Penerapan Teori Pembelajaran Psikologi dalam Pembelajaran Bahasa

Penerapan Teori-Teori Pembelajaran Psikolinguistik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Widieunike

105104067

C PBSI

1. Teori-Teori Stimulus Respon

a. Teori Classic Conditioning oleh Ivan Petrovich Pavlov

Dalam teori ini, ada empat urutan kejadian melalui percobaan terhadap seekor anjing, yaitu stimulus asli (US), respon tak bersyarat (UR), stimulus bersyarat (CS), dan respon bersyarat (CR). Teori Classic Conditioning ini dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, misalnya pada siswa kelas satu sekolah dasar. Mula-mula, guru memberikan stimulus asli (US) berupa hadiah bagi siswa yang mampu membaca dengan baik dan lancar. Siswa akan member respon tak bersyarat (UR) berupa usaha agar mampu membaca dengan baik dan lancar. Guru kemudian memberikan stimulus bersyarat (CS) berupa pembagian buku kepada masing-masing siswa disertai hadiah. Stimulus bersyarat tersebut diberikan berulang-ulang hingga siswa terbiasa membaca buku. Akhirnya, ketika buku dibagikan tanpa kehadiran hadiah, siswa akan tetap rajin membaca (CR).

b. Teori Asosiasi oleh Edward L. Thorndike

Teori asosiasi menyatakan bahwa belajar pada hewan dan manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip yang sama, yaitu belajar merupakan peristiwa terbentuknya ikatan (asosiasi) antara stimulus dan respon. Terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon mengikuti tiga hokum, yaitu (1) hokum kesiapan yang menitikberatkan keberhasilan siswa pada kesiapan belajarnya, (2) hokum latihan yang lebih menekankan pengulangan sebagai prinsip utama belajar, dan (3) hukum akibat yang menyatakan bahwa kepuasan siswa pada hasil belajarnya akan memperkuat asosiasi antara stimulus dan respon.

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, teori ini dapat diterapkan. Misalnya guru memberikan stimulus dengan cara mengharuskan siswa untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kegiatan belajar mengajar. Siswa akan memberikan respon berupa usaha untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Pada awalnya, siswa akan mengalami kesulitan, bahkan kegagalan karena berbagai faktor, seperti pengaruh dialek daerah asalnya. Namun, siswa akan terus berusaha agar dapat berhasil.

Berdasarkan hukum kesiapan, siswa harus siap dalam mempelajari suatu materi. Maka guru harus memberikan materi yang sesuai dengan kesiapan siswa, misalnya memberikan materi mengenai unsur-unsur instrinsik puisi pada siswa SMP. Pemberian materi tersebut harus terus diulang berdasarkan hokum latihan agar tersimpan dengan baik dalam memori siswa. Guru pun memberikan evaluasi berdasarkan materi yang diberikan. Ketika siswa berhasil menyelesaikan evaluasi tersebut siswa akan merasa puas sehingga asosiasi antara stimulus dan respon juga meningkat.

c. Teori Behaviorisme oleh John Broades Watson

Menurut teori ini, stimulus yang diberikan secara terus-menerus dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan perubahan perilaku individu. Ada empat syarat terjadinya proses belajar dalam pola hubungan S-R, yaitu dorongan, stimulus, respon, dan penguatan.

Guru dapat memberikan dorongan kepada siswa untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar diikuti dengan pemberian stimulus berupa nilai yang tinggi. Siswa pun akan berusaha berbahasa dengan baik sebagai sebuah respon. Ketika siswa sudah dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, maka diberikan penguatan seperti menerapkan kemampuan berbahasa tersebut dalam kegiatan diskusi agar siswa selalu terlatih untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

d. Teori Kesegeraan oleh Edwin Guthrie

Teori ini menyatakan bahwa dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Hukuman berperan penting dalam proses belajar.

