NURMALASARI, 105104081

Penerapan Teori-Teori Pembelajaran Psikolinguistik dalam Pembelajaran Bahasa

A.   Teori – Teori Stimulus – Respon

1.      Teori Ivan Petrovic Pavlov

Berdasarkan eksperimen dengan menggunakan anjing, Pavlov menyimpulkan bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu harus dilakukan secara berulang-ulang dengan melakukan pengkondisian tertentu. Pengkondisian itu adalah dengan melakukan semacam pancingan dengan sesuatu yang dapat menumbuhkan tingkah laku itu. Hal ini dikarenakan classical conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut. Berdasarkan eksperimen tersebut, semakin jelaslah bahwa belajar adalah perubahan yang di tandai dengan adanya hubungan antara stimulus dan respon. Kesimpulan yang dapat kita ambil dari eksperimen pavlov ialah apabila stimulus yang diadakan (CS) selalu di sertai dengan stimulus penguat (UCS), Stimulus tadi (CS) cepat atau lambat ahlinya akan menimbulkan respon atau perubahan yang kita kehendaki yang dalam hal ini (CR). Proses belajar yang berlangsung dalam eksperimen Pavlov itu tunduk kepada dua macam hukum yang berbeda yakni low of respondent conditioning dan low of responden extinction.

2.      Teori  Asosiasi Edward Lee Throndike

Thorndike berpendapat bahwa yang menjadi dasar belajar itu ialah asosiasi antara kesan pancaindera (sense impresion) dengan implus untuk bertindak (impulse to action). Menurut teori ini belajar adalah proses pembentukan asosiasi antara yang sudah diketahui dengan yang baru.

Proses belajar mengikuti tiga hukum, yaitu hukum kesiapan, latiahn, dan hukum efek. Hukum kesiapan (law of readness), merupakan aktivitas belajar yang dapat langsung efektif dan efisien bila subyek telah memiliki kesiapan belajar. Hukum latihan (law of exercise), merupakan koneksi antara kondisi dan tindakan yang akan menjadi lebih kuat bila ada latihan. Hukum Efek (law of effect ), menyatakan bahwa aktifitas belajar yang memberi efek menyenangkan akan terjadi sebaliknya.

Ketiga hukum tersebut, dikenal adanya transfer training. Konsep transfer training bertolak dari teori unsur identik yang menyatakan bahwa hasil latihan pada sesuatu kecakapan dapat di transfer pada kecakapan lain bila banyak mengandung unsur identik. Adapun hukum-hukum yang dikemukakan oleh Thorndike itu, lebih dilengkapi dengan prinsip-prinsip, sebagai berikut: 1. Siswa harus mampu membuat berbagai jawaban terhadap stimulus. 2. Belajar dibimbing/diarahkan ke suatu tingkat yang penting melalui sikap siswa itu sendiri. 3. Suatu jawaban yang telah dipelajari dengan baik dapat digunakan juga terhadap stimulus yang lain (bukan stimulus yang semula), yang oleh Thorndike disebut dengan “perubahan asosiatif”. 4. Jawaban-jawaban terhadap situasi-situasi baru dapat dibuat apabila siswa melihat adanya analog dengan situasi-situasi terdahulu. 5. Siswa dapat mereaksi secara selektif terhadap faktor-faktor yang esensial di dalam situasi itu.

3.      Teori Behaviorisme dari John Brodes Watson

Menurut Watson, stimulus yang diberikan secara terus-menerus dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan perubahan perilaku individu. Ada empat syarat terjadinya proses belajar dalam pola hubungan S-R, yaitu dorongan, stimulus, respon, dan penguatan.  Contoh penerapan teori ini yaitu dengan memberikan dorongan belajar terus menerus berupa stimulus hingga memperoleh respon yang diinginkan lalu dilakukan penguatan berupa pembiasaan.

4.      Teori Kesegaran dari Edwin Guthrie

Guthri menyatakan bahwa dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Hukuman berperan penting dalam proses belajar. Contoh penerapannya yaitu dengan pemberian hukuman, jika anak didiknya tidak mengerjakan tugas maka akan diberikan hukuman berupa tugas tambahan dan jika hasil pekerjaannya baik maka diberikan hadiah atau penghargaan.

5.      Burrhus Frederic Skinner

Skinner menganggap reward dan reinforcement merupakan faktor penting dalam belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal, mengontrol tingkah laku. Pada teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. Operant conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operant yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan. Operant conditing menjamin respon terhadap stimuli. Bila tidak menunjukkan stimuli maka guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan tingkah lakunya. Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa dalam proses belajar sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.

B.   Teori – Teori kognitif

1.       Teori Behaviorisme Purposif oleh Tolman

Tolman menyatakan bahwa pembelajaran akan lebih efektif apabila pelajar mampu mengarahkan perilaku belajarnya ke tujuan tersebut. Contoh penerapannya yaitu siswa yang akan mempelajari suatu pelajaran harus terlebih dahulu mencaritahu apa yang akan dipelajarinya dengan cara membaca buku-buku yang berhubungan dengan pelajaran tersebut agar dalam belajar siswa tersebut akan lebih muda memahami apa yang diajarkan.

  1. Teori Medan Gestalt dari Weithermeir

Weithermeir menyatakan bahwa pembelajaran merupakan suatu fenomena yang bersifat kognitif yang melibatkan persepsi terhadap suatu benda, orang atau peristiwa dalam cara-cara yang lain. Contohnya yaitu jika seorang bayi mengeluarkan suara maka kita sebagai orang dewasa dapat mengerti apa yang diinginkan bayi tersebut.

  1. Teori Medan dari Lewin

Lewin menerapkan konsep penghidupan yang terdiri atas diri sendiri dan lingkungan perilaku orang lain. Contohnya yaitu siswa yang memiliki teman dari daerah berbeda maka siswa tersebut akan mempelajari bahasa temannya tersebut akan tetapi tetap menggunakan B1-nya jika berada di lingungan keluarganya.

4.      Teori Pengembangan Kognitif oleh Piaget

Peaget menyatakan bahwa proses belajar terdiri atas tiga, yaitu asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi. Contohnya yaitu siswa yang mempelajari bahasa temannya yang berasal dari daerah lain dan menghubungkan B1-nya dengan bahasa temannya tersebut maka ia akan menyesuaikan dirinya dengan B1 temannya tersebut dan barusaha mengembangkan hal baru dari  apa yang dipelajarinay tersebut.

5.      Teori Genetik oleh Chomsky

Chomsky menyatakan bahwa otak manusia telah dilengkapi dengan struktur bahasa universal yang disebut LAD (language acquisition device). Contohnya yaitu seorang anak yang belajar B2 akan lebih mudah memahami dengan menirukan ucapan orang-orang karena dalam otaknya telah dilengkapi oleh LAD.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s