Analisis Percakapan dengan Menggunakan Teori-Teori Linguistik

Tugas ketiga

PSIKOLINGUISTIK

 

Nama             : Ruslan

NIM               : 105104076

Kelas              : C

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Analisis Percakapan dengan Menggunakan Teori-Teori Linguistik

Berikut ini, penulis menyajkan sebuah percakapan tentang pengurusan KRS antara Ali dan Abu, percakapn ini benar-benar terjadi, hanya nama pelaku percakapan yang diganti.

Pengurusan KRS

Ali        : Assalamualaikum.

Abu     : Waalaikumsalam.

Ali        : Mana Suradi?

Abu     : Mungkin ke rumahnya temannya.

Ali        : Emm…, bagaimana itu pengurusan KRS?

Abu     : Sudah dibayar?

Ali        : Oh, Sudah… sudah.

Abu     : Apanya mau ditanyakan?

Ali        : Mata kuliah semester ini belum bisakah program? Masih paket atau?

Abu     : Wallahu alam, kenapa tidak tanya ke jurusan?

Ali        : Soalnya anak bahasa Jerman sudah programmi. Kita belumpi? Sudah miki urus?

Abu     : Sudahmi saya. Ditentukan katanya, untuk anak bahasa Indonesia. Belumpi bisa diprogram.

Ali        : Oh, (lama berselang) kenapa na panas sekali ini rungan?

Abu     : Dulua saya nyalakan kipas angin.

….

Percakapan di atas akan penulis analisis dengan keempat teori linguistik yang terdapat dalam buku Mahmudah (2012:41—62), meliputi teori Ferdinan de Saussure, Leonard Bloomfield, Jonh Rupert Firth, dan Noam Chomsky.

  1. Teori Ferdinan de Saussure

Ferdinan de Saussure adalah seorang linguis Swiss yang juga sebagai Bapak linguistik modern.Dalam bukunya, Course de Linguistique Generale, Saussure mengemukakan beberapa konsep tentang lingusitik itu sendiri, yaitu telaah sinkronik dan diakronik, perbedaan langue dan parole, perbedaan signifiant dan signifie, dan hubungan sintagmatik dan paradigmatik (Chaer, 2007: 346).

De Saussure juga menyatakan bahwa perilaku bertutur adalah sebuah rangkaian hubungan antara dua orang atau lebih, seperti antara Ali dan Abu di atas. Jika Ali berbicara, Abu mendengarkan dan jika Abu berbicara Ali mendengarkan.

Berkaitan dengan bahasan di atas, dialog/pembicaraan selalu berkaitan dengan tiga konsep yang telah didikotomikan oleh Saussure, yaitu parole, langue, dan langage. Meskipun ketiganya sering diartikan sama saja sebagai ‘bahasa’, ketiganya sesungguhnya memiliki konsep yang berbeda.

Parole adalah bahasa yang konkret yang keluar dari mulut pembicara. Parole itu bisa didengar karena bersifat konkret. Semua pembicaraan dalam dialog di atas, antara Ali dan Abu adalah sesuatu yang dapat didengar, sifatnya konkret. Jadi bagian ini termasuk bagian parole.

Langue adalah bahasa tertentu sebagai satu sistem tertentu, seperti bahasa Inggris atau bahasa Jawa. Nah, langue ini bersifat abstrak karena hanya ada dalam otak penutur bahasa yang bersangkutan. Dialog di atas, menunjukkan penggunaan bahasa Indonesia ragam akrab, menggunakan kalimat-kalimat yang pendek, dan tidak diwujudkan dalam bentuk yang lengkap. Definisi ragam akrab itu sendiri, seperti yang dikemukakan oleh Joss dalam Nababan yang terdapat dalam Pengantar Linguistik karangan Patombongi (2010: 14) adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi yang sangat akrab, seperti yang digunakan dalam interaksi keluarga atau yang dianggap seperti keluarga. Perwujudan ragam bahasanya dalam bentuk yang tidak lengkap dengan artikulasi yang jelas dan kalimat-kalimatnya juga pendek.

Langage adalah bahasa pada umumnya sebagai alat interaksi manusia.  Bahasa yang dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat pada binatang. Jika kembali dikaitkan dengan dialog di atas, bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia yang kedudukannya sebagai langue. Bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Mandar adalah sama-sama dalam satu wadah yaitu langage.

2. Teori Laonard Bloomfield

Bloomfield semula adalah penganut paham mentalisme yang sejalan dengan teori psikologi Wundt, tetapi lambat laun ia menentang paham ini dan beralih pada aliran behaviorisme. Beliau menerangkan makna (semantik) dengan rumus-rumus behaviorisme. Nah, wacana di atas dapat pula dikaji menggunakan teori Bloomfield ini berdasarkan skema di bawah ini.

Ali        : Oh, ( lama berselang) kenapa na panas sekali ini rungan?

Abu     : Dulua saya nyalakan kipas angin.

S                                              r………………………………s                                             R

(1)                               (2)       (3)                               (4)       (5)                   (6)       (7)

Penjelasan:

(1)       Ali merasa ruangan sangat panas (S=stimulus).

(2)       Otak Ali bekerja mulai dari merasakan hawa panas hingga berkata kepada Abu.

(3)       Perilaku atau kegiatan Ali sewaktu berkata kepada Abu (r=respon).

(4)       Bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan oleh Ali waktu berbicara kepada Abu (….)

(5)       Perilaku atau kegiatan Abu sewaktu mendengarkan bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan Ali (s=stimulus)

(6)       Otak Abu bekerja, mulai dari mendengar bunyi suara Ali sampai bertindak.

(7)       Abu bertindak, mendekati kipas angin dan memencet tombolnya (R=respon).

Jika nomor tindakan di atas dinalisis, nomor (3), (4), dan (5) yaitu (r s) adalah lambang atau perilaku berbahasa yang dapat diobservasi secara fisiologis; sedangkan yang dapat diamati secara fisik hanyalah nomor (4). Nah, dari sini, terlihat bahwa yang menjadi objek kajian lingusitik menurut mazhab Bloomfield adalah perilaku berbahasa (r s) dan hubungannya dengan makna (S………….R).

3. Teori Jonh Rupert Firth

Firth adalah seorang linguis Inggris yang mendirikan sekolah linguistik deskriptif di London pada tahun 1944. Firth menyatakan bahwa struktur  bahasa terdiri atas lima tingkatan, yaitu fonetik, leksikon, morfologi, sintaksis, dan semantik. Namun, Firth hanya memusatkanpehatian pada tingkatan fonetik dan semantik. Selanjutnya, menurut Firth, arti atau maknaadalah hubungan antara satu unsur pada satu tingkatan dengan konteks unsur itu pada tingkatan yang sama. Sehingga, arti tiap kaimat terdiri dari lima dimensi berikut.