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru memberikan stimulus kepada siswa berupa nilai tinggi kepada siswa yang mengerjakan tugas dengan baik dan hukuman berupa tugas tambahan kepada siswa yang tidak mengerjakan tugas. Dengan hukuman tersebut siswa tidak akan mengabaikan tugas dari guru.

e. Teori Operant Conditioning oleh Frederic Skinner

Teori ini menyatakan bahwa pengetahuan yang terbentuk melalui ingatan stimulus-respon akan semakin kuat apabila diberi penguatan. Penguatan tersebut dibagi menjadi dua, yaitu (1) penguatan positif berupa hadiah, makanan  atau perilaku (senyum, bertepuk tangan, atau mengacungkan jempol dan (2) penguatan negative, berupa tidak memberi penghargaan, memberi tugas tambahan, atau menunjukkan perilaku tidak senang.

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru dapat memberikan tugas kepada siswa. Ketika siswa berhasil mengerjakan tugas dengan benar maka siswa diberikan penghargaan berupa hadiah atau acungan jempol. Namun, siswa yang gagal menyelesaikan tugas dengan benar diberikan tugas tambahan. Akhirnya, siswa yang diberi penghargaan akan semakin termotivasi untuk mengerjakan tugas, dan siswa yang tidak mendapatkan penghargaan akan belajar dari kegagalannya.

2. Teori-teori Kognitif

a. Teori Behaviorisme Purposif oleh Tolman

Teori ini menyatakan bahwa pembelajaran akan lebih efektif apabila pelajar mampu mengarahkan perilaku belajarnya ke tujuan tersebut. Misalnya, materi pelajaran mengenai pengenalan unsur-unsur instrinsik puisi. Untuk dapat mengetahui unsur-unsur tersebut, siswa perlu membaca buku-buku mengenai unsur-unsur instrinsik puisi. Setelah itu, ia membaca sebuah atau beberapa puisi kemudian menganalisis unsur-unsur instrinsik dari puisi yang dibacanya tersebut sesuai dengan pengetahuan yang telah diperoleh di kelas dan buku-buku yang dibaca.

b. Teori Medan Gestalt oleh Wertheirmer

Teori ini menyatakan bahwa pembelajaran merupakan suatu fenomena yang bersifat kognitif yang melibatkan persepsi terhadap suatu benda, orang atau peristiwa dalam cara-cara yang lain.

Ketika masih berusia lima tahunan, anak-anak masih belajar berbicara. Dalam usahanya itu, apa yang diucapkannya tidak sesuai dengan lafal sebenarnya, namun kita sebagai orang dewasa tetap mengerti apa maksud dari ucapan anak tersebut.

c. Teori Medan oleh Lewin

Teori ini menerapkan konsep penghidupan yang terdiri atas diri sendiri dan lingkungan perilaku orang itu. Dalam pembelajaran bahasa seorang anak, ia akan mempelajari bahasa temannya yang berasal dari daerah asal yang berbeda dengannya. Namun, bahasa ibunya tetap digunakan ketika berada dalam lingkungan keluarganya.

d. Teori Pengembangan Kognitif oleh Piaget

Teori ini menyatakan bahwa proses belajar terdiri atas tiga, yaitu asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi. Seorang anak akan mempelajari bahasa temannya yang berasal dari daerah lain. Kemudian terjadi asimilasi ketika ia menghubungkan bahasa ibunya dengan bahasa ibu temannya tersebut. Si anak kemudian akan menyesuaikan dirinya dengan bahasa ibu temannya juga kebudayaan yang dimiliki oleh temannya itu, maka terjadi akomodasi. Akhirnya, ia mengalami ekuilibrasi ketika ia termotivasi dan berusaha untuk mengembangkan hal baru yang diketahuinya.

e. Teori Genetik oleh Chomsky

Teori ini menyatakan bahwa otak manusia telah dilengkapi dengan struktur bahasa universal yang disebut LAD (language acquisition device). Seorang anak yang sedang belajar untuk berbicara dapat dengan mudah meniru apa yang diucapkan oleh orang dewasa karena di dalam otaknya telah ada struktuk LAD.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s