Hajrah Nengsih 105104063

Oleh: Hajrah Nengsih

TEORI PEMBELAJARAN DALAM PSIKOLOGI

 A.  Teori-teori Stimulus Respon

1.    Teori Ivan Pavlov

Ivan Petropich Pavlov adalah seorang fisiolog, psikolog, dan dokter Rusia. Pada tahun 1903 Pavlov menerbitkan sebuah hasil eksperimen terhadap seekor anjing yang disebutnya “refleks terkondisi”. Ia menemukan bahwa refleks terkondisi akan tertekan bila ransangan ternyata terlalu sering “salah”. Dalam teori ini, dapat di terapkan dalam proses pebelajaran.

“sebagai contoh, Hadiah dapat meransang anak untuk dapat belajar lebih giat. Seorang anak akan tertarik untuk belajar jika sering mendapat ransangan yang dapat membangkitkan semangatnya, hal ini harus sering dilakukan sebagai pembiasaan agar anak lebih giat belajar”.

 2.    Teori Asosiasi Edward L. Thondike

Edward L. Thondike (1874-1949) adalah salah seorang penganut paham psikologi tingkah-laku. Berdasarkan hasil percobaannya di laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan, ia mengemukakan suatu teori belajar yang dikenal dengan teori “pengaitan”. Teori tersebut menyatakan bahwa belajar pada hewan dan manusia pada dasarnya berlansung menurut prinsip yang sama yaitu, belajar merupakan peristiwa terbentunya ikatan (asosiasi) antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus-respon.

Selain itu, bentuk belajar yang paling khas baik pada hewan maupun pada manusia menurutnya “trial and error learning atau selecting and connecting learnng”.

“Sebagai contoh dalam pembelajaran, dapat kita lihat pada usia kanak-kanak. Semisal kita menyiapkan pasel angka, sementara ia belum mengetahui angka-angka tersebut. Ada lima angka yang harus dipasangkan dalam pasel itu. Ia akan mencoba memasangkan setiap angka dalam satu tempat dan berusaha sampai angka itu bisa cocok pada tempatnya. Dalam melaksanakan coba-coba ini, ia cenderung melakukan kesalahan. Hal inilah yang disebut trial and error”.

 3.    Teori Behaviorisme dari John Broades Watson

John Watson dikenal sebagai pendiri aliran behaviorisme di Amerika Serikat. Menurut Watson, psikologi harus menjadi ilmu yang objektif, oleh karena itu ia tidak mengakui adanya kesadaran yang hanya diteliti melalui metode introspeksi. Watson juga berpendapat bahwa psikologi harus dipelajari seperti mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam. Oleh karena itu psikologi menyelidiki perilaku yang nyata saja.

“Sebagai contoh, seseorang yang mengatakan bahwa akan lebih mudah belajar jika berada ditempat yang sunyi. Mereka sudah tahu dan terbiasa melakukan itu, jadi mereka mencari tempat dan waktu dimana tidak ada yang menganggu mereka. Mereka tidak akan mencari tempat yang bising dan banyak keributan. Pagdahal bisa saja dengan suara musik misalnya, dapat membantu proses belajar itu dengan baik”.

 4.    Teori Kesegeraan dari Edwin Guthrie

Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yang gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Greddler, 1991). Saran utama dalam teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Pelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelolah kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang tidak mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler, 1991).

“sebagai contoh, dalam proses pembelajaran seorang guru yang memberikan tugas kepada seorang siswa. Agar siswa tidak mengabaikan tugas tersebut, maka bagi siswa yang tidak mengerjakan tugas akan mendapat hukuman. Akan tetapi, hukuman yang dimaksud bukanlah hukuman yang berimbas pada fisik, melainkan hukuman yang dapat merubah pola tingkah laku seorang anak. Misalnya yang tidak mengerjaka tugas akan diberikan tugas tambahan merangkum isi buku. Jadi, hukuma yang ia dapat memberikan manfaat tersendiri baginya”.

 5.    Teori Burrhus Frederic Skinner (1904-1990)

Burrhus Frederic Skinner adalah tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung (directed instruction) dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning yang berkebangsaan Amerika. Skinner menyatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement) maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan, yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memingatan apapun pada perilaku yang tidak tepat.

“sebagai contoh dalam pembelajaran, seorang anak TK (taman kanak-kanak) yang ditunjuk oleh guru  untuk menghafal doa belajar. Ketika anak itu bisa membaca doa dengan baik dan benar, maka tema-teman yang lain harus tepuk tangan yang meriah. Tetapi jika anak itu tidak bisa membacakan doa dengan baik dan benar, maka sang anak harus menyanyi yang disertai dengan gerakan”.