Ali        : Mana Suradi?                       Dalam bentuk lengkap: Kemana  Suradi?

Abu     : Mungkin ke rumahnya temannya.      : Mungkin ke rumah temannya.

Kalimat di atas akan dianalisis berdasarkan teori Jonh Rupert Firth

  1. Hubungan tiap fonem dalam konteks fonetiknya (hubungan fonem satu sama lain dalam kata).

Pada tingkatan ini, diteliti hubungan tiap fonem. Jadi, apa hubungan antara fonem k dengan fonem e? arti apa yang dibentuk? Jika fonem k dan fonem e digabung, dan dilihat berdasarkan kaidah bahasa Indonesia, makna yang terbentuk bisa jadi bermanka ‘tempat tujuan’dan  ‘gerak atau bergerak’. Kata Ke dikenal sebagai jenik kata depar/preposisi (Lihat Chaer, 2006: 130—131).

2. Hubungan kata-kata satu sama lain dalam kalimat.

Berkaitan dengan definisi arti yang dikemukakan oleh Firth di atas maka kata  ke dalam bahasa Indonesia. Pada tingkatan fonetik masih meragukan sebab bentuk ini  memiliki ganda. Untuk itu, agar jelas arti yang dikandung suatu ujaran, kata-kata itu perlu dihubungkan: kata ke dihubungka dengan kata mana; ke mana berarti menyatakan tempat tujuan.

3.  Hubungan morfem pada satu kata dengan morfem yang sama pada kata lain, dan hubungannya dengan kata itu. Untuk itu perhatikan potongan percakapan berikut ini!

Abu           : Sudah dibayar?

Ali  : Oh, Sudah… sudah.

Abu           : Apanya mau ditanyakan?

Dalam potongan percakapan di atas, terdapat morfem di pada kata dibayar dan pada kata ditanyakan. Kedua morfem di ini menyatakan makna yang sama, yaitu bermakna pasif/membentuk kata kerja pasif.

4. Jenis kalimat dan bagaimana kalimat itu digolongkan.

Kembali dikutip contoh di atas.

Ali  : Mana Suradi?

Abu           : Mungkin ke rumahnya temannya.

Kalimat yang diungkapkan oleh Ali adalah kalimat tunggal, lengkap,  introgatif, nonverbal, dan terikat. Kalimat yang duingkapakan oleh Abu adalah jenis kalimat tunggal, lengkap,  deklaratif, verbal, dan terikat (lihat Dola, 2010: 78—90).

5.  Hubungan kalimat dengan konteks situasi.

Kiranya untuk penyataan Bloomfield yang terakhir ini, penuils masih mengutip kalimat di atas. Berkaitan dengan konteks situasi, kalimat itu—ujaran Ali—muncul kerana melihat ruang yang sepi, hanya Abu yang dijumpai oleh Ali, sedangkan Suradi yang bisaanya juga ada, ternyata tidak di situ.

Ali  : Mana Suradi?

Abu           : Mungkin ke rumahnya temannya.

Ali bertanya pada Abu “Mana Suradi”. Abu pun menjawab “Mungkin ke rumah temannya”. Abu sudah beranggapan kuat bahwa jika Suradi tidak ada di tempat itu, kemungkinan besar ia pergi ke rumah temannya.

  1. Teori Noam Chomsky

Chomsky adalah linguis Amerika yang telah membuat sejarah baru dalam psikolinguistik dngan teori tata bahasa generative transformatifnya. Beliau menganggap bahwa teori linguistik itu bersifat mental karena mencoba menemukan satu realitas mental yang menyokongperilaku bahasa yang sebenarnya terjadi. Selanjutnya, Chomsky memberikan empat poin dalam perkembangan teori linguistik dan psikologi yang perlu diperhatikan. Berikut uraiannya.

  1. Aspek kreatif penggunaan bahasa.

Maksudnya adalah bericiri perilaku linguistic yang biasa, bebas dari rangsangan, bersiat mencipta, dan inovatif. Ciri ini terdapat pada kalimat  pertama dialog tersebut.

Ali  : Assalamu alaikum.

  1. Keabstrakan lambang-lambang linguistik.

Maksudnya adalah  rumus-rumus atau kaidah-kaidah yang menentukan bentuk-bentuk kalimat dan penafsiran artinya yang rumit bukan merupakan sesuatu yang konkret melainkan merupakan sesuatu yang abstrak.Hal ini memang benar karena pada kenayataannya lambang-lambang bahasa itu tidak memilki hubungan langsung  dengan yang dilambangkannya, sifatnya hanya arbitrer/mana suka. Dalam dialog di atas lambing-lambang digunakan semuanya bersifat abstrak.

  1. Keuniversalan struktur dasar linguistik.

Maksudnya adalah adanya prinsip-prinsip dasar yang mendasari  yang mendasari tata bahasa generative transformasi ini; tidak dapat diperoleh melalui pengalaman dan pelatihan. Menurutnya, keuniversalan linguistic ini diperoleh manusia sejak lahir karena merupakan unsur  yang tidak terpisahkan dari manusia.

Ali  : Assalamu alaikum.

Contoh kalimat di atas menunjukkan, struktur yang universal. Kalimat yang sejenis digunakan orang ketika bertemu. Misanya dengan mengucapkan selamat pagi,selamat siang, dan sebagainya.

  1. Peranan organisasi intelek nurani dalam proses kognitif.

Prinsip-prinsip dasar organisasi linguistic adalah keuniversalan linguistic yang oleh Chomsky disebut tata bahasa universal.  Dalam teori ini juga, beliau membedakan adanya struktur dalam dan struktur luar bahasa.

Ali  : Mana Suradi?

Abu           : Sudah dibayar?

Kedua kalmat di atas bersruktur lahir sama yaitu berupa kalimat Tanya, tetapi struktur batiinya berbeda, yaitu Ali menggunakan kata Tanya mana/ke mana sedangkan Abu tidak.

Daftar Pustaka

 

Chaer, Abdul. 2006.  Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia.  Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta

Dola, Abdullah. 2010. Tataran Sintaksis dalam Gramatika Bahasa Indonesia. Makassar: Badan Penerbit UNM.

Mahmudah. 2012. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Makassar: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar.

Patombongi, Andi Wardihan. 2010. Pengantar Linguistik. Makassar: Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar.

Penerapan Teori-Teori Pembelajaran dalam Psikologi pada Pembelajaran Bahasa Indonesia

Tugas Kedua

PSIKOLINGUISTIK

 

Nama            : Ruslan

NIM               : 105104076

Kelas                        : C

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

 

Penerapan Teori-Teori Pembelajaran dalam Psikologi pada Pembelajaran Bahasa Indonesia

Berikut ini akan dikemukakan penerapan teori-teori pembelajaran dalam psikologi  yang diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

  1. Teori-teori Stimulus Respon
    1. Ivan Petrovich Pavlov

Beliau adalah seorang fisiolog, psikolog, dan dokter Rusia.Namun, tidak ingin disebut sebagai ahli psikologi, karena beliau sebenarnya seorang sarjana ilme faal yang fanatik.Classical Conditioning adalah teori yang melambungkan namanya di bidang kajian pembelajaran dalam psikologi, khususnya mengenai teori-teori stimulus respon. Dalam teori ini, Pavlov melakukan percobaannya terhadap seekor anjing, dengan memberikan  perangsang asli dan netral yang dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.

