ASYER SANGGALANGI (105104068)

Analisis Percakapan                                                                                      Asyer Sanggalangi

                                                                                                         105104068

                                                                                                         Kelas C

 

PERCAKAPAN HITAM PUTIH

Percakapan Dedi dan Marissa.

Dedi: “Boleh tahu gak usianya berapa?”

Marissa: “Dua puluh enam, sekarang.”

Dedi: “Berarti udah punya cowok dong?”

Marissa: “Udah, iya.”

Dedi: “Dulu yang digosipin di luar kan Vj Daniel yah?”

Marissa: “Iya.”

Dedi: “Trus setelah itu, tidak ada kabar lain sama cowok lain?”

Marissa: “Ehm, aku sih udah pacaran lebih dari tiga tahun sama yang sekarang. Cuman dia bukan dari dunia entertain. Dan orangnya juga gak terlalu gaul, jadi kasihan. Itu nanti diketawain di kantor.”

Dedi: “Owh, tapi, namanya gak boleh dikasih tahu?”

Marissa: “Rafael sudah sering disebut  jadi gak papa.”

Dedi: “Namanya Rafael? Oke.”

 

Analisis percakapan:

  1. 1.      Teori Ferdinand De Saussure

Menurut teori ini, percakapan antara Dedi dan Marissa di atas di lihat dari perilaku bertutur bagian luar, saat Dedi bertanya, Marissa menjadi pendengar. Begitu juga sebaliknya. Menurut De Saussure, metode yang sesuai dalam analisis linguistik adalah segmentasi dan klasifikasi. Dengan kedua metode ini seorang linguis akan menentukan pola-pola untuk mengklasifikasikan unit-unit yang dianalisis.

Pembentukan kalimat menurut De Saussure bukanlah semata-mata urusan langue, tetapi lebih banyak menyangkut urusan parole. Parole adalah bahasa yang konkret yang keluar dari mulut seorang pembicara. Dari percakapan di atas, dapat terlihat parole saat Dedi ataupun Marissa mengeluarkan bahasa dari mulutnya dan dapat didengarkan.

Langue, menurut definisi De Saussure adalah satu sistem tanda atau lambang yang arbitrer, dan digunakan untuk menyatakan ide-ide, dan mempunyai aturan-aturan. Langue satu sistem nilai murni yang terdiri dari pikiran yang tersusun yang digabungkan dengan bunyi. Contohnya saat Dedi ingin berbicara, dia telah memiliki langue di pikirannya kemudian digabungkan dengan bunyi sehingga tercipta bahasa sebagai alat interaksi dalam percakapan tersebut.     

  1. 2.      Teori Leonard Bloomfield

Menurut Bloomfield, bahasa merupakan sekumpulan ujaran yang muncul dalam suatu masyarakat tutur. Jadi, percakapan di atas merupakan bahasa. Menurut teori Bloomfield percakapan di atas terdiri dari sejumlah isyarat berupa unsur-unsur vokal yang dinamai bentuk-bentuk linguistik. Setiap bentuk-bentuk linguistik pada percakapan merupakan kesatuan isyarat yang dibentuk oleh fonem-fonem.

Contohnya: boleh terdiri dari lima fonem, yaitu: /b/, /o/, /l/, /e/, dan /h/. Kata boleh merupakan ujaran.

  • Gosip merupakan ujaran
  • Digosipin merupakan ujaran
  • di-  adalah bentuk bukan ujaran.

Dari contoh di atas, menurut Bloomfield ada dua macam bentuk:

  1. Bentuk bebas, yaitu bentuk yang dapat diujarkan sendirian seperti bentuk gosip dan boleh dalam percakapan di atas.
  2. Bentuk terikat, yaitu bentuk linguistik yang tidak dapat diujarkan sendirian seperti bentuk di- dalam kata digosipin pada percakapan di atas.

Dari percakapan di atas jika dihubungkan dengan istilah dalam teori Bloomfield maka:

  1. Fonem: susunan bunyi terkecil dalam leksikon suatu bahasa. Contohnya, bunyi g pada kata gosip.
  2. Morfem: unit terkecil yang mempunyai makna dari bentuk leksion. Contohya: pada kalimat boleh tahu gak usianya berapa? Terdapat morfem –boleh, -tahu,- gak, -usia, -nya, -berapa.
  3. Frase: unit yang tidak minimum yang terdiri dari dua bentuk bebas atau lebih. Contohnya: pada kalimat dua puluh enam, sekarang terdapat frase  dua puluh enam.
  4. Kata: bentuk bebas yang minimum yang terdiri dari satu bentuk bebas. Contohnya: pada kalimat udah, iya  udah dan iya merupakan kata.
  5. Kalimat: ujaran yang tidak merupakan bagian dari ujaran lain dan merupakan satu ujaran yang maksimum. Contohnya: berarti udah punya cowok dong.  

