Penerapan Teori-Teori Pembelajaran dalam Psikologi pada Pembelajaran Bahasa Indonesia

Tugas Kedua

PSIKOLINGUISTIK

 

Nama            : Ruslan

NIM               : 105104076

Kelas                        : C

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

 

Penerapan Teori-Teori Pembelajaran dalam Psikologi pada Pembelajaran Bahasa Indonesia

Berikut ini akan dikemukakan penerapan teori-teori pembelajaran dalam psikologi  yang diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

  1. Teori-teori Stimulus Respon
    1. Ivan Petrovich Pavlov

Beliau adalah seorang fisiolog, psikolog, dan dokter Rusia.Namun, tidak ingin disebut sebagai ahli psikologi, karena beliau sebenarnya seorang sarjana ilme faal yang fanatik.Classical Conditioning adalah teori yang melambungkan namanya di bidang kajian pembelajaran dalam psikologi, khususnya mengenai teori-teori stimulus respon. Dalam teori ini, Pavlov melakukan percobaannya terhadap seekor anjing, dengan memberikan  perangsang asli dan netral yang dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.

Teori ini ternyata dapat dipakai dalam dunia pendidikan, termasuk pengajaran dalam bahasa Indonesia. Misalnya, untuk membiasakansiswa berbahasa baku di sekolah, guru bias memberikan stimulus bersyarat dengan mengatakan “Siswa yang memakai bahasa baku pada saat pelajaran berlangsung akan mendapatkan nilai tambahan”. Nah, hal ini bisamemancing  siswauntuk mulai menggunakan bahasa baku karena adanya stimulus itu. Untuk menguatkan efeknya/respon yang diinginkan, yaitu siswa memakai bahasa baku secara terus menerus, guru perlu selalu memberikan respon itu di setiap pertemuan. Lama kelamaan, jika respon itu telah benar-benar kuat pada diri siswa, walaupun guru menarik “nilai” yang merupakan stimulusnya, siswa akan tetap memakai bahasa baku itu. Tapi perlu diperhatikan pula temuan dari Pavlon bahwa bila rangsangan terlalu sering salah maka reflex terkondisi akantertekan. Maksudnya, jika nilai itu ditarik ada kemungkinan siswa akan berhenti pula berbahasa baku. Seperti yang ditegaskan oleh Mahmudah (2012:66) “Jika metronome bersuara berulang-ulang dan tidak ada makanan, anjing akan berhenti mengeluarkan ludah.”

 

 

  1. Edward L. Thorndike

Thorndike adalah salah seorang penganut psikologi tingkah lau.Beliau dikenal sebagai pencetusteori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Teori ini menyatakan bahwa prinsip belajar pada manusia dan hewan sama saja, yaitu belajar adalah peristiwa terbentuknya ikatan atas berbagai peristiwa/stimulus dengan respon yang dihasilkan dari stimulus itu. Percobaannya pada kucing muda yang dimasukkan ke dalam problem box mengantarkannya menghasilkan teori trial and error atau selecting and connecting, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba (trial) dan membuat salah (error).

Implikasi yang dapat diterapkan dari teori ini dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah dalam pengajran menulis cerpen atau puisi, siswa diminta untuk merangkai kata-kata (puisi) atau menyusun kalimat-kalimat deskriptif (cerpen) secara coba-coba. Setelah itu, karya siswa itu bisa dipertukarkan dengan dengan siswa lain untuk dikoreksi/diberi saran perbaikan, lalu puisi atau cerpen tadi dikembalikan kepada pemiliknya, untuk diperbaiki lagi—kesalahan yang pernah dilakukan tidak akan diulangi—lalu puisi atau cerpen itu dibacakan di depan kelas untuk dikoreksi lagi oleh siswa lain atau oleh guru. Setelah itu, dikembalikan lagi pada pemiliknya untuk diperbaiki, tidak lagi memasukkan bagian yang salah.Cara ini, tampak efektif untuk melatih siswa menyusun sendiri karya sastra, jika salah perbaiki, salah lagi perbaiki lagi, begitu seterusnya hingga dihasilakan karya yang baik.

 

  1. Jonh Broades Watson

Watson dikenal sebagai ilmuan yang banyak melakukan penyelidikan tentang psikologi binatang.Ini terbukti dari disertasinyapadatahun 1903 yang berjudul “Animal Education”.Watson menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan tingkah laku.Ia percaya bahwa pemberian conditioning tertentu dalam proses pendidikan, maka akan dapat membuat seorang anak mempunyai sifat-sifat tertentu (Mahmudah, 2012: 72) Watson menamakan teori ini sebagai teori behaviorisme, yang disebut juga sebagai teori koneksionisme oleh Thorndike.Watson menganggap bahwa perilaku manusia adalah hasil dari interksinya dengan lingkungan.Selanjutnya, teori memandang belajar sebagai hubungan langsung antara stimulus yang datang dari luar dan respon yang ditampilkan oleh individu. Proses belajar terjadi dalam pola hubungan stimulus respon dengan adanya unsur  dorongan, ransangan/stimulus, respon, dan penguatan/reinforcement.

