit demi sedikit untuk mengucapkan kata tersebut. Jika anak tersebut tidak mengucapkan kata itu, maka diberikan hadiah agar ia merasa bahwa jika saya tidak mengucapkan kata tersebut maka saya akan mendapatkan hadiah. Dan memberinya saran agar mengganti ata tersebut dengan kata yang lebih baik dan menjadi do’a baginya. Seperti: kata “anak sholehah”, walaupun ia melakukan kesalahan, maka orang tua yang baik memperdengarkan kata-kata yang baik kepada anak yang masih mengalami pertumbuhan.

  1. d.     Teori Kesegeraan dari Edwin Guthrie

Hukuman (punishment) mempunyai pengaruh penting mengubah perilaku seseorang . punishment jika diberikan secara tepat dalam menghadirkan sebuah stimulus yang memunculkan perilaku inappropriate, dapat menyebabkan subyek melakukan sesuatu yang berbeda.

Kaitan teori ini dalam pembelajaran bahasa dapat diterapkan oleh seseorang yang memiliki kecenderungan berperilaku berbahasa jelek kepada teman sebayanya. Misalnya menyebutkan sapaan ‘we’ terhadap teman sebaya maupun orang lain. Ia ingin mengubah perilaku berbahasanya itu. Maka, menurut teori Guthrie, ketika stimulus berupa ucapan tersebut itu datang, maka orang itu sebaiknya diberikan teguran dengan memberikan kata sapaan lain yang lebih baik sebagai peralihan dari sapaan sebelumnya “kita”. Hal ini diperlukan pengulangan dan latihan secara terus menerus agar menjadi suatu kebiasaan baru. Tentunya menggunakan sapaan yang lebih baik dapat diterima baik oleh orang disekitarnya karena merupakan sapaan yang sopan.

e.      Teori Burrhus Frederic Skinner

Berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yang tidak tepat. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.

Jika dikaitkan dalam pmbelajaran, misalnya : jika seorang anak diperintahkan untuk membuang sampah ditempatnya dan ia melaksanakannya, maka anak itu diberikan pujian “anak pintar” atau dengan memberikan hadiah, maka anak tersebut akan senang melakukan pekerjaan itu. Namun, ketika ia tidak melaksanakan sesuai dengan perintah yang diinginkan, maka ia tidak diberikan pujian dan cuek terhadapnya karena sikapnya yang tidak benar sebagai hukuman agar ia tidak berani lagi mengulanginya.

  1. 2.    TEORI-TEORI KOGNITIF
  1. a.      Teori Behaviorisme Purposif dari Tolman

Teori ini mengemukakan bahwa apabila suatu rangsangan tertentu menimbulkan respon tertentu, maka akan dilihat respon itu dalam perspektif yang baru. Kaitan teori ini dalam pembelajaran bahasa dapat dilihat saat duduk di SD atau SMP. Saat itu, kita selalu diajar untuk bersikap sopan dan hormat kepada guru. Sebagai akibatnya, bila kita berhadapan dengan dosen atau guru besar di perguruan tinggi (berupa rangsangan) maka kita secara otomatis akan berlaku sopan, hormat, dan tidak mengucapkan sepatah kata pun karena takut jika salah (berupa respon). Namun, dosen atau guru besar itu mungkin akan marah jika kita bersikap demikian karena masih dianggapnya sebagai kanak-kanak, bukan mahasiswa. Kita dituntut untuk lebih terbuka, banyak bicara, dan tidak terlalu bersikap formal. Kondisi ini mengajarkan kita agar dapat mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan mengenai hal-hal yang belu dimengerti dan memberikan kepada otak kita agar dapat memahami materi dengan cepat.

  1. b.     Teori Medan Gestalt dari Wertheimer

Teori ini memperkenalkan lima hukum organisasi di antaranya Hukum Pragnanz, Hukum Kesamaan, Hukum Proksimiti, Hukum Kedekatan, dan Hukum Kelanjutan Baik.

