SUMIATI PUTRI NATALIA (105104072)

Tugas 3 Psikolinguistik

Nama  : Sumiati Putri Natalia

NIM    : 105104072

Kelas   : C

 

Penerapan Teori-Teori Stimulus Respon dan Teori-Teori Kognitif dalam Pembelajaran Bahasa.

  1. 1.   Teori-teori Stimulus Respon
    1. a.      Ivan Petrovich Pavlov

Hubungan eksperimen yang dilakukan oleh Ivan dalam pembelaaran bahasa adalah, seperti yang dikatakan dalam teori ekperimen yang dilakukan Ivan ada empat urutan kejadian dalam percobaan tersebut  yaitu:

a)      US (unconditioned stimulus) stimulus asli atau netral; stimulus tidak dikondisikan yaitu stimulus yang langsung menimbulkan respon.

b)      UR (unconditioned respons) disebut perilaku responden, respon tak bersyarat yaitu respon yang muncul dengan hadirnya US.

c)      CS (conditioning stimulus) stimulus bersyarat, yaitu stimulus yang tidak dapat langsung menimbulkan respon. Agar dapat menimbulkan respon perlu dipasangkan dengan US secara terus-menerus agar menimbulkan respon.

d)     CR (conditioning respons) respon bersyarat, yaitu respon yang muncul dengan hadirnya CS.

 

Sama halnya dalam percobaan terhadap anjing, keempat urutan ini juga terjadi dalam pembelajaran bahasa maupun dalam pembelajaran lain. Misalnya seorang siswa akan mengucapkan salam jika bertemu dengan gurunya (US), siswa bertemu dengan gurunya dan mengucapkan salam (UR), siswa diajari oleh gurunya bahwa jika setiap bunyi bel semua siswa harus masuk dalam kelas kemudian duduk tenang menunggu gurunya (CS), semua siswa masuk kedalam kelas duduk tenang menunggu gurunya karena bunyi bel (CR).

  1. b.      Teori Asosiasi Edward L. Thorndike

Hubungan eksperimen yang dilakukan oleh Edward L. Thorndike dengan menggunakan kucing dengan proses pembelaaran bahasa dan pembelajaran lainnya adalah:

Sama halnya dengan kucing yang ditaru dalam sebuah box kemudian diluar box ditaro makanan. Jika kucing itu lapar dia akan berusaha keluar dan tanpa sengaja menekan tombol dan box itu terbuka.  Begitupun dalam proses belajar jika seorang siswa yang mengalami kegagalan dia akan memiliki motivasi untuk tidak mengalami kegagalan lagi, dia akan terus berusaha.

  1. c.       Teori Behaviorisme dari John Broades Watson

Hubungan teori ini dengan pembelaaran bahasa adalah:

Dalam teori ini ada syarat terjadinya proses belajar dalam pola hubungan Stimulus-Respons ini adalah adanya unsur: dorongan (drive), ramgsangan (stimulus), respons, dan penguatan (reinforcement). Unsur pertama, dorongan, adalah suatu keinginan dalam diri  seseorang untuk memenuhi keinginan yang sedang dirasakannya. Misalnya seorang anak yang melihat sebuah novel yang dibaca oleh temannya kemudian ank tersebut terdorng untuk meminjam dan membaca novel tersebut.

Unsur yang kedua adalah rangsangan atau stimulus. Unsur ini datang  dari luar diri individu, misalnya seorang siswa merayu atau mengaak temannya ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas. Dari adanya rangsangan atau stimulus ini maka timbul reaksi dipihak sasaran atau komunikan. Bentuk reaksi ini bisa bermacam-macam, bergantung pada situasi, kondisi, dan bahkan bentuk dari rangsangan tadi. Reaksi-reaksi dari seseorang akibat dari adanya rangsangan dari luar inilah yang disebut dengan respons dalam dunia teori belajar. Unsur yang keempat adalah masalah penguatan. Unsur ini datangnya dari pihak luar, ditujukan kepada orang yang sedang merespons. Apabila respons telah benar, maka diberi penguatan agar individu merasa adanya kebutuhan untuk melakukan respons seperti tadi lagi.

  1. Teori Kesegeraan dari Edwin Guthrie

Hubungan antara teori kesegeraan dari Edwin Guthrie dan pemebelaaran bahasa adalah:

Guthrie menggunakan variable hibungan stimulus dan respon untuk menjelakan terjadinya proses belajar. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon lebih kuat dan menetap. Jadi penerapannya dalam pembelajaran bahasa bahwa pelajaran yang diberikan kepada siswa harus sering diulang atau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar respon yang diberikan lebih kuat dan menetap. Misalnya, bagaimana mengucapkan salam yang baik, bagaimana cara berbicara kepada orang yang lebih tua dan sebagainya.