Teori ini dapat diterapkan  dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Misalnya, jika individu/siswa ingin dibuat menguasai  pembuatan karya ilmiah maka anak itu harus memiliki empat syarat berikut.

  1. Adanya dorongan, yaitu keinginan dari dalam/adanya minat anak untuk mempelajari karya ilmiah. Anak yang memiliki minat—atau mungkin juga bakat—akan memiliki motivasi dari dalam dirinya untuk menguasai cara pembuatan karya ilmiah tersebut.
  2. Adanya rangsangan, yaitu unsur dari luar diri anak/motivasi yang diberikan dari luar, seperti memperlihatkan anak itu berbagaiprestasi yang diraih oleh mereka yang bergelut dalam bidang karya ilmiah.
  3. Adanya respon, yaitu gejala /perilaku yang ditunjukkan oleh anak itu. Tentu perilaku positif, misalnya sangat giat mengikuti pelatihan menulis karya ilmiah dan mulai mencoba meneliti suatu objek.
  4. Adanya penguatan, yaitu dukungan/penguatan positif agar anak itu semakin gemar menggeluti karya ilmiah, misanya dengan memberikannya laptop, kendaraan, atau hal (hadiah) lain yang akan menguatkan minatnya itu.

 

  1. Edwin Ray Guthrie

Guthrie membuat kontribusi yang patut diperhitungkan dalam dunia ilmu pengetahuan, khususnya filsafat, psikologi abnormal, psikologi sosial, pelajaran dan teori psikologi bidang pendidikan.Asas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti, yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakanyang sama (Bell, Gredler dalam Mahmudah, 2012: 77).

Fokus dari teori yang dimunculkan oleh Guthrie ini lebih mengarah pada perubahan kebiasaan yang dapat diterapkan dalam dunia pendidikan.Teori ini dapat dilakukan melalui teori metode drill tingkah laku yang dilakukan berulang-ulang kumudian membut kebiasaan yang berulang-ulang (Tanowali, 2010). Teori ini dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia yaitu latihan mengulang-ulang pola kalimat  secara internsif dengan dukunganlaboratorium bahasa (Subana dan Sunarti, 2011: 55). Bisa pula digunakan untuk melatih anak melafalakn huruf/kata secara brulang-ulang sampai anak itu bisa.

 

 

 

 

 

  1. Burrhus Frederic Skinner

Skinner adalah tokoh behavioris denganpendekatan model instruksilangsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning (Mahmudah, 2012: 78). Hal yang hampir sama dinyatakan oleg Subana dan Sunarti (2011:54) yang menyatakan bahwa teori ini memandang manusia sebagai organisme yang bisa memberikan respon, baik karena adanya stimulus atau pun tidak. Respon tersebut diusahakan terus karena adanya penguat/reinforcement.Skinner memandang bahwa pemberian hukuman adalah hal yang negative.Untuk menghindari hukuman, lingkungan perlu diubah.

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, teori ini, sekilas mirip dengan teori Edwin Guthrie, bedanya Skinner tidak menggunakan hukuman sedangkan Guthrie memandang penting penggunaan hukuman.Penerapannya bisa dalam pembelajaran berpidato. Menurut Skinner, untuk mencapai hasil yang diinginkan—mampu berpidato di depan audiens—suasana belajar perlu dibuat menjadi kontekstual, latihan selayaknya dilakukan  di depan audiens, bukan di ruang kosong. Kesalahan yang terjadi segera diperbaiki dan teknik berpidato yang benar/baik segerapula diberi penguatan.

 

  1. Teori-teori Kognitif
    1. Tolman

Tolman adalah penggagas teori behaviorisme pulposif.Unsur-unsur utama yang penting dalam teori behaviorisme pulposif adalah rangsangan, kognisi, peta kognisi, tujuan dan barulah respon/gerak balas (Khairinnisa, 2012). Mahmudah (2012:81) juga menambahkan bahwa prinsip ini menganggap proses pembelajaran akan lebih efektif apabila mampu mengenal tujuan yang akan dicapainya dan selanjutnya mampu mengarahkan perilaku belajarnya ke tujuan tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, kiranya dapat dikatakan bahwa teori ini bisa berlaku umum untuk pembelajaran pada mata pelajaran apa saja, termasuk bahasa Indonesia, inti dari penerapan teori ini adalah menekankan pentingnya memahamkan siswa tentang tujuan yang hendak dicapai. Misalnya pada pembelajaran menentukan gagasan pokok dan gagasan penjelas dari suatu paragraf. Nah, untuk itu, siswa perlu dipahamkan bahwa pelajaran ini bertujuan untuk memudahkan siswa mengenal gagasan-gagasan penyusun paragraf, yang pad tahap selanjutnya akan sangat membantu jika siswa itu ingin menulis suatu artikel nantinya atau menjawb soal ujian yang berhubungan dengan gagasan pokok dan gagasan penjelas.