Teori ini ternyata dapat dipakai dalam dunia pendidikan, termasuk pengajaran dalam bahasa Indonesia. Misalnya, untuk membiasakansiswa berbahasa baku di sekolah, guru bias memberikan stimulus bersyarat dengan mengatakan “Siswa yang memakai bahasa baku pada saat pelajaran berlangsung akan mendapatkan nilai tambahan”. Nah, hal ini bisamemancing  siswauntuk mulai menggunakan bahasa baku karena adanya stimulus itu. Untuk menguatkan efeknya/respon yang diinginkan, yaitu siswa memakai bahasa baku secara terus menerus, guru perlu selalu memberikan respon itu di setiap pertemuan. Lama kelamaan, jika respon itu telah benar-benar kuat pada diri siswa, walaupun guru menarik “nilai” yang merupakan stimulusnya, siswa akan tetap memakai bahasa baku itu. Tapi perlu diperhatikan pula temuan dari Pavlon bahwa bila rangsangan terlalu sering salah maka reflex terkondisi akantertekan. Maksudnya, jika nilai itu ditarik ada kemungkinan siswa akan berhenti pula berbahasa baku. Seperti yang ditegaskan oleh Mahmudah (2012:66) “Jika metronome bersuara berulang-ulang dan tidak ada makanan, anjing akan berhenti mengeluarkan ludah.”

 

 

  1. Edward L. Thorndike

Thorndike adalah salah seorang penganut psikologi tingkah lau.Beliau dikenal sebagai pencetusteori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Teori ini menyatakan bahwa prinsip belajar pada manusia dan hewan sama saja, yaitu belajar adalah peristiwa terbentuknya ikatan atas berbagai peristiwa/stimulus dengan respon yang dihasilkan dari stimulus itu. Percobaannya pada kucing muda yang dimasukkan ke dalam problem box mengantarkannya menghasilkan teori trial and error atau selecting and connecting, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba (trial) dan membuat salah (error).

Implikasi yang dapat diterapkan dari teori ini dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah dalam pengajran menulis cerpen atau puisi, siswa diminta untuk merangkai kata-kata (puisi) atau menyusun kalimat-kalimat deskriptif (cerpen) secara coba-coba. Setelah itu, karya siswa itu bisa dipertukarkan dengan dengan siswa lain untuk dikoreksi/diberi saran perbaikan, lalu puisi atau cerpen tadi dikembalikan kepada pemiliknya, untuk diperbaiki lagi—kesalahan yang pernah dilakukan tidak akan diulangi—lalu puisi atau cerpen itu dibacakan di depan kelas untuk dikoreksi lagi oleh siswa lain atau oleh guru. Setelah itu, dikembalikan lagi pada pemiliknya untuk diperbaiki, tidak lagi memasukkan bagian yang salah.Cara ini, tampak efektif untuk melatih siswa menyusun sendiri karya sastra, jika salah perbaiki, salah lagi perbaiki lagi, begitu seterusnya hingga dihasilakan karya yang baik.

 

  1. Jonh Broades Watson

Watson dikenal sebagai ilmuan yang banyak melakukan penyelidikan tentang psikologi binatang.Ini terbukti dari disertasinyapadatahun 1903 yang berjudul “Animal Education”.Watson menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan tingkah laku.Ia percaya bahwa pemberian conditioning tertentu dalam proses pendidikan, maka akan dapat membuat seorang anak mempunyai sifat-sifat tertentu (Mahmudah, 2012: 72) Watson menamakan teori ini sebagai teori behaviorisme, yang disebut juga sebagai teori koneksionisme oleh Thorndike.Watson menganggap bahwa perilaku manusia adalah hasil dari interksinya dengan lingkungan.Selanjutnya, teori memandang belajar sebagai hubungan langsung antara stimulus yang datang dari luar dan respon yang ditampilkan oleh individu. Proses belajar terjadi dalam pola hubungan stimulus respon dengan adanya unsur  dorongan, ransangan/stimulus, respon, dan penguatan/reinforcement.

Teori ini dapat diterapkan  dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Misalnya, jika individu/siswa ingin dibuat menguasai  pembuatan karya ilmiah maka anak itu harus memiliki empat syarat berikut.

  1. Adanya dorongan, yaitu keinginan dari dalam/adanya minat anak untuk mempelajari karya ilmiah. Anak yang memiliki minat—atau mungkin juga bakat—akan memiliki motivasi dari dalam dirinya untuk menguasai cara pembuatan karya ilmiah tersebut.
  2. Adanya rangsangan, yaitu unsur dari luar diri anak/motivasi yang diberikan dari luar, seperti memperlihatkan anak itu berbagaiprestasi yang diraih oleh mereka yang bergelut dalam bidang karya ilmiah.
  3. Adanya respon, yaitu gejala /perilaku yang ditunjukkan oleh anak itu. Tentu perilaku positif, misalnya sangat giat mengikuti pelatihan menulis karya ilmiah dan mulai mencoba meneliti suatu objek.
  4. Adanya penguatan, yaitu dukungan/penguatan positif agar anak itu semakin gemar menggeluti karya ilmiah, misanya dengan memberikannya laptop, kendaraan, atau hal (hadiah) lain yang akan menguatkan minatnya itu.

 

  1. Edwin Ray Guthrie

Guthrie membuat kontribusi yang patut diperhitungkan dalam dunia ilmu pengetahuan, khususnya filsafat, psikologi abnormal, psikologi sosial, pelajaran dan teori psikologi bidang pendidikan.Asas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti, yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakanyang sama (Bell, Gredler dalam Mahmudah, 2012: 77).

Fokus dari teori yang dimunculkan oleh Guthrie ini lebih mengarah pada perubahan kebiasaan yang dapat diterapkan dalam dunia pendidikan.Teori ini dapat dilakukan melalui teori metode drill tingkah laku yang dilakukan berulang-ulang kumudian membut kebiasaan yang berulang-ulang (Tanowali, 2010). Teori ini dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia yaitu latihan mengulang-ulang pola kalimat  secara internsif dengan dukunganlaboratorium bahasa (Subana dan Sunarti, 2011: 55). Bisa pula digunakan untuk melatih anak melafalakn huruf/kata secara brulang-ulang sampai anak itu bisa.