 B.  Teori-teori Kognitif

1.    Teori Purposif dari Tolman

Bagi Tolman, pembelajaran terjadi karena subjek membawa harapan-harapan tertentu ke dalam situasi pembelajaran. Berdasarkan prinsip-prinsip ini, proses pembelajaran akan lebih efektif apabila pelajar mampu mengenal tujuan yang akan dicapainya dan selanjutnya mampu mengarahkan perilaku belajarnya ketujuan tersebut.

“sebagai contoh penerapan dalam pembelajaran, seorang siswa harus mampu mengetauhui apa yang ingin ia capai dalam pembelajaran itu, misalnya dalam pembelajaran psikolinguistik yang akan membahas bahasa dan fungsinya, ia harus mampu mengarahkan tujuan yang ingin ia capai, contohnya ingin mengetahui apa itu bahasa, fungsinya, dan lain sebagainya. Hal ini akan lebih efektif dilakukan daripada hanya masuk duduk dan mendengarkan apa yang diberikan, tanpa ada tujuan sebelumya. Jadi pada saat selesai pembelajaran, seorang anak harus bisa mendapatkan rumusan tujuan yang ia ingin capai sebelumya”.

 2.    Teori Medan Gestalt dari Wertheimer

Menurut Gestalt, pembelajaran merupakan suatu fenomena yang bersifat kognitif dan melibatkan persepsi suatu benda, orang atau peristiwa dengan cara-cara yang lain. Teori Gestalt  juga berpendapat bahwa di samping pengalaman, perlu juga adanya kemampuan melihat hubungan-hubungan keseluruhan di antara elemen-elemen  situasi, dan membentuk satu organisasi dari hubungan-hubungan ini.

“contoh, kita selalu cenderung mengarah pada persepsi yang sempurna, dalam sebuah gambar misalnya, sebuah foto yang yang sebagian gambarnya tertutupi. Kita beranggapan bahwa gambar itu adalah foto mario teguh misalnya. Padahal, bisa saja foto itu bukan dia. Tetapi karena kecenderungan kita selalu mengarah pada hukum pagnanz, sehingga kita bisa berpersepsi seperti itu yang disertai dengan pengalaman sebelumnya”.

 3.    Teori Medan dari Lewin

Inti dari teori ini dapat diibaratkan sebagai Magnet, di mana magnet ini akan menarik besi-besi yang ada disekitarnya. Artinya, magnet diibaratkan sebagai pribadi seseorang dan besi sebagai lingkungannya.

“misalnya, apa yang anak dapatkan dari lingkungan sekitar, maka itu pulalah yang akan menjadi kebiasaannya. Salah satu contoh sederhana, ketika sang anak berada dalam lingkungan keluarga yang terdidik dan mendapat tutur bahasa yang sopan, maka si anak akan terbiasa pula menggunakan kata itu. Dalam bahasa makassar misalnya penggunaan kata “iye” dianggap lebih sopan daripada kata “iyo”. Sebaliknya seorang anak yang hidup dalam lingkungan yang tak terdidik dalam artian sering mendengar kata-kata yang tidak sopan, misalnya kata “sundal” maka ia akan menggunakan kata itu pula. Jadi, lingkungan sangatlah berperan penting untuk membentu pribadi seorang anak”.

 4.    Teori Pengembangan Kognitif dari Piaget

Piaget membagi proses belajar anak dengan tiga cara yaitu asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi.

“misalnya pada tahap asimilasi, anak yang baru berusia sekitaran satu tahun, ia baru belajar mengucapkan kata-kata dan menggolong-golongkannya. Pada tahap akomodasi, usia anak sekitar 2-7 tahun, sudah mampu menyesuaikan diri dengan lingkngannya. Dan pada tahap equilibrassi, usia anak berusia sekitar 7-15 tahun sudah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

 5.    Teori Genetik dari Chomsky

Teori kognitif genetik ini didasarkan pada satu hipotesis yang disebut hipotesis nurani. Hipotesis ini menyatakan bahwa otak manusia dipersiapkan secara genetik untuk berbahasa. Untuk itu otak manusia telah dilengkapi dengan struktur bahasa universal dan apa yag disebut LAD (language acquistion device).

“berdasarkan hipotesis Chomsky tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap mausia sudah mempunyai LAD yang sama dengan perkembangan yang sama pula, hanya saja proses pemerolehan atau apa yang didapatkan itu yang berbeda-beda. Hal ini biasanya dipengaruhi dengan lingkungan, cacat, dan lain sebagainya.

 

Rujukan:

Mahmudah. 2012. Psikolinguistik “kajian teoretik”. Makassar.

Chaer, Abdul. 2009. Psikologi. Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s