NENNY MARDAENY (105104062) TUGAS KETIGA

PENERAPAN TEORI BEHAVIORISME DAN KOGNITIF DALAM PROSES PEMBELAJRAN BAHASA

 

Perkembangan teori pemerolehan bahasa telah dipengaruhi oleh perkembangan psikologi Omega (dalam Yulianto, 2007: 10-11). Dalam psikologi terdapat dua aliran yang prinsip dasarnya bertentangan, yakni behaviorisme dan kognitivisme. Kedua aliran tersebut ikut memengaruhi para ahli pembelajaran bahasa dalam memandang bagaimana seorang anak manusia belajar bahasa. 

1.      Teori Behaviorisme

Menurut teori behaviorisme kegiatan berbahasa dipengaruhi oleh aliran psikologi behaviorisme yang merupakan rangkaian rangsangan (stimulus) dan tanggapan (respon). Menurut pandangan ini berbahasa dianggap sebagai bagian dari perilaku manusia, seperti perilaku yang lain. Oleh karena itu, pembelajaran harus dilakukan melalui rangsangan-rangsangan.

Pembelajar dalam hal ini dianggap sebagai mesin yang memproduksi bahasa dengan lingkungan dianggap sebagai faktor penentunya, yakni sebagai rangsangan. Untuk itu, agar anak dapat mengucapkan kata-kata tertentu, kepadanya harus diberikan rangsangan berupa kata-kata. Menurut konsep ini anak tidak dapat mengucapkan kata-kata yang belum pernah didengarnya. 
Baraja (1990:31) mengemukakan bahwa perilaku kebahasaan sama dengan perilaku yang lain, yaitu dikontrol oleh konsekuensinya. Apabila hasil suatu usaha menyenangkan, perilaku itu akan terus dikerjakan; dan sebaliknya, bila hasilnya tidak menguntungkan, perilaku tersebut akan ditinggalkan. Inilah yang dikatakan belajar, sebab inti belajar adalah adanya perubahan perilaku. 

Contoh:

Ketika sebuah keluarga hidup dalam lingkungan yang berbahasa Makassar, maka orang tua yang menginginkan anaknya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan memberikan stimulus dengan mengatakan, “Jika Naya (nama anak) berbahasa Indonesia yang baik dan benar, maka ibu akan memberikan coklat. Dengan stimulus tersebut, maka si anak akan merespon dengan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Tetapi, dalam hal ini stimulus-stimulus tersebut harus diberikan berulang-ulang agar terjadi penguatan respon dari si anak.

 

2.      Teori Kognitif

Noam Chomsky adalah seorang linguistik yang menganut paham kognitif. Menurut beliau anak-anak dilahirkan dengan alat pemerolehan bahasa yang dikenal sebagai LAD (Language Acquisition Devise) yang sewaktu dalam lingkungan umur tiga tahun, anak-anak sudah boleh bercakap dengan menggunakan tata bahasa transformasi-generatif yaitu kebolehan (performansi) anak-anak membentuk dan memanipulasi bahasa yang tidak dipelajarinya secara formal. Kebolehan itu “dipelajari” anak-anak melalui komunikasi lisan dengan orang dewasa. Chomsky telah membedakan antara “kebolehan bahasa (performansi)” dengan “pengetahuan bahasa (kompetensi)”. Menurutnya, kebolehan bahasa yaitu kebolehan anak-anak menggunakan bahasa. Sedangkan pengetahuan bahasa yaitu pengetahuan anak-anak tentang bahasa, yaitu tentang bentuk bahasa, sistem makna dan sistem bunyi yang didengar dalam bahasa yang digunakannya. Pengetahuan tersebut tidak diajar secara formal tetapi ditiru, dipelajari dan dipahami dengan cara mendengar dan bertutur. Nah, cara belajar bahasa (ditiru, dipelajari dan dipahami) tersebut tidak dilakukan anak-anak secara sadar, tetapi, di bawah sadar dan dengan menggunakan akal pikirannya, seseorang dapat memanipulasi bahasanya dengan kaidah-kaidah yang telah dipahaminya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s