 

 

 

 

 

  1. Burrhus Frederic Skinner

Skinner adalah tokoh behavioris denganpendekatan model instruksilangsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning (Mahmudah, 2012: 78). Hal yang hampir sama dinyatakan oleg Subana dan Sunarti (2011:54) yang menyatakan bahwa teori ini memandang manusia sebagai organisme yang bisa memberikan respon, baik karena adanya stimulus atau pun tidak. Respon tersebut diusahakan terus karena adanya penguat/reinforcement.Skinner memandang bahwa pemberian hukuman adalah hal yang negative.Untuk menghindari hukuman, lingkungan perlu diubah.

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, teori ini, sekilas mirip dengan teori Edwin Guthrie, bedanya Skinner tidak menggunakan hukuman sedangkan Guthrie memandang penting penggunaan hukuman.Penerapannya bisa dalam pembelajaran berpidato. Menurut Skinner, untuk mencapai hasil yang diinginkan—mampu berpidato di depan audiens—suasana belajar perlu dibuat menjadi kontekstual, latihan selayaknya dilakukan  di depan audiens, bukan di ruang kosong. Kesalahan yang terjadi segera diperbaiki dan teknik berpidato yang benar/baik segerapula diberi penguatan.

 

  1. Teori-teori Kognitif
    1. Tolman

Tolman adalah penggagas teori behaviorisme pulposif.Unsur-unsur utama yang penting dalam teori behaviorisme pulposif adalah rangsangan, kognisi, peta kognisi, tujuan dan barulah respon/gerak balas (Khairinnisa, 2012). Mahmudah (2012:81) juga menambahkan bahwa prinsip ini menganggap proses pembelajaran akan lebih efektif apabila mampu mengenal tujuan yang akan dicapainya dan selanjutnya mampu mengarahkan perilaku belajarnya ke tujuan tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, kiranya dapat dikatakan bahwa teori ini bisa berlaku umum untuk pembelajaran pada mata pelajaran apa saja, termasuk bahasa Indonesia, inti dari penerapan teori ini adalah menekankan pentingnya memahamkan siswa tentang tujuan yang hendak dicapai. Misalnya pada pembelajaran menentukan gagasan pokok dan gagasan penjelas dari suatu paragraf. Nah, untuk itu, siswa perlu dipahamkan bahwa pelajaran ini bertujuan untuk memudahkan siswa mengenal gagasan-gagasan penyusun paragraf, yang pad tahap selanjutnya akan sangat membantu jika siswa itu ingin menulis suatu artikel nantinya atau menjawb soal ujian yang berhubungan dengan gagasan pokok dan gagasan penjelas.

 

 

 

  1. Wertheirmer

Teori Wertheirmer ini dikenal dengan nama teori medan gestal. Teori ini sebenarnya muncul sebagai reaksi atas teori trial and error yang digagas oleh Throndike, yang menghilngkan prinsip kesadaran dalam teori pembelajarannya.Gestal menganggap ini sebagai kesalahan besar (Ningsih, 2012).Dalam prinsipnya, teori Gestal mengenal lina buah hukum organisasi, yaitu hukum pragnanz, kesamaan, kedekatan, penutupan, dan kelanjutan bak. Kiranya pada kesempatan ini hanya prinsip terakhir saja yang akan dijelaskan dalam tulisan ini, yaitu hukum kelanjutan baik.  “Hukum ini mengatakan bahwa persepsi kita cenderung melengkapkan bagian-bagian yang hilang dari peristiwa-peristiwa atau benda-benda yang kita amati” (Ningsih, 2012). Berdasarkan teori ini, dapat ditarik suatu model pembelajaran bahasa  Indonesia yang kiranya sesuai, seperti  melatih siswa menyunting suatu teks atau latihan mengisi bagian-bagian kalimat yang rumpang. Model ini dapat diterapkan dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menegah.

 

  1. Lewin

Kurt Lewin dikenal denganteori medannya, yaitu teori yang memungkinkan seseorang menggmbarkan kenyataan psikologis. Dalam teori ini, medan didefinisikan sebagai  keseluruhan fakta-fakta yang berkoeksistensi yang dipandang sebagai saling tergantung. Lewin juga menggolongkan teori medan sebagai suatu metode untuk menganalisis hubungan-hubungan kausal dan untuk membangun konstruk-konstruk ilmiah (Anonim, 2012)

Penerapan teori ini dalam pembelajaran bahasa Indonesia menurut penulis adalah pada pembelajara analisis wacana di perguruan tinggi yang membutuhkan analisis yang tinggi dan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.

 

  1. Jean Piaget

Piaget memperkenalkan suatu teori yang dikenal dengan teori perkembangan kognitif.Pakar psikologi Swiss ini menekankan bahwa anak-anak membangun secara akif dunia pikiran mereka. Dalam pandangan Piaget, penyesuaian adalah proses yang mendasari perkembangan dunia individu (Andis, 2012). Intinya, menurut penulis segala pengajaran harus disesuaikan dengan perkembangan anak dan dijadikan mudah dicerna oleh anak didik/dikontekstualkan.

Berdasarkan uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa teori ini dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia.Misalnya, untuk anak SD, berikan pengajaran mengarang bebas atau menulis cerpen. Untuk tingkat menengah mungkin sesuatu yang lebih konpleks, yaitu menanggapi  suatu peristiwa faktual dalam masyarakat secara logis dan didukung sejumlah data.

 

  1. Noam Chomsky

Teori yang didalangi oleh Chomsky ini adlah teori genetik kognitif.Teori ini didasarkan pada suatu hipotesis yang disebut hipotesis nurani.Hipotesisi ini menyatakan bahwa otak manusia dipersiapkan secara genetic untuk berbahasa.Untuk itu otak manusia telah dilengkapi dengan struktur bahasa universal dan hal yang dikenal dengan Language Acquistion Device (LAD) (Mahmudah, 2012: 82).Selanjutnya, Kharinnisa (2012) menambahkan bahwa Chomsky begitu menentang teori behaviorisme, ia berpendapat bahwa tidak mungkin seorang anak dapat menuasai bahasa ibunya dengan mudah tanpa diajar dan begitu cepat dengan masukan yang sedikit tanpa adanya struktur universal dan LAD itu di dalam otaknya secar genetik.

Berdasarkan kenyataan ini, maka dalam pembelajaran bahasa Indonesia, seorang anak harus dibimbing/diajarkan oleh orang tuanya.Karena bahasa itu tidak diteri secara spontan. Proses pemerolehan bahasa juga tidak dipengaruhi oleh motivasi dan emosi anak.

Lebih Dahulu Berbahasa atau Berpikir

Tugas Pertama

PSIKOLINGUISTIK

 

Nama            : Ruslan

NIM               : 105104076

Kelas                        : C

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

 

 

Soal-Soal:

  1. Manakah yang lebih dahulu berpikir atau berbahasa?
  2. Betulkah pendapat Goris Keraf tentang pengertian berbahasa?
  3. Bagaimana dengan bahasa bayi, hewan, orang bisu, bunyi klakson, bunyi bedug? Apakah itu termasuk bahasa?

