NUGRA RESKI SYANDIAMI 105 104 078 C’PBSI’

Nugra Reski Syandiami

 

MENGKAJI SUATU PERCAKAPAN MENURUT TEORI-TEORI LINGUISTIK

TRANSKRIP PERCAKAPAN

 

Arif (A): “Nu’, Orang Pangkepki’?”

Nunu (N): “A’… iye’, kenapa?”

A: “Boleh itu pale’ sekali-kali acara bakar-bakar orang?^^.”

N: “Apa?, bakar-bakar orang?, maksudnya Ka’?”

A: “bakar-bakar ikan maksudku hahaaha^^.”

N: “Oh. hahaha”😀

A: “di Pangkep banyak ikan bolu pasti toh, bamana menurutmu Ima? Haaha ^^”

N: “ahh nda gitu tonji ka’, haruskah?”

Ima (I): “ehh ka’ jeruk ji itu kalo Nunu… toh Nu’?”

A: “ohh ia kah? Emm itu juga bagus^^, jadi kapan”

N: “Ededeh, Ima kah —”

A: “hehe, takutnya… bercandaja’, takutnya ini ade’e’… kenapakah?”

F: “Mm… bercandaja juga ka’ haha ^^”

I: “ie’ ka’ bercandaji juga tawwa, berarti segerami maksudnya hahaJ.”

A: “Mm. baguslah”

N: “ie’ ka’insya Allah toh?”

I: “asikk e.”

N: “Apanya? Ku ajakki juga kah?”

A: “ihh, jangan begitu, sesama teman harunya bisa saling berbagi.”

N: “ooo begitu ka ka’?”

I: “Nah, itu baru teman. Sepakat ka’.”

A: “Ya,”

N: “Minggu depan bagaimana?”

A: “seriusmi ini?”

N: “emm…?”

A: “kenapa emm, raguki’?”

N: “ berpikirka lagi^^?”

A: “Berpikir lagi.. ayo’mi, toh minggu depan liburki.

I: “Iyo. Betul-betul-betul”

A: “jadi Nu’ gmana?”

N: “okelah. Minggu depan nah, makan jeruk saja… hahaha^^”

A: okee… dengan senang hati.

 

 

 

ANALISIS PERCAKAPAN MENURUT TEORI-TEORI LINGUISTIK

 

A.    Teori Ferdinand De Saussure

Teori ini mengemukakan bahwa jika A berbicara maka B akan menjadi pendengar, dan jika B berbicara maka A menjadi pendengar. Sebab, menurut De Saussure, perilaku bertutur ini terdiri dari dua bagian kegiatan, yaitu bagian-luar yang dibatasi oleh mulut dan telinga dan bagian-dalam yang merupakan jiwa atau akal yang terdapat dalam otak pembicara dan pendengar. Menurut teori De Saussure, jika dianalisis dari transkrip diatas, dalam otak Arif terdapat konsep-konsep atau fakta-fakta mental yang dihubungkan dengan bunyi-bunyi linguistik sebagai perwujudannya yang digunakan untuk melahirkan atau mengeluarkan konsep-konsep  mengenai daerah pangkep yang dikenal dengan ikan bandeng/ bolunya. Saat Arif  mengemukakan sebuah konsepnya kepada Nunu (pendengar) maka konsep itu “membukakan” pintu kepada pewujudnya yang berupa imaji bunyi yang masih berada dalam otak. Kemudian lambang bunyi bergerak dari mulut Arif melewati udara ke telinga Nunu. Dari telinga Nunu, gelombang bunyi bergerak terus masuk ke otak Nunu dalam bentuk impuls. Lalu terjadilah proses psikologis yang menghubungkan imaji bunyi ini dengan konsep yang sama, seperti yang ada dalam otak Arif. Saat Nunu menanggapi pembicaraan Arif sedangkan Arif mendengarkan, proses yang sama akan terjadi.

B.     Teori Leonard Bloomfield

Bloomfield merupakan seorang linguis beraliran behavioris atau perilaku. Bloomfield menerangkan makna (semantik) dengan rumus-rumus behaviorisme. Unsur-unsur linguistik diterangkannya berdasarkan distribusi unsur-unsur tersebut yang terlihat di dalam lingkungan unsur-unsur itu berada.

Peristiwa percakapan Arif-Nunu-Ima dapat diuraikan sebagai berikut.

(1)   Perilaku atau kegiatan Arif sewaktu berkata kepada Nunu dan Ima.

(2)   Bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan Arif waktu berbicara kepada Nunu dan Ima.

(3)   Perilaku atau kegiatan Nunu dan Ima sewaktu mendengarkan bunyi-bunyi atau suara yang       dikeluarkan arif.

(4)   Otak Nunu dan Ima bekerja mulai dari mendengar bunyi suara Fikar sampai memberikan tanggapan balik.

 

C.    Teori John Rupert Firth

Menurut teori Firth, bahasa itu terdiri dari lima tingkatan yaitu tingkatan fonetik, leksikon, morfologi, sintaksis, dan semantik. Unsur fonetik adalah fonem, unsur morfologi adalah morfem, unsur sintaksis adalah kategori-kategori sintaksis, dan unsur semantik adalah kategori-kategori semantik. Transkrip percakapan di atas telah menunjukkan perbedaan fonem yang sangat mencolok. Misalnya fonem [mi] dan [ki] memiliki komponen fon yang sama yakni /i/, namun kedua kata tersebut memiliki makna berbeda. Begitu pula dengan perbedaan morfologi yang sangat mencolok. Kata begitu dan gitu menunjukkan perbedaan, sehingga membuat makna kedua kata tersebut mungkin saja berbeda. Dalam tingkatan sintaksis, dari transkrip percakapan di atas, menunjukkan struktur yang tidak beraturan sebab berasal dari percakapan lisan tiga orang yang memiliki kompetensi bahasa yang sama yaitu sama-sama berkompetensi berbahasa Indonesia dialek Makassar. Sedangkan dalam tingkatan semantik, walau memiliki konsep yang sama mengenai sesuatu.

D.    Teori Noam Chomsky

Teori Chomsky ini menyangkut adanya pasangan penutur-pendengar yang ideal dalam sebuah masyarakat tutur yang betul-betul merata dan sama. Keduanya, penutur dan pendengar itu, harus mengetahui dan menguasai bahasanya dengan baik. Chomsky pun membedakan adanya kompetensi (kecakapan linguistik) dan performansi (pelaksanaan atau perlakuan linguistik). Kedua komponen tersebut telah dijalankan secara baik oleh Arif, Nunu dan Ima  dalam percakapan di atas. Kompetensi linguistik yang dimiliki Arif dapat diterima baik oleh kompetensi Nunu dan Ima yang seimbang sehingga performansi Arif  juga dapat ditanggapi oleh Nunu dan Ima yang memiliki performansi yang sama.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s