  1. e.       Burrhus Frederic Skinner (1904-1990)

Skinner menyatakan bahwa unsure terpenting dalam belajar adalah penguatan maksudnya pengetahuan yang terbentuk melalui ingatan stimulus-respon akan semakin kuat apabila diberi penguatan . skinner membagi penguatan menadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penerapannya dalam pembelajaran bahasa adalah misalnya siswa disuruh menceritakan pengalamannya kemudian membacakannya di depan kelas atau secara lisan menceritakan pengalamnannya. Kemudian, guru menilai siapa yang baik struktur berbahasanya kemudian memberikan hadiah. Dengan memeberikan hadiah ini siswa yang lain akan terdorong untuk lebih giat belajar.

 

  1. 2.   Teori-teori Kognitif
    1. a.      Teori Behaviorisme Purposif dari Tolman

Tolman menekankan bahwa apabila kita ingin memahami perilaku seseorang dengan baik maka terlebih dahulu kita harus memahami tujuan yang ingin dicapai oleh orang tersebut. Jadi, unsur-unsur yang utama dan perlu dalam teori behaviorisme purposif adalah rangsangan, kognisi, peta kognisi, tujuan dan barulah respon. Teori ini juga sering digambarkan sebagai S-O-R dibaca Stimulus-Organisme-Respon. Disini peran O melambangkan peran kognisi yang menengahi S dan R. yang dimaksud dengan kognisi pada formula itu adalah proses akal atau mental untuk memperoleh, menyimpan, mendapatkan, dan mengubah pengetahuan. Jadi, hubungan antara teori ini dengan penerapannya dalam pembelajaran bahasa adalah misalnya pada waktu SD atau SMP kita diajarkan untuk selalu bersikap sopan, hormat kepada guru, orang tua dan teman. Akibatnya setelah masuk perguruan tinggi kita akan terbiasa melakukan hal demikian bersikap sopan, hormat kepada dosen, senior dan tentunya orang tua. Tapi satu kekurangannya kita membawa kebiasaan di SD dan SMP yang hanya diam mendengar penjelasan guru, padahal di perguruan tinggi justru kitalah yang harus banyak bicara.

  1. b.      Teori Medan Gestalt dari Wertheirmer

Teori Gestalt berpendapat bahwa di samping pengalaman, perlu uga adanya kemampuan melihat hubungan-hubungan keseluruhan diantara elemen-elemen situasi, dan membentuk satu organisasi dari hubungan-hubungan ini. Jadi, hubungan teori ini dengan pembelaaran bahasa bahwa pelajaran yang diberikan kepada siswa tidak hanya bergantung pada pengalaman-pengalamannya tentang pelajaran itu tetapi bagaimana siswa dapat menghubungkan pelajaran itu dalam kehidupan sehari-hari seperti situasi.

  1. c.       Teori Medan dari Lewin

Lewin mengembangkan satu konsep penting dalam teorinya yang hampir sama dengan teori medan gestalt, yakni konsep “ruang penghidupan” dimana setiap perilaku berlangsung. Menurut lewin ruang penghidupan seseorang terdiri dari:

a)      Diri sendiri, keperluan utama sendiri, keperluan diri pada suatu saat tertentu, maksud dan rencana sendiri.

b)      Lingkungan perilaku orang itu, lingkungan fisik, lingkungan sosial, lingkungan konsepsi sebagai yang ditanggapinya dalam hubungannya dengan ke[perluan-keperluan dan maksud-maksudnya.

Jadi, hubungan teori ini dengan pembelajaran bahwa seorang siswa dalam proses pembelajaran bergantung pada dirinya sendiri dan lingkungan perilaku siswa tersebut.

  1. Teori Pengembangan Kognitif dari Piaget

Hubungan antara teori Piaget dalam pembelaaran bahasa bahwaanak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri, informasi tidak sekadar dituangkan kedalam pikiran mereka dari lingkungan. Piaget yakin bahwa anak-anak menyesuaikan pikiran mereka untuk mencakup gagasan-gagasan baru, karena informasi tambahan memaukan pemahaman. Menurut Piaget proses belajar ada tiga yaitu:

a)      Asimilasi, yaitu terjadi ketika individu menghubungkan informasi baru kedalam pengetahuan mereka yang sudah ada.

b)      Akomodasi, yaitu teradi ketika individu menyesuaikan diri dengan informasi baru.

c)      Equiblirasi.

  1. e.       Teori Genetik dari Chomsky

Hubungan teori ini dalam proses pembelajaran sangat erat karena dalam hipotesis ini dikatakan bahwa otak manusia dipersiapkan secara genetik untuk berbahasa. Teori genetik-kognitif ini didasarkan pada suatu hipotesis yang disebut hipotesis nurani. Otak manusia dilengkapi dengan struktur bahasa universal yang disebut Language Acquisition Device (LAD). Dalam proses pemerolehan bahasa LAD ini menerima “ucapan-ucapan” dan data-data lain yang berkaitan melalui pancaindra sebagai masukan dan membentuk rumus-rumus linguistic berdasarkan masukan itu yang kemudian dinuranikan sebagai keluaran. Chomsky berpendapat bahwa tidak mungkin seorang kanak-kanak mampu menguasai bahasa ibunya dengan begitu mudah yaitu tanpa diajar dan begitu cepat dengan masukan yang sedikit tanpa adanya struktur universal dan LAD itu di dalam otaknya secara genetik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s