Jawab:

  1. Manakah yang lebih dahulu berpikir atau berbahasa?

Memang agak sukar menjawab pertanyaan ini. Tetapi secara umum, berdasarkan kutub-kutub pendapat tentang keterkaitan bahasa dan pikiran yang telah dibuat oleh Mahmudah (2012: 39—40) berikut ini patut untuk dipertimbangkan. Pertama, Bahasa memengaruhi pikiran, artinya berbahasa lebih dahulu, setelah itu berpikir. Pandangan ini didukung oleh Edward Saphir dan muridnya, Benyamin Whorf. Dalam hal ini, contoh yang diangkat adalah kondisi orang Jepang yang mempunyai pikiran yang sangat tinggi karena keluasan kosa kata dalam menjelaskan realitas yang banyak pula. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa pikiran memengaruhi bahasa. Jean Piaget, tokoh psikologi kognitif adalah pendukung pendapat ini. Beliau bertumpu pada simpulan observasinya yang menunjukkan bahwa perkembangan bahasa yang digunakan seorang anak dipengaruhi oleh perkembangan aspek kognitifnya. Ketiga, teori yang mengatakan bahwa bahasa dan pikiran saling memengaruhi. Teori ini dicetuskan oleh Benyamin Vigotsky, yang merupakan pembaharu teori Piaget. Tenyata, teori ini justru lebih banyak diterima oleh kalangan psikologi kognitif sendiri.

Teori-teori di atas memang cukup rumit, tetapi dalam hal ini, penulis lebih menitikberatkan pandangan pada pendapat yang terakhir, yaitu bahasa dan pikiran saling memengaruhi, tanpa menyepelekan pendapat para ahli yang lain. Penulis setuju dengan pendapat Edward Saphir dan muridnya begitu pula dengan pendapat Jean Piaget. Menurut hemat penulis, pada fase awal, usia anak-anak, boleh jadi pikiranlah yang memengaruhi bahasa. Seperti yang dikemukakan oleh Piaget (dalam Mahmudah, 2012: 32) bahwa bahasa tidak ada tanpa pikiran. Pikiranlah penentu aspek-aspek sintkasis dan leksikon bahasa. Hal ini dikuatkan oleh salah satu ciri bahasa—seperti yang dikemukakan oleh Abdul Chaer—bahasa itu bermakna. Nah, untuk memahami bahasa atau untuk menyampaikan suatu konsep, ide, atau pikiran dalam bentuk ujaran bahasa tentu seseorang harus berpikir lebih dahulu. Di sisi lain, pendapat yang mengatakan bahasa memengaruhi pikiran, juga tidak salah. Von Humboldt (dalam Mahmudah, 2012: 30) juga menegaskan bahwa struktur suatu bahasa menyatakan kehidupan dalam otak  penutur bahasa itu. Lebih lanjut dikatakan bahwa  untuk megubah pandangan hidup maka pelajarilah bahasa lain terlebih dahulu. Menurut penulis, hal ini terjadi pada fase perkembangan selanjutnya, setelah fase anak-anak. Intinya, penulis lebih sepaham dengan pendapat ketiga, yaitu bahasa dan pikiran saling memengaruhi.

  1. Betulkah pendapat Goris Keraf tentang pengertian bahasa?

Goris Keraf adalah  tokoh linguistik modern yang mengarang buku Tata Bahasa Indonesia sehingga fobia linguistik modern sedikit agak berkurang pada masa beliau. Dalam ilmu bahasa, beliau juga memberikan definisi tentang bahasa, yaitualat komunikasi antara masyarakat, berupa lambang bunyi suara, yang dihasikan oleh alat ucap manusia (Wardihan, 2010: 4). Definisi ini menarik untuk dikaji. Benarkah bahasa ituadalah semua lambang bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia? Masalah yang satu ini ternyata telah dikaji jauh-jauh hari oleh mereka yang berkecimpung dalam bidang linguistik. Setidaknya penulis memiliki dua rujukan, yaitu buku Pengantar Linguistik oleh A. Wardihan P. dan buku Linguistik Umum oleh Abdul Chaer.

Definisi yang dikemukakan oleh Keraf ini masih terlalu luas. Keluasan definisi itu dapat dianalisis sebagai berikut.

  1. Keluasan fungsi

Dikatakan bahwa “bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat.” Batasan ini jelas sangat luas. Jika dibalik, menggunakan konsep definisi formal yang dikemukakan oleh Abdul Chaer dalam Pengantar Semantik Bahasa Indonesia halaman 53—54, akan tampak kalimat “alat komunikasi antara anggota masyarakat adalah bahasa.” Nah, kacau bukan? Mengapa demikian? Karena dari definisi ini dapat dikatakan bahwa bedug yang digunakan untuk memberitahu khalayak bahwa waktu salat telah masuk dan kentongan yang digunakan untuk memberitahu kondisi suatu desa/wilayah, divonis sebagai bahasa. Di  sini letak kekacauannya.

  1. Keluasan tanda

Penulis kembali mengutip definisi yang dikemukakan oleh Keraf “berupa lambang bunyi suara”. Batasan ini juga terlalu luas karena tanda yang dimaksud dalam bahasa bukan hanya tanda bahasa (linguistic sign), tetapi juga tanda-tanda lain, termasuk gestur (Wardihan, 2010: 5).

  1. Keluasan hasil alat ucap

Kutipan terakhir dari pendapat Keraf adalah “yang dihasikan oleh alat ucap manusia”. Memang disadari bahwa bahasa itu manusiawi, bahwa jika disinggung soal bahasa, pasti yang dimaksud adalah bahasa manusia, bukan sesuatu yang dihasilkan oleh alat ucapbinatang. Namun, dari bagian definisi Keraf ini terdapat bagian yang juga masih terlalu luas karena bisa dikatakan semua suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia adalah bahasa, termasuklah di dalamnya bunyi siul, batuk, ngorok, dan sebagainya divonis sebagai bahasa. Ini kekacauan yang terakhir.

  1. Bagaimana dengan bahasa bayi, hewan, orang bisu, bunyi klakson, bunyi bedug? Apakah itu termasuk bahasa?

Untuk menjawab pertanyaan ini penulis kembali merujuk pada hakikat bahasa itu sendiri. Berikut ini akan dikemukakan dua saja ciri bahasa yang akan memperjelas pemahaman tentang definisi bahasa itu sebenarnya.