Kajian teori ini dalam pembelajaran bahasa dapat diterpakan pada seorang anak yang baru saja mulai belajar berbicara dengan berusaha menguapkan kata-kata yang didengarnya sedikit demi sedikit. Contohnya: ketika seorang anak berusaha mengucapkan kata “makan” namun yang dapat dia ucapkan hanya potongan kata itu “mam”, maka orang tua seharusnya memperbaiki ucapan anak itu agar tidak terbiasa dan belajar untuk mengucapkannya secara sempurna.

  1. c.      Teori Medan dari Lewin

Teori ini mengemukakan sekumpulan konsep dengan seseorang yang dapat menggambarkan kenyataan psikologis. Lewin menggambarkan magnet sebagai individu seseorang, sedangkan besi-besi yang berada di sekitarnya sebagai lingkungan. Kaitan teori ini dalam pembelajaran bahasa diterapkan oleh kanak-kanak yang memeroleh bahasa ibunya. Ketika ia berada di kalangan keluarga yang memiliki bahasa daerah yang masih kental dan cenderung berbahasa kasar, maka anak itu akan mulai mengikuti perkataan yang didengar dari lingkungannya. Seperti: ketika orang tua sering memperlihatkan kepada anaknya ketika ia shalat, maka anak itu akan mulai belajar mengikuti gerakan kitas sedikit demi sedikit dan membiasakannya ikut setiap kali kita ingin melaksanakan sholat. Sehingga ketika ia sudah beranjak dewasa ia tidak sulit lagi melakukan gerakan sholat karena hal itu sudah tersimpan dalam memorinya.

  1. d.     Teori Perkembangan Kognitif dari Piaget

Teori ini mengemukakan bahwa anak-anak menyesuaikan pemikiran mereka untuk mencakup gagasan-gagasan baru. Piaget menekankan bahwa anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri maka ia membagi tahap-tahap perkembangan kecerdasan anak menjadi empat tahap, yaitu (1) tahap deria-motor berkisar antara 0-2 tahun; (2) praoperasi sekitar 2-7 tahun; (3) tahap operasi konkret sekitar 7-11 tahun; dan (4) operasi formal dari 11 tahun sampai dewasa.

Kaitan teori inidengan pembelajaran bahasa diterapkan oleh seorang bayi yang pada tahap awalnya ia hanya membangun pemahaman mengenai hal-hal yang ada disekelilingnya dengan melihat dan mendengar. Lalu pada tahapan selanjutnya, si anak mulai melukiskan hasil penglihatan dan pendengarannya itu dengan kata-kata dan gambar. Lalu pada tahapan usia tujuh sampai sebelas tahun si anak mulai menghubungkan pemahamannya dengan dunia nyata yang ada disekitarnya dan mulai memahami arti dari tingkahnya selama ini. Hingga usianya sebelas tahun ke atas yang merupakan tahapan terakhir dari pertumbuhan anak yang diterapkan oleh Piaget, dimana seorang anak mulai melampaui dunia nyata, dan memulai hal-hal yang baru yang lebih logis.

  1. e.      Teori Genetik Kognitif dari Chomsky

Teori ini mengemukakan bahwa otak manusia telah dipersiapkan secara genetik untuk berbahasa. Untuk itu, otak manusia dilengkapi dengan alat struktur bahasa universal yang disebut dengan Language Acquisition Device (LAD). Kaitan teori ini dalam pembelajaran bahasa mengajarkan bahwa anak yang tidak cerdas memperoleh bahasa pada waktu dan cara yang sama dengan anak  yang cerdas. Bisa dilihat pada tata bahasa setiap anak hampir sama. Itu disebabkan karena adanya sebuah alat dan skema nurani yang sama di setiap otak manusia. Seperti: seorang anak yang lancar membaca dengan yang kurang lancar memmbahasa, sebenarnya mereka memiliki potensi yang berbeda yang perlu dikembagkan dnegan menggunakan metode yang juga berbeda dari kedua anak tersebut, dengan memperhatikan kecenderungan potensi anak tersebut. Sehingga mereka dapat memiliki kemampuan yang sama dalam hal membaca. Jika diberikan latihan setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s