 

 

 

  1. Wertheirmer

Teori Wertheirmer ini dikenal dengan nama teori medan gestal. Teori ini sebenarnya muncul sebagai reaksi atas teori trial and error yang digagas oleh Throndike, yang menghilngkan prinsip kesadaran dalam teori pembelajarannya.Gestal menganggap ini sebagai kesalahan besar (Ningsih, 2012).Dalam prinsipnya, teori Gestal mengenal lina buah hukum organisasi, yaitu hukum pragnanz, kesamaan, kedekatan, penutupan, dan kelanjutan bak. Kiranya pada kesempatan ini hanya prinsip terakhir saja yang akan dijelaskan dalam tulisan ini, yaitu hukum kelanjutan baik.  “Hukum ini mengatakan bahwa persepsi kita cenderung melengkapkan bagian-bagian yang hilang dari peristiwa-peristiwa atau benda-benda yang kita amati” (Ningsih, 2012). Berdasarkan teori ini, dapat ditarik suatu model pembelajaran bahasa  Indonesia yang kiranya sesuai, seperti  melatih siswa menyunting suatu teks atau latihan mengisi bagian-bagian kalimat yang rumpang. Model ini dapat diterapkan dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menegah.

 

  1. Lewin

Kurt Lewin dikenal denganteori medannya, yaitu teori yang memungkinkan seseorang menggmbarkan kenyataan psikologis. Dalam teori ini, medan didefinisikan sebagai  keseluruhan fakta-fakta yang berkoeksistensi yang dipandang sebagai saling tergantung. Lewin juga menggolongkan teori medan sebagai suatu metode untuk menganalisis hubungan-hubungan kausal dan untuk membangun konstruk-konstruk ilmiah (Anonim, 2012)

Penerapan teori ini dalam pembelajaran bahasa Indonesia menurut penulis adalah pada pembelajara analisis wacana di perguruan tinggi yang membutuhkan analisis yang tinggi dan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.

 

  1. Jean Piaget

Piaget memperkenalkan suatu teori yang dikenal dengan teori perkembangan kognitif.Pakar psikologi Swiss ini menekankan bahwa anak-anak membangun secara akif dunia pikiran mereka. Dalam pandangan Piaget, penyesuaian adalah proses yang mendasari perkembangan dunia individu (Andis, 2012). Intinya, menurut penulis segala pengajaran harus disesuaikan dengan perkembangan anak dan dijadikan mudah dicerna oleh anak didik/dikontekstualkan.

Berdasarkan uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa teori ini dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia.Misalnya, untuk anak SD, berikan pengajaran mengarang bebas atau menulis cerpen. Untuk tingkat menengah mungkin sesuatu yang lebih konpleks, yaitu menanggapi  suatu peristiwa faktual dalam masyarakat secara logis dan didukung sejumlah data.

 

  1. Noam Chomsky

Teori yang didalangi oleh Chomsky ini adlah teori genetik kognitif.Teori ini didasarkan pada suatu hipotesis yang disebut hipotesis nurani.Hipotesisi ini menyatakan bahwa otak manusia dipersiapkan secara genetic untuk berbahasa.Untuk itu otak manusia telah dilengkapi dengan struktur bahasa universal dan hal yang dikenal dengan Language Acquistion Device (LAD) (Mahmudah, 2012: 82).Selanjutnya, Kharinnisa (2012) menambahkan bahwa Chomsky begitu menentang teori behaviorisme, ia berpendapat bahwa tidak mungkin seorang anak dapat menuasai bahasa ibunya dengan mudah tanpa diajar dan begitu cepat dengan masukan yang sedikit tanpa adanya struktur universal dan LAD itu di dalam otaknya secar genetik.

Berdasarkan kenyataan ini, maka dalam pembelajaran bahasa Indonesia, seorang anak harus dibimbing/diajarkan oleh orang tuanya.Karena bahasa itu tidak diteri secara spontan. Proses pemerolehan bahasa juga tidak dipengaruhi oleh motivasi dan emosi anak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s