  1. Bahasa itu manusiawi

Jika ciri ini diterima, otomatis bahasa hewan, bunyi klakson, dan bunyi bedug—seperti yang ada pada soal—bukanlah bahasa. Adapun binatang, walaupun ia dapat berkomunikasi dengan sesamanya bahkan dengan manusia sendiri, seperti pada burung beo, anjing, kucing, lumba-lumba, dan monyet, tetap berbeda dengan alat komunikasi manusia, yaitu bahasa. Alat komunikasi manusia hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia, berkembang, dan dapat digunakan untuk menyatakan konsep-konsep baru yang melibatkan pikiran sedangkan alat komuniksi pada binatang sangat terbatas pada pemenuhan makanan, pertahanan diri, dan kebutuhan biologis lainnya. Alat komunikasi binatang hanya itu-itu saja dan statis, tidak dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baru (Chaer, 2007: 57).

  1. Bahasa itu bunyi

Kridalakasana (dalam Chaer, 2007: 42) menyatakan bahwa bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Tetapi definisi ini adalah pemaknaan umum, berlaku pula pada binatang. Lalu, yang dimaksud dengan bunyi dalam kajian bahasa adalah bunyi pada bahasa atau lambang bahasa adalah  bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Tetapi juga tidak semua bunyi yang lahir dari alat ucap manusia adalah bunyi bahasa, seperti bahasa bayi, orang bisu, bersin, dan batuk karena hal ini tidak termasuk dalam sistem bunyi bahasa. Apakah bunyi bahasa itu? Abdul Chaer memberikan definisi bahwa bunyi bahasa adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang di dalam fonetik diamati sebagai “fon” dan di dalam “fonemik” diamati sebagai fonem. Walaupun demikian, tulisan atau bahasa tulis juga merupakan bahasa karena tulisan adalah hasil “rekaman” (meminjam istilah Chaer) dari bahasa lisan itu sendiri, tetapi bahasa tulis ini hanya bersifat sekunder.Terakhir, penulis mengutip pendapat Abdul Chaer tentang definisi bahasa secara lengkap.Beliau mengatakan bahwa bahasa itu adalah sistem lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, bersifat arbitrer, bermakna, dan produktif.

Daftar Pustaka

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

————. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Mahmudah. 2012. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Makassar: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar.

Patombongi, Andi Wardihan. 2010. Pengantar Linguistik. Makassar: Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar.

nursinar (085104125) tugas keempat

APAKAH ORANG TUNAWICARA KETIKA IA MASIH BAYI JUGA MENANGIS?

Jawaban:

Menurut saya,orang tunawicara ketika ia masih bayi juga menangis tetapi dengan ekspresi yang bebeda dengan orang normal. setiap bayi yang ketika lahir akan menangis, bahkan orang tunawicara sekalipun ketika ia masih bayi juga menangis. Hal itu dikarenakan menangis yang menurut Aitchison (1984) merupakan tahap awal dalam perkembangan bahasa anak merupakan suatu hal yang bersifat universal. Itulah sebabnya, banyak para ahli yang menyebutkan bahwa menangis tidak termasuk dalam tahap perkembangan bahasa anak karena bersifat universal. Sehingga terdapat dua pendapat yang mengategorikan menangis termasuk dalam tahap perkembangan bahasa anak dan juga tidak termasuk dalam tahap perkembangan bahasa anak.

nursinar (085104125) tugas ketiga

PENERAPAN TEORI BEHAVIORISME DAN KOGNITIF DALAM PROSES PEMBELAJRAN BAHASA

Perkembangan teori pemerolehan bahasa telah dipengaruhi oleh perkembangan psikologi Omega (dalam Yulianto, 2007: 10-11). Dalam psikologi terdapat dua aliran yang prinsip dasarnya bertentangan, yakni behaviorisme dan kognitivisme. Kedua aliran tersebut ikut memengaruhi para ahli pembelajaran bahasa dalam memandang bagaimana seorang anak manusia belajar bahasa. 1. Teori Behaviorisme Menurut teori behaviorisme kegiatan berbahasa dipengaruhi oleh aliran psikologi behaviorisme yang merupakan rangkaian rangsangan (stimulus) dan tanggapan (respon). Menurut pandangan ini berbahasa dianggap sebagai bagian dari perilaku manusia, seperti perilaku yang lain. Oleh karena itu, pembelajaran harus dilakukan melalui rangsangan-rangsangan. Pembelajar dalam hal ini dianggap sebagai mesin yang memproduksi bahasa dengan lingkungan dianggap sebagai faktor penentunya, yakni sebagai rangsangan. Untuk itu, agar anak dapat mengucapkan kata-kata tertentu, kepadanya harus diberikan rangsangan berupa kata-kata. Menurut konsep ini anak tidak dapat mengucapkan kata-kata yang belum pernah didengarnya. Baraja (1990:31) mengemukakan bahwa perilaku kebahasaan sama dengan perilaku yang lain, yaitu dikontrol oleh konsekuensinya. Apabila hasil suatu usaha menyenangkan, perilaku itu akan terus dikerjakan; dan sebaliknya, bila hasilnya tidak menguntungkan, perilaku tersebut akan ditinggalkan. Inilah yang dikatakan belajar, sebab inti belajar adalah adanya perubahan perilaku. Contoh: Ketika sebuah keluarga hidup dalam lingkungan yang berbahasa Makassar, maka orang tua yang menginginkan anaknya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan memberikan stimulus dengan mengatakan, “Jika Naya (nama anak) berbahasa Indonesia yang baik dan benar, maka ibu akan memberikan coklat. Dengan stimulus tersebut, maka si anak akan merespon dengan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Tetapi, dalam hal ini stimulus-stimulus tersebut harus diberikan berulang-ulang agar terjadi penguatan respon dari si anak. 2. Teori Kognitif Noam Chomsky adalah seorang linguistik yang menganut paham kognitif. Menurut beliau anak-anak dilahirkan dengan alat pemerolehan bahasa yang dikenal sebagai LAD (Language Acquisition Devise) yang sewaktu dalam lingkungan umur tiga tahun, anak-anak sudah boleh bercakap dengan menggunakan tata bahasa transformasi-generatif yaitu kebolehan (performansi) anak-anak membentuk dan memanipulasi bahasa yang tidak dipelajarinya secara formal. Kebolehan itu “dipelajari” anak-anak melalui komunikasi lisan dengan orang dewasa. Chomsky telah membedakan antara “kebolehan bahasa (performansi)” dengan “pengetahuan bahasa (kompetensi)”. Menurutnya, kebolehan bahasa yaitu kebolehan anak-anak menggunakan bahasa. Sedangkan pengetahuan bahasa yaitu pengetahuan anak-anak tentang bahasa, yaitu tentang bentuk bahasa, sistem makna dan sistem bunyi yang didengar dalam bahasa yang digunakannya. Pengetahuan tersebut tidak diajar secara formal tetapi ditiru, dipelajari dan dipahami dengan cara mendengar dan bertutur. Nah, cara belajar bahasa (ditiru, dipelajari dan dipahami) tersebut tidak dilakukan anak-anak secara sadar, tetapi, di bawah sadar dan dengan menggunakan akal pikirannya, seseorang dapat memanipulasi bahasanya dengan kaidah-kaidah yang telah dipahaminya.

