NUMALASARI 105104081

MENGKAJI SUATU PERCAKAPAN MENURUT TEORI-TEORI LINGUISTIK

 

Transkrip percakapan

 

Ukie    : Hai bro, pa kabar?

Sari      : Hai juga sis, Baek-baek ji. Kau ma Ifan?

Ukie    : Baek-baek ji juga.

Sari      : Kapanki bisa ketemu lagi, kangenka ma kalian?

Ukie    : Kalo saya gampangji, Ifan lagi di Jakartaki main futsal, ada pertandingannya.

Sari      : Masa?, kok ndag ngajak-ngajak?

Ukie    : Saya saja tidak di ajak.

Sari      : Kasianmu itu, pertandingan dalam rangka apa?

Ukie    : Antar kampus psikologi.

Sari      : Oh.. seringko main di Dg. Tata?

Ukie    : ndag pernahmeka.

Sari      : Karna kalah terus?

Ukie    : Tidak nach, pernahka juara dua cuma di Mangunsidika main bukan di Dg. Tata.

Sari      : Baru juga juara dua banggami.

Ukie    : Jelasmi toch, daripada kalah terus. Sudahka juga juara 1.

Sari      : Di manako juara satu? Anak SD mungkin kau temani amin?

Ukie    : Ndag lah, antar kampus toch.

Sari      : Oh.. saya kira anak SD kau lawan

 

Analisis percakapan dengan menggunakan teori-teori linguistik

  1. 1.      Teori Ferdinand De Saussure

Ferdinad De Saussure menjelaskan bahwa perilaku bertutur atau tindak tutur sebagai suatu rangkaian hubungan antara dua orang atau lebih, seperti antara A dan B. perilaku bertutur ini terdiri dari dua bagian kegiatan yaitu bagian luar dan bagian dalam. Bagian luar dibatasi oleh mulut dan telinga sedangkan bagian dalam oleh jiwa atau akal yang terdapat dalam otak pembicara atau pendengar. Jika A berbicara maka B menjadi pendengar, dan jika B berbicara maka A menjadi pendengar.

Seperti dalam transkrip percakapan di atas, yaitu dalam otak Ukie terdapat konsep-konsep atau fakta-fakta mental yang dihubungkan dengan bunyi-bunyi linguistik sebagai perwujudan yang digunakan untuk melahirkan atau mengeluarkan konsep-konsep tersebut. Saat Ukie mengemukakan sesuatu konsep kepada Sari, maka konsep tersebut akan “membukakan” pintu kepada perwujudan yang berupa imaji bunyi yang yang masih berada dalam otak, dengan terbukanya pintu imaji bunyi ini maka otak pun mengirim suatu implus yang sama dengan imaji bunyi itu kepada alat-alat ucap yang mengeluarkan bunyi. Kemudian gelombang bunyi itu bergerak dari mulut Ukie melewati udara ke telinga Sari. Dari telinga Sari, gelombang bunyi bergerak terus masuk ke otak dalam bentuk implus lalu terjadilah proses yang menghubungkan imaji bunyi ini dengan konsep yang sama seperti dalam otak Ukie. Jika Sari berbicara dan Ukie mendengarkan, maka proses yang sama akan terjadi.

 

  1. 2.      Teori Leonard Bloomfield

Leonard Bloomfield menerangkan makna (semantik) dengan rumus rumus behaviorisme. Unsur-unsur linguistik diterangkannya berdasarkan distribusi unsur-unsur tersebut di dalam lingkungan dimana unsur-unsur itu berada. Distribusi dapat dipahami secara langsung sedangkan makna tidak dapat.

Peristiwa percakapan antara Ukie dan Sari dapat diuraikan seperti berikut:

  1. Ukie mengatakan sesuatu kepada Sari.
  2. Otak Sari bekerja mulai dari mendengar perkataan Ukie hingga berkata pada Ukie.
  3. Perilaku Sari saat berkata kepada Ukie.
  4. Bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan Sari waktu barbicara Pada Ukie.
  5. Perilaku Ukie waktu mendengar perkataan Sari
  6. Otak Ukie bekerja mulai dari mendengar bunyi suara Sari hingga bertindak atau merespon perkataan Sari.

 

  1. 3.      Teori John Rupert Firth

John Rupert Firth mengemukakan bahwa struktur bahasa itu terdiri dari lima tingkatan yaitu fonetik, leksikon, morfologi, sintaksis dan semantik. Firth lebih memerhatikan pada tingkatan fonetik dan tingkatan semantik sedangkan tingkatan lain kurang diperhatikan. Seperti pada transkrip percakapan di atas. Kata “Dg. Tata” pada percakapan di atas, berdasarkan arti sintagmatik, kata tersebut mengandung beberapa makna tergantung dari konteks kalimatnya. Kata “Dg. Tata” dalam arti sebenarnya merupakan nama jalan ataupun nama orang, bisa juga “Dg.Tata” dalam arti tempat bermain Futsal. Berdasarkan makna paradigmatik, kata “Dg. Tata” yang sasuai dengan konteks percakapan diatas adalah makna yang ke dua yaitu tempat bermain fulsal. Hal tersebut terlihat dalam potongan percakapan:

Sari            : Oh.. seringko main di Dg. Tata?

Ukie          : ndag pernahmeka.

Sari            : Karna kalah terus?

Ukie          : Tidak nach, pernahka juara dua cuma di Mangunsidika main bukan di Dg. Tata.

Salah satu dimensi arti dari lima dimensi seperti yang disebutkan di atas adalah dimensi hubungan kata-kata, hal ini tidak boleh dipisahkan dari konteks situasi dan budaya. Arti satu kata tergantung dari kolokasi yang mungkin dari kata itu.

 

  1. 4.      Teori Noam Choamsky

Noam Choamsky mengemukakan bahwa teori linguistik menyangkut pada adanya pasangan penutur-pendengar yang ideal di dalam sebuah masyarakat tutur yang betul-betul merata dan sama. Maksudnya, antara penutur dan pendengar dalam penguasaan bahasanya harus memiliki kompetensi atau penguasaan bahasa yang sama. Separti pada percakapa antara Ukie dan Sari, keduanya memiliki penguasaan bahasa yang sama yaitu bahasa Indonesia dialek Makassar. Apabila penutur menggunakan bahasa Indonesia dialek Makassar dengan pendengar yang sama sekali tidak mengerti bahasa Indonesia dialek Makassar tersebut maka , secara otomatis pasangan penutur dan pendengar itu merupakan pasangan penutur dan pendengar yang tidak ideal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s