                    

  1. 3.      Teori John Rupert Firth

Berdasarkan teori Firth, percakapan di atas yang paling penting adalah konteks. Konteks itu sendiri ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Percakapan di atas bahanyanya adalah merupakan susunan dari konteks-konteks tersebut.

Dari percakapan di atas arti kalimatnya terdiri dari lima dimensi yaitu:

  1. Hubungan tiap fonem dengan konteks fonetiknya. Contoh: dalam kata gosip terdapat hubungan antara lima fonem dalam kata tersebut yaitu bunyi g, o, s, I, dan P.
  2. Hubungan kata-kata satu sama lain dalam kalimat.
  3. Hubungan morfem pada satu kata dengan morfem yang sama pada kata lain, dan hubungannya dengan kata itu.
  4. Jenis kalimat dan bagaimana kalimat itu digolongkan.
  5. Hubungan kalimat dengan konteks situasi.

 

Firth memperkenalkan dua kolokasi untuk menerangkan arti, yaitu arti gramatikal dan arti fonologis. Percakapan di atas jika dihubungkan dengan arti gramatikal, misalnya pada kalimat Dulu yang digosipin di luar kan Vj Daniel yah arti gramatikal digosipin adalah peranan atau hubungannya dengan yang dan –di.

Arti fonologi adalah peranan atau hubungan dari unsur-unsur fonologi di dalam konteks fonologi dari struktur suku kata dan unsur-unsur lain yang bersamaan secara paradigmatik yang dapat berperan dalam konteks yang serupa. Misalnya pada percakapan di atas pada kata setelah itu… kata setelah beralokasi dengan itu. Artinya, sebuah kata ditentukan oleh konteks linguistiknya.

Analisis prosodi menurut Firth, dapat digunakan untuk menganalisis bahasa dan membuat pernyataan-pernyataan yang sistematis. Secara singkat dapat disumpalkan bahwa yang dimaksud dengan prosodi menurut teori Firth adalah struktur kata beserta ciri-ciri khas lagu kata itu sebagai sifat-sifat abstraksi tersendiri dalam keseluruhan fonologi bahasa itu. Jadi, yang termasuk dalam fitur-fitur prosodi suatu kata adalah:

  1. Jumlah suku kata
  2. Hakikat suku katanya
  3. Kualitas suku-suku kata
  4. Urutan suku-suku kata
  5. Urutan bunyi-bunyi vokal
  6. Tempat, hakikat, dan kuantitas bunyi-bunyi penting
  7. Kualitas “gelap” atau “terang” dari suku-suku kata
  8. Ciri-ciri hakiki lagu suku kata dan juga potongan kalimat tempat suku kata itu terdapat.
  9. Semua sifat yang termasuk suku kata, urutan suku kata, dan keharmonisan suku kata dalam kata, potongan kalimat, dan keseluruhan kalimat.

 

  1. 4.      Teori Noam Chomsky

Menurut Chomsky untuk dapat menyusun tata bahasa dari suatu bahasa yang masih hidup haruslah ada suatu teori umum mengenai apa yang membentuk tata bahasa itu. Dari percakapan di atas, menurut Chomsky bahasanya adalah sejumlah kalimat. Bahasa yang digunakan pada percakapan di atas memiliki panjang yang yang setiap kalimatnya adalah terbatas dan dibina oleh sejumlah unsur yang terbatas.

Setelah itu dalam kalimat pada percakapan di atas merupakan aspek kreatif yaitu perilaku linguistik yang biasa, bebas dari rangsanan, bersifat mencipta dan inivatif. Kaidah-kaidah yang menentukan bentuk-bentuk kalimat pada percakapan di atas merupkan keabstrakan lambang-lambang linguistik. Prinsip-prinsip dasar organisasi linguisik adalah keun iversalan linguistik yang oleh Chomsky kemudian disebut tata bahasa universal. Tata bahasa mempunyai peranan yang sangat penting dalam pemerolehan bahasa dan peranan ini sama dengan peranan yang dimainkan tata bahasa generatif transformasi, misalnya,  di dalam pengenalan bentuk-bentuk fonetik suatu kalimat karena rumus-rumus tata bahas itu digunakan dalam analisis sintaksis kalimat itu untuk mengenal isyarat-isyarat fonetik itu .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s