nursinar 085104125

Penerapan Teori-Teori Pembelajaran Psikolinguistik dalam Pembelajaran Bahasa

A.   Teori – Teori Stimulus – Respon

1.      Teori Ivan Petrovic Pavlov

Berdasarkan eksperimen dengan menggunakan anjing, Pavlov menyimpulkan bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu harus dilakukan secara berulang-ulang dengan melakukan pengkondisian tertentu. Pengkondisian itu adalah dengan melakukan semacam pancingan dengan sesuatu yang dapat menumbuhkan tingkah laku itu. Hal ini dikarenakan classical conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut. Berdasarkan eksperimen tersebut, semakin jelaslah bahwa belajar adalah perubahan yang di tandai dengan adanya hubungan antara stimulus dan respon. Kesimpulan yang dapat kita ambil dari eksperimen pavlov ialah apabila stimulus yang diadakan (CS) selalu di sertai dengan stimulus penguat (UCS), Stimulus tadi (CS) cepat atau lambat ahlinya akan menimbulkan respon atau perubahan yang kita kehendaki yang dalam hal ini (CR). Proses belajar yang berlangsung dalam eksperimen Pavlov itu tunduk kepada dua macam hukum yang berbeda yakni low of respondent conditioning dan low of responden extinction.

2.      Teori  Asosiasi Edward Lee Throndike

Thorndike berpendapat bahwa yang menjadi dasar belajar itu ialah asosiasi antara kesan pancaindera (sense impresion) dengan implus untuk bertindak (impulse to action). Menurut teori ini belajar adalah proses pembentukan asosiasi antara yang sudah diketahui dengan yang baru.

Proses belajar mengikuti tiga hukum, yaitu hukum kesiapan, latiahn, dan hukum efek. Hukum kesiapan (law of readness), merupakan aktivitas belajar yang dapat langsung efektif dan efisien bila subyek telah memiliki kesiapan belajar. Hukum latihan (law of exercise), merupakan koneksi antara kondisi dan tindakan yang akan menjadi lebih kuat bila ada latihan. Hukum Efek (law of effect ), menyatakan bahwa aktifitas belajar yang memberi efek menyenangkan akan terjadi sebaliknya.

Ketiga hukum tersebut, dikenal adanya transfer training. Konsep transfer training bertolak dari teori unsur identik yang menyatakan bahwa hasil latihan pada sesuatu kecakapan dapat di transfer pada kecakapan lain bila banyak mengandung unsur identik. Adapun hukum-hukum yang dikemukakan oleh Thorndike itu, lebih dilengkapi dengan prinsip-prinsip, sebagai berikut: 1. Siswa harus mampu membuat berbagai jawaban terhadap stimulus. 2. Belajar dibimbing/diarahkan ke suatu tingkat yang penting melalui sikap siswa itu sendiri. 3. Suatu jawaban yang telah dipelajari dengan baik dapat digunakan juga terhadap stimulus yang lain (bukan stimulus yang semula), yang oleh Thorndike disebut dengan “perubahan asosiatif”. 4. Jawaban-jawaban terhadap situasi-situasi baru dapat dibuat apabila siswa melihat adanya analog dengan situasi-situasi terdahulu. 5. Siswa dapat mereaksi secara selektif terhadap faktor-faktor yang esensial di dalam situasi itu.

3.      Teori Behaviorisme dari John Brodes Watson

Menurut Watson, stimulus yang diberikan secara terus-menerus dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan perubahan perilaku individu. Ada empat syarat terjadinya proses belajar dalam pola hubungan S-R, yaitu dorongan, stimulus, respon, dan penguatan.  Contoh penerapan teori ini yaitu dengan memberikan dorongan belajar terus menerus berupa stimulus hingga memperoleh respon yang diinginkan lalu dilakukan penguatan berupa pembiasaan.

4.      Teori Kesegaran dari Edwin Guthrie

Guthri menyatakan bahwa dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Hukuman berperan penting dalam proses belajar. Contoh penerapannya yaitu dengan pemberian hukuman, jika anak didiknya tidak mengerjakan tugas maka akan diberikan hukuman berupa tugas tambahan dan jika hasil pekerjaannya baik maka diberikan hadiah atau penghargaan.

5.      Burrhus Frederic Skinner

Skinner menganggap reward dan reinforcement merupakan faktor penting dalam belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal, mengontrol tingkah laku. Pada teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. Operant conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operant yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan. Operant conditing menjamin respon terhadap stimuli. Bila tidak menunjukkan stimuli maka guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan tingkah lakunya. Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa dalam proses belajar sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.

B.   Teori – Teori kognitif

1.       Teori Behaviorisme Purposif oleh Tolman

Tolman menyatakan bahwa pembelajaran akan lebih efektif apabila pelajar mampu mengarahkan perilaku belajarnya ke tujuan tersebut. Contoh penerapannya yaitu siswa yang akan mempelajari suatu pelajaran harus terlebih dahulu mencaritahu apa yang akan dipelajarinya dengan cara membaca buku-buku yang berhubungan dengan pelajaran tersebut agar dalam belajar siswa tersebut akan lebih muda memahami apa yang diajarkan.

  1. Teori Medan Gestalt dari Weithermeir

Weithermeir menyatakan bahwa pembelajaran merupakan suatu fenomena yang bersifat kognitif yang melibatkan persepsi terhadap suatu benda, orang atau peristiwa dalam cara-cara yang lain. Contohnya yaitu jika seorang bayi mengeluarkan suara maka kita sebagai orang dewasa dapat mengerti apa yang diinginkan bayi tersebut.

  1. Teori Medan dari Lewin

Lewin menerapkan konsep penghidupan yang terdiri atas diri sendiri dan lingkungan perilaku orang lain. Contohnya yaitu siswa yang memiliki teman dari daerah berbeda maka siswa tersebut akan mempelajari bahasa temannya tersebut akan tetapi tetap menggunakan B1-nya jika berada di lingungan keluarganya.

4.      Teori Pengembangan Kognitif oleh Piaget

Peaget menyatakan bahwa proses belajar terdiri atas tiga, yaitu asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi. Contohnya yaitu siswa yang mempelajari bahasa temannya yang berasal dari daerah lain dan menghubungkan B1-nya dengan bahasa temannya tersebut maka ia akan menyesuaikan dirinya dengan B1 temannya tersebut dan barusaha mengembangkan hal baru dari  apa yang dipelajarinay tersebut.

5.      Teori Genetik oleh Chomsky

Chomsky menyatakan bahwa otak manusia telah dilengkapi dengan struktur bahasa universal yang disebut LAD (language acquisition device). Contohnya yaitu seorang anak yang belajar B2 akan lebih mudah memahami dengan menirukan ucapan orang-orang karena dalam otaknya telah dilengkapi oleh LAD.

NURMALASARI, 105104081

Penerapan Teori-Teori Pembelajaran Psikolinguistik dalam Pembelajaran Bahasa

A.   Teori – Teori Stimulus – Respon

1.      Teori Ivan Petrovic Pavlov

Berdasarkan eksperimen dengan menggunakan anjing, Pavlov menyimpulkan bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu harus dilakukan secara berulang-ulang dengan melakukan pengkondisian tertentu. Pengkondisian itu adalah dengan melakukan semacam pancingan dengan sesuatu yang dapat menumbuhkan tingkah laku itu. Hal ini dikarenakan classical conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut. Berdasarkan eksperimen tersebut, semakin jelaslah bahwa belajar adalah perubahan yang di tandai dengan adanya hubungan antara stimulus dan respon. Kesimpulan yang dapat kita ambil dari eksperimen pavlov ialah apabila stimulus yang diadakan (CS) selalu di sertai dengan stimulus penguat (UCS), Stimulus tadi (CS) cepat atau lambat ahlinya akan menimbulkan respon atau perubahan yang kita kehendaki yang dalam hal ini (CR). Proses belajar yang berlangsung dalam eksperimen Pavlov itu tunduk kepada dua macam hukum yang berbeda yakni low of respondent conditioning dan low of responden extinction.

2.      Teori  Asosiasi Edward Lee Throndike

Thorndike berpendapat bahwa yang menjadi dasar belajar itu ialah asosiasi antara kesan pancaindera (sense impresion) dengan implus untuk bertindak (impulse to action). Menurut teori ini belajar adalah proses pembentukan asosiasi antara yang sudah diketahui dengan yang baru.

Proses belajar mengikuti tiga hukum, yaitu hukum kesiapan, latiahn, dan hukum efek. Hukum kesiapan (law of readness), merupakan aktivitas belajar yang dapat langsung efektif dan efisien bila subyek telah memiliki kesiapan belajar. Hukum latihan (law of exercise), merupakan koneksi antara kondisi dan tindakan yang akan menjadi lebih kuat bila ada latihan. Hukum Efek (law of effect ), menyatakan bahwa aktifitas belajar yang memberi efek menyenangkan akan terjadi sebaliknya.

Ketiga hukum tersebut, dikenal adanya transfer training. Konsep transfer training bertolak dari teori unsur identik yang menyatakan bahwa hasil latihan pada sesuatu kecakapan dapat di transfer pada kecakapan lain bila banyak mengandung unsur identik. Adapun hukum-hukum yang dikemukakan oleh Thorndike itu, lebih dilengkapi dengan prinsip-prinsip, sebagai berikut: 1. Siswa harus mampu membuat berbagai jawaban terhadap stimulus. 2. Belajar dibimbing/diarahkan ke suatu tingkat yang penting melalui sikap siswa itu sendiri. 3. Suatu jawaban yang telah dipelajari dengan baik dapat digunakan juga terhadap stimulus yang lain (bukan stimulus yang semula), yang oleh Thorndike disebut dengan “perubahan asosiatif”. 4. Jawaban-jawaban terhadap situasi-situasi baru dapat dibuat apabila siswa melihat adanya analog dengan situasi-situasi terdahulu. 5. Siswa dapat mereaksi secara selektif terhadap faktor-faktor yang esensial di dalam situasi itu.

3.      Teori Behaviorisme dari John Brodes Watson

Menurut Watson, stimulus yang diberikan secara terus-menerus dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan perubahan perilaku individu. Ada empat syarat terjadinya proses belajar dalam pola hubungan S-R, yaitu dorongan, stimulus, respon, dan penguatan.  Contoh penerapan teori ini yaitu dengan memberikan dorongan belajar terus menerus berupa stimulus hingga memperoleh respon yang diinginkan lalu dilakukan penguatan berupa pembiasaan.

4.      Teori Kesegaran dari Edwin Guthrie

Guthri menyatakan bahwa dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Hukuman berperan penting dalam proses belajar. Contoh penerapannya yaitu dengan pemberian hukuman, jika anak didiknya tidak mengerjakan tugas maka akan diberikan hukuman berupa tugas tambahan dan jika hasil pekerjaannya baik maka diberikan hadiah atau penghargaan.

5.      Burrhus Frederic Skinner

Skinner menganggap reward dan reinforcement merupakan faktor penting dalam belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal, mengontrol tingkah laku. Pada teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. Operant conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operant yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan. Operant conditing menjamin respon terhadap stimuli. Bila tidak menunjukkan stimuli maka guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan tingkah lakunya. Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa dalam proses belajar sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.

B.   Teori – Teori kognitif

1.       Teori Behaviorisme Purposif oleh Tolman

Tolman menyatakan bahwa pembelajaran akan lebih efektif apabila pelajar mampu mengarahkan perilaku belajarnya ke tujuan tersebut. Contoh penerapannya yaitu siswa yang akan mempelajari suatu pelajaran harus terlebih dahulu mencaritahu apa yang akan dipelajarinya dengan cara membaca buku-buku yang berhubungan dengan pelajaran tersebut agar dalam belajar siswa tersebut akan lebih muda memahami apa yang diajarkan.

  1. Teori Medan Gestalt dari Weithermeir

Weithermeir menyatakan bahwa pembelajaran merupakan suatu fenomena yang bersifat kognitif yang melibatkan persepsi terhadap suatu benda, orang atau peristiwa dalam cara-cara yang lain. Contohnya yaitu jika seorang bayi mengeluarkan suara maka kita sebagai orang dewasa dapat mengerti apa yang diinginkan bayi tersebut.

  1. Teori Medan dari Lewin

Lewin menerapkan konsep penghidupan yang terdiri atas diri sendiri dan lingkungan perilaku orang lain. Contohnya yaitu siswa yang memiliki teman dari daerah berbeda maka siswa tersebut akan mempelajari bahasa temannya tersebut akan tetapi tetap menggunakan B1-nya jika berada di lingungan keluarganya.

4.      Teori Pengembangan Kognitif oleh Piaget

Peaget menyatakan bahwa proses belajar terdiri atas tiga, yaitu asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi. Contohnya yaitu siswa yang mempelajari bahasa temannya yang berasal dari daerah lain dan menghubungkan B1-nya dengan bahasa temannya tersebut maka ia akan menyesuaikan dirinya dengan B1 temannya tersebut dan barusaha mengembangkan hal baru dari  apa yang dipelajarinay tersebut.

5.      Teori Genetik oleh Chomsky

Chomsky menyatakan bahwa otak manusia telah dilengkapi dengan struktur bahasa universal yang disebut LAD (language acquisition device). Contohnya yaitu seorang anak yang belajar B2 akan lebih mudah memahami dengan menirukan ucapan orang-orang karena dalam otaknya telah dilengkapi oleh LAD.